KUTAI TIMUR – Desa Bukit Makmur di Kecamatan Kaliorang memiliki potensi besar di sektor pertanian sayur-mayur, namun terkendala belum tersedianya pasar yang memadai untuk menampung hasil produksi petani. Kepala Desa Bukit Makmur, Adventus Eko P Lenama, mengakui bahwa ketiadaan pasar lokal memaksa petani menjual hasil panen ke kecamatan lain.
“Saya punya petani sayur yang banyak, tapi saya belum bisa menyiapkan pasar bagi mereka, sehingga banyak dari mereka menjual ke kecamatan lain yang siap menampung dalam jumlah banyak,” ungkap Kepala Desa yang dikenal sangat fokus dalam mengembangkan potensi ekonomi dan pariwisata di Kecamatan Kaliorang ini, Minggu (16/11/2025).
Dari data yang dimiliki oleh desa, menunjukkan terdapat sekitar 15 hingga 20 kepala keluarga yang berprofesi sebagai petani sayur di Desa Bukit Makmur. Pendapatan yang diperoleh dari sektor pertanian sayur cukup menjanjikan, mencapai lebih dari Rp5 juta per bulan per kepala keluarga.
Desa Bukit Makmur yang berada di wilayah pegunungan dan perbukitan memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang sangat baik. Selain padi, masyarakat juga mengembangkan jagung, pisang, dan berbagai jenis sayur-sayuran.
Untuk mengatasi permasalahan akses pasar, pemerintah desa berencana membangun sistem pemasaran sendiri dengan memanfaatkan dana ketahanan pangan dari dana desa. “Tahun ini saya akan membangun sayur-sayuran dalam jumlah besar dan menjadi pasar untuk petani-petani yang ada. Nanti dari desa, kami yang akan distribusikan, entah ke Sangatta, kabupaten, atau ke perusahaan-perusahaan yang ada di sekitar,” jelas Kepala Desa.
Konsep yang akan dikembangkan adalah desa sebagai aggregator yang akan menampung hasil pertanian dari petani lokal untuk kemudian didistribusikan ke berbagai pasar. Pemerintah desa memanfaatkan dana ketahanan pangan untuk modal awal menampung hasil pertanian petani.
Kepala Desa juga menyinggung potensi kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang ada di wilayah Kaliorang. “Harusnya bisa bekerja sama dengan perusahaan. Ada banyak perusahaan di Kaliorang yang bisa menjadi pasar untuk produk pertanian kami,” ujarnya.
Saat ini, dukungan untuk petani dari pemerintah desa masih terbatas pada pembukaan dan peningkatan badan jalan menuju lahan pertanian. Sementara dari pemerintah kabupaten melalui Dinas Pertanian, bantuan berupa peralatan alat dan mesin pertanian (Asintan) serta bibit telah diberikan. Edukasi pertanian juga rutin dilakukan melalui Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang aktif memberikan pendampingan kepada petani. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

