KUTAI TIMUR – Kajian studi kelayakan operasional bus listrik untuk pelajar di Kabupaten Kutai Timur menetapkan empat aspek utama sebagai fokus penelitian. Hal ini bertujuan untuk memastikan program transportasi ramah lingkungan ini dapat berjalan optimal dan berkelanjutan.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kutim, Juliansyah, menjelaskan keempat aspek kajian tersebut meliputi kebutuhan dan teknis, operasional dan sosial, ekonomi dan kelembagaan, serta lingkungan dan regulasi. “Keempat aspek ini saling terkait dan menjadi penentu keberhasilan implementasi bus listrik sekolah,” kata Juliansyah, Jum’at (14/11/2025) sore.
Pada aspek kebutuhan dan teknis, Juliansyah menyebutkan kajian akan menilai armada, rute, dan charging station. Untuk aspek operasional dan sosial, kajian akan menganalisis jadwal operasional, kapasitas angkut, kebutuhan SDM, serta persepsi dan partisipasi masyarakat.
“Kami akan mengidentifikasi berapa jumlah bus yang dibutuhkan, rute mana yang paling efektif, dan di mana saja charging station perlu dibangun. Kesiapan masyarakat sangat penting. Kami perlu tahu bagaimana tanggapan orangtua dan pelajar terhadap program ini,” ujarnya.
Aspek ekonomi dan kelembagaan akan mengkaji investasi yang dibutuhkan dan sumber dana yang tersedia. “Kami harus realistis dengan anggaran yang ada. Kajian ini akan membantu kami menyusun skema pembiayaan yang sustainable,” kata Juliansyah.
Sementara itu, aspek lingkungan dan regulasi akan mengevaluasi emisi yang dapat dikurangi, efisiensi energi, serta legalitas dan tata kelola program. Bus listrik, sebutnya, adalah bagian dari upaya transisi energi bersih. Namun sebelum hal tersebut dilaksanakan, BRIDA ingin memastikan dampak positifnya terhadap lingkungan dapat terukur.
Juliansyah menegaskan, kajian komprehensif ini penting dilakukan sebelum implementasi program. “Belum ada dasar analisis kelayakan teknis, sosial, dan ekonomi yang kuat. Kajian ini akan menjadi fondasi pengambilan keputusan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tantangan yang perlu dijawab melalui kajian ini meliputi jumlah dan jenis armada optimal, infrastruktur pengisian daya, persepsi dan kesiapan masyarakat, serta skema pembiayaan berkelanjutan.
“Hasil kajian ini akan memberikan manfaat bagi berbagai pihak. Bagi Pemda, ini menjadi dasar objektif perencanaan dan kebijakan. Bagi masyarakat, mereka akan mendapat partisipasi dan akses transportasi yang aman dan gratis. Bagi sektor pendidikan, ini membantu mengurangi hambatan non-akademik,” papar Juliansyah.
Menurutnya, kajian juga bermanfaat bagi proses anggaran karena memberikan proyeksi biaya investasi dan operasional yang jelas. “Kami berharap kajian ini dapat terlaksana dengan baik dan memberikan rekomendasi yang implementatif untuk kemajuan pendidikan dan lingkungan di Kutai Timur,” pungkasnya. (Adv-Kominfo/Q)
![]()

