BONTANG – Pemerintah Kota Bontang mencatat realisasi investasi sebesar Rp484,98 miliar pada Triwulan I tahun 2025. Angka ini merepresentasikan 19,4 persen dari target tahunan sebesar Rp2,5 triliun yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.
Kepala Bidang Penanaman Modal DPMPTSP Bontang, Karel, menjelaskan bahwa mayoritas investasi berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp478,56 miliar. Sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp6,41 miliar.
“Tren investasi di awal tahun ini menunjukkan arah yang positif. Kami optimistis realisasi hingga akhir tahun bisa mencapai atau bahkan melampaui target,” ujarnya, Senin (9/6/2025).
Sektor industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi menjadi motor utama pertumbuhan investasi, dengan nilai mencapai Rp333,53 miliar atau setara 69,69 persen dari total PMDN. Wilayah Bontang Utara menjadi pusat aktivitas investasi, menyerap hingga Rp465,57 miliar atau sekitar 96 persen dari total nilai investasi.
Selain industri kimia, sektor perdagangan dan reparasi turut menyumbang Rp76 miliar, disusul oleh sektor jasa lainnya sebesar Rp27,51 miliar, sektor perumahan dan perkantoran Rp12,49 miliar, serta industri logam dasar dan barang logam Rp8,93 miliar.
Untuk PMA, kontribusi terbesar berasal dari industri makanan sebesar Rp5,92 miliar atau 92,3 persen. Sektor hotel dan restoran menyumbang Rp327 juta, sedangkan industri kimia dasar dan farmasi mencatatkan Rp167 juta. PMA umumnya terkonsentrasi di Bontang Selatan, khususnya melalui industri pengolahan minyak kelapa sawit di kawasan Segendis.
Meski menunjukkan progres menggembirakan dari sisi nilai investasi, Karel juga menyoroti pentingnya penguatan pelaporan. Ia mencatat bahwa tingkat kepatuhan perusahaan dalam menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) masih perlu ditingkatkan. Dari 198 NIB non-UMK yang terdaftar, hanya 77 perusahaan yang melapor tepat waktu.
“Peningkatan pelaporan LKPM menjadi fokus kami agar pengawasan dan akuntabilitas investasi di Bontang semakin terjaga,” terang dia.
Dengan komposisi sektor yang kuat dan dukungan infrastruktur di kawasan industri, pihaknya optimistis dapat menjaga iklim investasi tetap kondusif hingga akhir tahun.
“Kami juga terus mendorong perusahaan agar memanfaatkan sistem OSS untuk mempermudah proses perizinan dan pelaporan,” tutupnya. (Adv/NU)
![]()

