KUTAI TIMUR – Ketergantungan terhadap pasokan bahan pangan dari luar daerah masih menjadi tantangan serius bagi perekonomian Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Kondisi ini berkontribusi signifikan terhadap tingkat inflasi di wilayah tersebut.
Kadisperindag Kutim, Nora Ramadani melalui Pengawas Perdagangan Dalam Negeri Bidang Perdagangan Disperindag Kutim, Doni Efriady, menjelaskan bahwa hampir seluruh kebutuhan bahan pokok masyarakat Kutim masih mengandalkan pasokan dari luar daerah.
“Penyebab utama inflasi di wilayah kami adalah ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. Meski ada produksi beras lokal di beberapa kecamatan seperti Kaubun, Sangkulirang, dan Kaliorang, jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Sebagian besar barang kebutuhan pokok harus didatangkan dari Sulawesi,” ujarnya.
Doni menambahkan, kondisi geografis dan jalur distribusi yang panjang turut mempengaruhi tingginya harga komoditas pangan di Kutim. Biaya transportasi dan rantai distribusi yang panjang mengakibatkan harga barang menjadi lebih mahal saat sampai ke konsumen.
“Ketika terjadi gangguan distribusi, misalnya cuaca buruk atau kenaikan harga BBM, dampaknya langsung terasa pada harga-harga di pasaran. Ini yang membuat inflasi di daerah kami cukup sensitif,” jelasnya.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Disperindag Kutim berencana mengambil beberapa langkah strategis. Di antaranya mendorong peningkatan produksi pangan lokal, memperkuat koordinasi dengan daerah pemasok, serta mengoptimalkan pengawasan distribusi dan harga di pasaran.
“Kami terus berupaya mendorong kemandirian pangan dengan meningkatkan produksi lokal. Selain itu, pengawasan distribusi dan harga juga akan diperketat untuk menjaga stabilitas harga di pasaran,” tegasnya. (Q/Adv-Kominfo)
![]()

