KUTAI TIMUR – Meski upaya penertiban kendaraan overload (ODOL) telah dilakukan, tantangan besar tetap menghantui Kutai Timur. Kendaraan berat masih terlihat berseliweran di jalan-jalan kota, terutama pada malam hari, dengan beberapa di antaranya mendapat pengawalan khusus untuk melintasi area yang biasanya tertutup untuk kendaraan besar.
Anggota Komisi A (Bidang Pemerintahan) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Timur, Novel Tyty Paembonan, dalam wawancaranya mengungkapkan kekhawatirannya terhadap keselamatan dan kondisi jalan di kota ini, Senin (05/08/2024).
“Kendaraan dengan tonase berlebih sering melintasi jalan yang tidak dirancang untuk menahan beban tersebut. Ini jelas melanggar aturan dan meningkatkan risiko kecelakaan,” tegasnya. Ia juga mengingatkan kembali insiden tragis beberapa waktu lalu di depan Hotel, di mana kecelakaan melibatkan truk tronton mengakibatkan korban jiwa.
Kendati ada usaha untuk mengatur parkir kendaraan berat di Kilometer 3 dan membatasi akses pada jam-jam tertentu, efektivitas langkah-langkah ini masih diragukan.
“Kami perlu tindakan yang lebih tegas dari pemerintah, termasuk pengaturan waktu lalu lintas dan pengawasan yang ketat,” lanjutnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Ketua DPRD menekankan pentingnya pembangunan Outer Ringroad. Jalan ini direncanakan akan menghubungkan terminal dengan Simpang Bengalon dan diharapkan bisa mengalihkan kendaraan berat dari jalan-jalan utama kota.
“Dengan adanya Outer Ringroad, kendaraan berat tidak perlu lagi memasuki kota, sehingga mengurangi potensi kerusakan jalan dan meningkatkan keselamatan,” jelasnya.
Dinas Perhubungan diharapkan untuk segera menerapkan solusi yang efektif dan memastikan kepatuhan tonase kendaraan. Langkah-langkah ini sangat penting untuk menjaga keamanan dan kualitas infrastruktur jalan di Kutai Timur.
“Kalau kelas jalan itu dilalui oleh tonase yang sudah tidak sesuai itu kan sudah menyalahkan,” pungkasnya.(Adv-DPRD/RH)
![]()

