KUTAI TIMUR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah fokus untuk menuntaskan masalah sampah. Salah satunya adalah sampah organik. Kali ini DLH mulai kembangkan budidaya maggot dengan memanfaatkan sampah organik.
Berdasarkan data dari DLH, setidaknya di wilayah Kabupaten Kutai Timur ada 62 titik yang sudah mulai mengembangkan budidaya maggot.
Hal ini seperti yang dikatakan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur, Armin Nazar. Berdasarkan pantaun di lapangan, perkembangan budidaya maggot di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) sudah berjalan dan sampai saat ini masih terus dikembangkan.
“Setidaknya itu ada 62 titik dan saya memantau semuanya. Sudah berjalan dan kini masih terus dikembangkan,” katanya.
Armin menyebut, dengan melakukan budidaya maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) bisa menjadi salah satu solusi atas persoalan tumpukan sampah organik. Caranya, sampah dari pasar, selanjutnya dipilah dan dimasukan ke ember-ember tertutup, sehingga tidak terlalu menimbulkan bau. Setelah itu difermentasi hingga dua sampai tiga hari, kemudian diberikan untuk pakan maggot. Budidaya maggot tidak hanya memberi dampak positif dari sisi ekonomi, tetapi juga mampu mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah.
Budidaya manggot ini juga disambut baik oleh Pemkab Kutim, dalam hal ini DLH. Budidaya maggot mampu mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah, sehingga hal itu menarik sebagai salah satu upaya menyelamatkan bumi.
“Dengan melakukan budidaya maggot atau larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) bisa menjadi salah satu solusi atas persoalan tumpukan sampah organik. Caranya, sampah dari pasar, selanjutnya dipilah dan dimasukkan ke ember-ember tertutup, sehingga tidak terlalu menimbulkan bau. Setelah itu difermentasi dan dua sampai tiga hari kemudian diberikan untuk pakan maggot. Ini benar benar jadi solusi dan salah satu upaya untuk menyelamatkan bumi,” ucapnya.
Lebih lanjut Armin mencontohkan, saat ini
Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Prima Sangatta Eco Waste yang dibangun PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melalui anak usaha PT Kaltim Prima Coal (KPC) sudah mulai membudiyakan maggot.
Hal ini bermula saat jumlah sampah organik yang diserap TPST melimpah, maka terdapat potensi manfaat lain yakni pengembangan budidaya larva maggot dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) atau Hermetia Illucens). Hal ini untuk membantu penyerapan sampah organik yang jumlahnya sangat besar di wilayah Kabupaten Kutim.
Budidaya maggot ini memiliki manfaat untuk pakan ternak. Selain mengurangi beban TPST dalam pengolahan sampah organik, juga memberikan manfaat bagi pengembangan kualitas ternak di Kutim, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. (Ty/Adv-kominfo)
![]()

