KUTAI TIMUR – Anggota DPRD Kutim, Apansyah, akhirnya angkat bicara terkait menurunnya jumlah peminat calon mahasiswa yang mendaftar di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER). Hal itu bisa dilihat dari jumlah pendaftar yang semakin berkurang setiap tahunnya.
“Kita harus kembali ke niat awal. Tujuan berdirinya STIPER ini kan untuk mendukung program pembangunan Kutim, khususnya di bidang agribisnis, namun saya lihat mereka (pemerintah) tidak serius untuk menyelesaikan permasalahan yang ada ini,” ujarnya mengawali obrolan.
Permasalahan yang dimaksud politisi dari Partai Berkarya ini menyebut, diantaranya terkait pembiayaan sekolah yang berada di Jalan Soekarno Hatta yang hingga saat ini masih menjadi persoalan yang tidak kunjung usai. Menurutnya, dengan dukungan anggaran yang dimiliki saat ini oleh daerah, tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak memberikan perhatian lebih kepada STIPER.
“Belum lagi adanya dana CSR dari perusahaan yang juga bisa menopang pembiyaan dan operasional STIPER,” ucap Apansyah yang diketahui juga sebagai alumni STIPER jurusan Teknik Pertanian ini.
Selain itu, pemerintah juga mempunyai kewajiban untuk mengalokasikan anggaran untuk bidang pendidikan sebesar 20 persen dari total anggaran yang dimiliki. Tahun ini, diperkirakan pendapatan Kutim bisa tembus di angka Rp6 triliun. Untuk itu, pihaknya mendesak agar pemerintah bisa secara serius menyelesaikan permasalahan tersebut.
“Karena orientasi awal berdirinya STIPER ini kan bagaimana timbal balik untuk Kutai Timur. Tapi bagaimana mau timbal balik kalau mereka aja kesulitan, para pengurus dan Dosen kan juga perlu makan,” pungkasnya.(TJ/Adv-DPRD).
![]()

