KUTAI TIMUR – Upaya penghijauan untuk menanggulangi banjir dan mengembalikan ekosistem yang sedang berlangsung di Kabupaten Kutai Timur memang belum menunjukan hasil. Karena, membutuhkan waktu yang lama dan panjang untuk mengetahui sejauh mana dampak positif dari pelaksanaan penghijauan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur, Armin, mengungkapkan, berdasarkan data yang berhasil dihimpun selama periode tahun 2020-2021, pihaknya sudah melakukan proses penanaman tanaman di lahan seluas 14 ribu hektar. Itupun juga tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Kutai Timur.

“Total yang sudah kita tanam selama tahun 2020-2021 seluas 14 hektar. Itu juga merata ke semua wilayah yang ada di Kabupaten Kutai Timur,” ungkap dia.

Menurut Armin, sedangkan untuk data lahan yang sudah ditanami selama tahun 2022 masih dalam proses pendataan. Namun, ia memastikan jumlah luasan lahannya meningkat drastis dibandingkan dengan dua tahun yang lalu.

Ia juga menyebut, di setiap lahan yang digunakan untuk program penghijauan ini tidak hanya ditanam dengan jenis tanaman hutan saja. Melainkan juga ditanam dengan tanaman produktif seperti biji-bijian serta buah-buahan.

Selama ini, prosentase penanaman di lahan penghijaun adalah 70 persennya ditanam tanaman hutan dan sisanya sebanyak 30 persen ditanami tanaman produktif. Hasilnya pun, bisa menggerakan perekonomian masyarakat sekitar. Sehingga ia berharap, dengan adanya hasil pertanian ini bisa menumbuhkan UMKM di sekitar lahan penghijauan.

“Jadi gak hanya ditanam tanaman hutan saja, tetapi juga ada tanaman produktif seperti biji-bijian dan buah-buahan. Hasilnya itu juga bisa menggerakan perekonomian masyarakat disana. Artinya kan bisa dijual lagi,” kata dia.

Ia menegaskan, program penghijauan ini akan terus dilakukan di Kabupaten Kutai Timur. Ia juga berharap hal ini bisa mendapat dukungan penuh dari semua OPD dan masyarakat.(Ty/Adv-Kominfo)

Loading