KUTAI TIMUR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) bekerja sama dengan sejumlah pihak untuk mencari masyarakat yang suspect penyakit Tuberculosis (TBC) atau masyarakat penderita TBC.

Dimana, hal ini untuk menindak lanjuti intruksi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) agar setiap Kabupaten/Kota mencari sebanyak-banyaknya masyarakat yang suspect atau penderita TBC.

Sebab, penyakit Tuberculosis atau TBC menjadi salah satu jenis penyakit yang menjadi perhatian di Indonesia bahkan di dunia. Sampai saat ini kasus TBC masih tinggi. Indonesia sendiri menduduki peringkat kedua, setelah India yang memiliki jumlah terbesar pengidap TBC di dunia. Dengan tingkat kesakitan, kematian dan jumlah penderitanya masih tinggi.

“Kami juga bekerja sama dengan pihak swasta dalam hal proses pencarian atau screening warga yang suspect atau menderita TBC. Karena kan penyakit ini jadi perhatian dunia dan Indonesia, dan ditargetkan tahun 2030 sudah eliminasi penyakit TBC,” ucap Kepala Bidang Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, Harwarti.

Kata Harwati, Dinkes bekerja sama dengan dokter swasta yang ada di Kabupaten Kutai Timur untuk melakukan screening terhadap karyawannya apakah ada yang suspect atau menderita TBC. Jika ditemukan, maka akan segera ditindak lanjuti oleh petugas medis dari Dinas Kesehatan.

Selain itu, ia bekerja sama dengan perkumpulan pemberantasan penyakit TBC untuk menjangkau komponen masyarakat tertentu. Mereka juga melakukan screening dan hasilnya disampaikan kepada Dinkes.

“Seperti dokter swasta, terus ada perkumpulan pemberantasan penyakit TBC. Kami meminta tolong mereka untuk melakukan screening dan hasilnya bisa disampaikan kepada kami,” katanya.

Sekedar diketahui, selama tahun 2019 yang lalu, Dinkes Kabupaten Kutim menemukan ada 6.628 warganya suspect TBC. Jumlah temuan memang cukup besar, karena penderita TBC bisa menularkan penyakit tersebut paling tidak kepada 15-20 orang. (Adv-Kominfo)

Loading