Dr. Hartono
(Sekretaris Majelis Ta’lim Al Ihsan, Muhtasyar MWC NU Muara Wahau, dan Ketua IKAPETE Cab. Kutai Timur)
Cerita dan warisan semangat silaturrahim yang diajarkan oleh Hadaratussyaikh KH. Hasyim As’yari terus diamalkan dan dilakukan oleh sang cucu yakni KH. Fahmi Amrullah Hadziq. Beliau tak pernah lelah dan terus berjalan nyambangi santri-santrinya diseluruh pelosok negeri ini, mulai pulau Sumatra, Sulawesi dan saat ini hadir di pulau Kalimantan Timur.
Perjalanan panjang untuk silaturrahim itu dawuh beliau akan terus dilakukan sebagai bagian dari cara meyehatkan diri, sebab dengan terus bersilaturrahim maka badan ini akan terus terasa sehat, imun juga setabil serta rasa bahagia dan senang akan terus hadir dalam diri ini.
Ditambahkan lagi jalan-jalan dipedalama Kaltim ternyata membuat siapa saja yang melewati akan selalu berdzikir-mengiangat_Nya, mengapa demikian karena masih banyaknya lobang sehingga orang yang melewati akan selalu terjaga dan mengucap istigfar dan tasbih karena terkejut dll.
Perihal silaturrahim tentu ini menjadi pesan bersama, pesan moral yang begitu dalam dan fundamental untuk kita lakukan bagi jamaah dan santri-santrinya.
Dalam safari dakwah beliau di Kalimantan Timur khususnya di Muara Wahau dan Kongbeng Kab. Kutai Timur, cucu pendiri Nahdatul Ulama’ telah menghadiri berbagai agenda pertemuan yang telah dijadwalkan oleh para alumni dan jamaah yang ada.
Pertama, pertemuan bersama IKAPETE (Ikatan Keluarga Alumni Ponpes Tebuireng) Cab. Kutai Timur bareng santri dan wali santri yang mondok di Ponpes Tebuireng Jombang dan sekitarnya.

Pada pertemuan tersebut tak lupa beliau memberikan pesan-pesan tentang pentingnya menjalin silaturrahim dan menuntut ilmu setinggin-tingginya sehingga alumni mampu mewarnai dalam kehidupan ini.
Beliau mencontohkan adalah KH. Ma’ruf Amin wakil Presiden saat ini merupakan salah satu alumni Tebuireng tambahnya. Selain itu dalam pertemuan yang sama beliaupun membuka ruang dialog bersama wali santri, sehingga ada rasa emosional yang terus terbangun dan sinambung keberkahan ilmu bener-benar dirasakan oleh semu yang hadir baik santrinya maupun oleh wali santri.
Tak lupa dalam bertemuan itu beliau mengijazahkan Istighosah milik Hadaratussyikh KH. Hasyim As’yari.
Kedua, pada hari berikutnya tepatnya minggu 28 Agustus 2022 beliau mengisi acara di Majelis Ta’lim Al Ihsan, dimana sebelmnya beliau juga memimpin Istighosah di Ponpes Alkhairat.
Dihadapan ribuan jamaah majelis ta’lim al ihsan baik tua, muda sampai anak-anak mereka semua begitu antusias mengikuti acara demi acara yang diselengarakan, padahal terpantau kondisi lokasi acara terasa gerimis mengundang.
Dalam tausiyahnya adapun pesan yang beliau sampaikan antara lain perihal sialturrahim, menuntut ilmu dan jangan lupa menegakan sholat 5 waktu. Imbuh Kiyai Fahmi perihal menegakan sholat harus benar-benar dijaga baik dhoirnya maupun batinya.
Jangan sampai pakaian yang kita pakai, makanan yang kita makan serta kesucian yang lainya dapat menghalangi ibadah kita, pun demikian soal batin kita juga harus terus diasah, terus dijaga, terus dibersihkan sehingga sholat kita bisa khusu’.
Sifat-sifat yang barangkali menghalangi kebersihan hati seperti angkuh, iri, hasut dan seterusnya pelan-pelan jika masih menghinggapi hati kita maka harus dihilangkan.
Beliaupun tak lupa menyampaikan contoh sosok Gus Dur dalam ceramanya, menurut beliau Gus Dur itu orang yang paling ikhlas, orang yang paling pemaaf terhadap siapapun sehingga ketika dicemooh, direndahkan Gus Dur tak pernah membalas dan malah memaafkanya.
Semoga diantara kita mampu meneladani figure Gus Dur dalam menjalani kehidupan ini pungkas beliau.
Ketiga, setelah acara di majelis ta’lim selesai pukul 11.30 maka jadual beliau bergeser mengisi ceramah sekaligus peresmian kantor MWC NU Muara Wahau.

Pesan yang tersirat adalah “sebagai warga NU kita semua musti cinta dan mau mengurusi NU, mengurusi NU tidak musti menjadi pengurus sebab dengan amaliya-amaliyah yang kita lestarikan seperti manaqiban, tahlilan, yasinan, maulidan dan seterusnya semua itu bagain dari cara menjaga tradisi NU yang diwariskan oleh Hadaratussyaikh KH. Hasyim As’yari”.
Pun demikian, sebab situasi global yang terus brgerak, pandangan serta aliran beraneka ragam bermunculan, pemahaman agama yang begitu varian maka sebagai warga Nahdatul Ulama’ tak boleh lengah dan juga panik dalam menjalankan amalaiyah NU.
Andaikan dinafikan, dicemooh sampai dibid’ahkan maka sampaikan saja pada mereka apa yang kita lakukan untuk mencintai Sang Nabi tak butuh dali, yang kami butuhkan hanya rasa cinta itu sendiri dan inilah cara kami mencintai pungkasnya.
Sebagai pamungkas dalam silaturrahim yang beliau telah jalankan maka adapun beberapa pesan terakhir.
“Jangan pernah meyepelekan silaturrahim yang sudah dicontohkan oleh para ulama terdahulu, kemudian sebagai santri dan jamaah pengajian semoga terus bisa mewarnai kehidupan ini dengan bekal ilmu dan akhlakul karimah”.
![]()

