MUARA TEWEH — Di kala air bah kerap menjadi tamu tak diundang yang mengintai dataran rendah, warga di berbagai sudut Kalimantan seakan dipaksa akrab dengan siasat bertahan hidup. Namun, alih-alih merobohkan bangunan dan membangun ulang dengan biaya yang menguras kantong, ada cara lain yang jauh lebih cerdik: mengangkat rumah atau setidaknya, membuatnya berdiri lebih tinggi dari permukaan air.

Inilah pemandangan yang terlihat di kawasan Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Melayu, Kecamatan Teweh Tengah. Di belakang Gerai Nasi Kuning Rifqi, sebuah rumah tampak sedang “melayang” secara perlahan. Di balik keajaiban kecil ini, ada tangan dingin seorang pria paruh baya bernama Haji Arni (50) dibantu rekan kerjanya lebih dari 10 orang.

Berasal jauh dari Desa Tambangan, Kecamatan Daha Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, Arni membawa keahlian unik yang kini menjadi tumpuan harapan warga. Bagi Arni, banjir musiman bukanlah alasan untuk menyerah, melainkan ladang pengabdian sekaligus ladang rezeki.

Menaikkan ketinggian rumah kini menjadi solusi paling rasional bagi warga dataran rendah, khususnya di Kelurahan Melayu yang kerap menjadi langganan banjir. Dibandingkan harus membongkar total dan membangun dari nol, mendongkrak rumah dinilai jauh lebih ekonomis dan efisien.

Dengan perhitungan yang sangat teliti perlahan dongkrak mulai mengangkat ketinggian rumah.

Rumah di belakang Gerai Nasi Kuning Rifqi tersebut adalah salah satu proyek yang tengah dikebut oleh Arni dan timnya. Targetnya tidak main-main: mengangkat bangunan utuh hingga setinggi 1 meter dari permukaan awal.

Rekan kerja Haji Arni sedang menyambung tongkat ulin seusai ketinggian yang diinginkan sudah tercapai.

Hebatnya, pekerjaan raksasa ini tidak memakan waktu bulanan. Menurut Haji Arni, durasi pengerjaan rata-rata hanya berkisar antara 13 hingga 15 hari saja. Untuk proyek pendongkrakan setinggi 1 meter ini, ia mematok biaya borongan sebesar Rp72 juta.

Kendati demikian, Arni memberikan keleluasaan bagi pemilik rumah yang ingin menambah tinggi bangunan. Hanya saja, penambahan tersebut menuntut kesiapan material khusus demi keamanan struktur, yakni kayu ulin.

“Kalau mau tambah naik lagi, tentu ada tambahan biaya karena harus disiapkan kayu ulin. Biaya tambahan per 25 cm sebesar Rp10 juta. Jika ingin menambah hingga 1 meter, biaya tambahannya Rp40 juta,” jelas Arni saat ditemui di lokasi proyek, Minggu (1/11/2026) pagi.

Bukan Sekadar Angkat Rumah Kayu, Rumah Beton Pun Bisa “Terbang”

Banyak yang mengira teknik dongkrak rumah hanya berlaku untuk bangunan kayu sederhana. Namun, Haji Arni membuktikan bahwa rumah beton berpondasi batu sekalipun dapat diselamatkan dari kepungan banjir.

Tentu saja, cara kerjanya jauh lebih menantang dan membutuhkan presisi tinggi.

“Itu ada teknik tersendiri untuk mengangkatnya. Harus digali hingga di bawah pondasi, baru dibuatkan dudukan sebagai landasan untuk mendongkraknya. Semua sisi harus rata, tidak boleh ada yang berbeda kemiringannya. Isi rumah tidak perlu dikosongkan, penghuni rumah tetap tinggal seperti biasa,” ujar Arni menegaskan, menunjukkan keahlian profesional yang ia miliki.

Di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang membuat banjir kian sering datang, keahlian Arni menjadi napas panjang bagi warga yang ingin tetap tenang di dalam rumah mereka sendiri tanpa dihantui banjir yang tiba-tiba datang.

Bagi warga yang memerlukan jasa “si tangan ajaib” ini untuk mengangkat hunian mereka ke tempat yang lebih aman dari jangkauan air, Arni membuka pintu komunikasi seluas-luasnya. Bagi yang membutuhkan jasanya, Arni dapat dihubungi melalui nomor WhatsApp di 0813-4952-3303.

“Telpon saja atau WA, nanti kita bicarakan biaya jasanya,” pungkas Arni ramah dengan dialek khas Banjar, menutup perbincangan sambil melanjutkan pekerjaannya.(mn)

Loading