SLEMAN – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah hingga saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Berdasarkan laporan periode pengamatan yang dibuat Alzwar Nurmanaji, A.Md pada 13 Agustus 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas guguran lava masih terus terjadi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Dr. Agus Budi Santoso, S.Si., melalui siaran persnya mencatat, secara visual gunung terlihat jelas dengan kondisi asap kawah nihil. Namun, aktivitas seismik menunjukkan adanya intensitas kegempaan yang cukup aktif.

Berdasarkan data pemantauan, tercatat sebanyak 19 kali gempa guguran dengan amplitudo 2-30 mm, 14 kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 2-24 mm, dan 3 kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 3-29 mm.

Dalam periode tersebut, teramati sebanyak 7 kali guguran lava mengarah ke sektor Barat Daya, yakni menuju alur Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak. Jarak luncur maksimum guguran lava tercatat mencapai 2.000 meter.

Rekomendasi dan Peringatan Dini

Pihak BPPTKG terus melakukan pemantauan dan meninjau kembali status aktivitas Merapi jika terjadi perubahan signifikan.

Masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi rekomendasi dari PVMBG. Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol sejauh 5 km.

“Masyarakat diminta untuk tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya.” pintunya.

Selain itu, warga di sekitar Gunung Merapi diminta untuk mewaspadai bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat terjadi hujan. “Antisipasi terhadap gangguan abu vulkanik juga perlu disiapkan mengingat suplai magma masih berlangsung yang berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran.” pungkasnya.(*/mn)

Loading