KAJIAN TEMATIK SURAT AL-MULK— Ayat 24

Oleh Masykur Sarmian


بسم الله الرحمن الرحيم

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

“Katakanlah, Dialah yang menjadikan kalian berkembang biak di bumi, dan hanya kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.”
—QS. Al-Mulk Ayat 24

Penjelasan Tematik

Pada ayat sebelumnya Allah mengingatkan manusia tentang nikmat pendengaran, penglihatan, dan hati.

Kini Allah mengingatkan manusia tentang keberadaannya di bumi dan akhir perjalanannya.

قُلْ هُوَ الَّذِي ذَرَأَكُمْ فِي الْأَرْضِ
“Katakanlah, Dialah yang menjadikan kalian berkembang biak di bumi.”

Kata dzara’akum mengandung makna menyebarkan, memperbanyak, dan mengembangbiakkan.

Manusia yang hari ini memenuhi berbagai penjuru bumi sesungguhnya berasal dari satu sumber yang sama.

Allah yang menyebarkan mereka.

Allah yang menentukan tempat kelahiran mereka.

Allah yang menentukan zaman kehidupan mereka.

Dan Allah pula yang mengatur perjalanan hidup mereka.

Manusia Hanyalah Musafir di Bumi

Ayat ini mengandung satu kesadaran penting :

bumi bukan tempat tinggal abadi.

Bumi adalah tempat persinggahan.

Manusia datang silih berganti.

Generasi demi generasi lahir.

Kemudian pergi.

Kerajaan berdiri. Lalu runtuh.

Bangsa-bangsa berjaya. Lalu menghilang.

Sedangkan bumi tetap menjadi saksi perjalanan manusia.

Karena itu Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak menganggap dunia sebagai tujuan akhir.

Dari Penyebaran Menuju Pengumpulan

Menariknya, ayat ini dimulai dengan penyebaran manusia dan diakhiri dengan pengumpulan manusia.

Awalnya manusia tersebar.

Berbeda bangsa. Berbeda bahasa. Berbeda warna kulit. Berbeda wilayah.

Namun pada akhirnya :

وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Dan kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.”

Semua perbedaan dunia akan berakhir.

Semua manusia akan berkumpul di hadapan Allah SWT.

Tidak ada lagi batas negara.

Tidak ada lagi gelar.

Tidak ada lagi status sosial.

Yang tersisa hanyalah amal dan pertanggungjawaban.

Ilusi Kepemilikan Dunia

Salah satu kesalahan manusia adalah menganggap bahwa apa yang ada di bumi benar-benar miliknya.

Padahal manusia hanya singgah sebentar.

Rumah yang dibangun akan ditinggalkan.

Jabatan yang diraih akan dilepaskan.

Harta yang dikumpulkan akan diwariskan.

Tubuh yang dirawat akan kembali menjadi tanah.

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia bukan pemilik bumi.

Ia hanyalah tamu yang diberi amanah selama beberapa waktu.

Kesadaran Akan Akhir Perjalanan

Dalam psikologi modern terdapat konsep mortality awareness yaitu kesadaran bahwa hidup memiliki batas dan suatu saat akan berakhir.

Penelitian menunjukkan bahwa orang yang memiliki kesadaran sehat terhadap kematian cenderung menjalani hidup dengan lebih bermakna dan lebih bijaksana dalam menentukan prioritas.

Al-Qur’an telah mengajarkan kesadaran ini sejak lebih dari empat belas abad yang lalu.

Bukan untuk menakut-nakuti manusia.

Tetapi agar manusia hidup dengan arah yang benar.

Mengapa Manusia Takut Memikirkan Akhirat ?

Banyak orang nyaman berbicara tentang masa depan dunia.

Tentang karier. Tentang investasi. Tentang rencana hidup.

Namun tidak nyaman berbicara tentang kematian dan akhirat.

Karena berbicara tentang akhirat menuntut kejujuran terhadap diri sendiri.

Ia memaksa manusia bertanya :

Untuk apa aku hidup ?

Apa yang sedang aku kejar ?

Apa yang akan kubawa ketika semua ini berakhir ?

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang sering dihindari oleh manusia.

Seluruh Perjalanan Akan Bermuara kepada Allah

وَإِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
“Dan kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.”

Ayat ini sangat singkat.

Namun mengandung makna yang sangat besar.

Apa pun jalan hidup seseorang, akhirnya akan menuju Allah.

Orang kaya menuju Allah.

Orang miskin menuju Allah.

Pemimpin menuju Allah.

Rakyat menuju Allah.

Yang terkenal menuju Allah.

Yang tidak dikenal pun menuju Allah.

Tidak ada satu pun manusia yang keluar dari akhir perjalanan ini.

Hidup yang Bermakna Adalah Hidup yang Sadar Tujuan

Dalam psikologi modern terdapat konsep purpose-centered living yaitu kehidupan yang dijalani dengan kesadaran tujuan yang jelas.

Orang yang memahami tujuan hidup biasanya lebih tahan menghadapi kesulitan dan lebih mampu menjaga arah kehidupannya.

Al-Qur’an mengajarkan tujuan tertinggi itu :

kembali kepada Allah dengan membawa amal terbaik.

Karena ketika tujuan akhir jelas, langkah-langkah kehidupan menjadi lebih terarah.

Pelajaran Kehidupan

Maka jangan terlalu tersandera dan melekat kepada dunia yang sifatnya sementara.

Karena semua yang ada di bumi pada akhirnya akan ditinggalkan.

Selain itu, jadikan setiap aktivitas dunia sebagai bagian dari perjalanan menuju Allah.

Bekerjalah, berkaryalah, dan berbuatlah yang terbaik, tetapi jangan lupa ke mana tujuan akhirnya.

Ayat ini juga mengajarkan bahwa semua manusia memiliki kedudukan yang sama di hadapan kematian dan hari kebangkitan.

Perbedaan yang dibanggakan di dunia akan kehilangan nilainya jika tidak disertai ketakwaan.

Kadang manusia menghabiskan begitu banyak energi untuk mengatur kehidupan dunia, tetapi sangat sedikit waktu untuk mempersiapkan kehidupan setelahnya.

Padahal kehidupan dunia hanya sebagian kecil dari perjalanan panjang yang akan dilalui manusia.

Dan semakin seseorang mengingat akhir perjalanannya, semakin ia mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana, lebih rendah hati, dan lebih bermakna.

Saudara…,

Ayat ini seperti suara lembut yang memanggil manusia untuk merenung.

Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa.

Dan suatu hari kita akan meninggalkannya tanpa membawa apa-apa pula.

Yang akan ikut hanyalah amal.

Yang akan menemani hanyalah apa yang pernah kita lakukan.

Karena itu jangan terlalu sibuk membangun tempat singgah hingga lupa mempersiapkan tempat kembali.

Ingatlah :

Hari ini kita tersebar di berbagai penjuru bumi.

Ada yang di kota. Ada yang di desa. Ada yang dikenal banyak orang. Ada yang hidup sederhana dan tidak terkenal.

Namun suatu hari nanti,

seluruh manusia akan berdiri di satu tempat yang sama.

Di hadapan Allah SWT.

Dan pada hari itu, yang paling berharga bukanlah apa yang pernah kita miliki.

Tetapi siapa diri kita di hadapan-Nya.

Wallahu A‘lam.
Samarinda, 14 Juni 2026

Loading