SAMARINDA – Sebuah pagi yang gerimis di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), 25 Januari 2026 lalu, menjadi saksi bisu sebuah janji suci. Di sela-sela kegiatan penanaman pohon yang menjadi penutup Musyawarah Besar (Mubes) ke-VII Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Dr. Yulianus Henock Sumual, S.H., M.Si., tampak sibuk bergelut dengan tanah. Bagi Ketua Umum PDKT terpilih periode 2026–2031 ini, menanam pohon bukan sekadar simbol penghijauan, melainkan bentuk tanggung jawab moral masyarakat Dayak terhadap warisan alam.

“Nilai kearifan lokal kami mengajarkan keseimbangan hidup antara manusia dan alam. PDKT berkomitmen kuat untuk menghijaukan kembali kawasan yang rusak,” ujar Yulianus dengan nada mantap, di dampingi tokoh senior Dr. Syaharie Jaang.
Kini, momen bersejarah itu akan diformalkan. Persekutuan Dayak Kalimantan Timur resmi memasuki babak baru. Jika tidak ada aral melintang, jajaran pengurus pusat PDKT akan dikukuhkan pada Sabtu, 16 Mei 2026, pukul 09.00 WITA. Gedung Olah Bebaya di Kompleks Kantor Gubernur Kaltim akan menjadi saksi pelantikan yang dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Pembina, Dr. H. Syaharie Jaang.
Menjadi Tuan Rumah di Tanah Sendiri
Yulianus Henock, yang juga mengemban amanah sebagai Senator RI dari daerah pemilihan Kalimantan Timur, menyadari betul bahwa kepemimpinannya berada di tengah pusaran sejarah pembangunan IKN. Ia menegaskan bahwa PDKT, sebagai salah satu organisasi induk Dayak tertua di Bumi Etam, memiliki kewajiban menjadi “tuan rumah yang baik”.
“Kami akan menjaga ketenteraman dan kondusivitas wilayah Kaltim maupun kawasan Otorita IKN. Kami ingin memastikan pembangunan berjalan damai dan membawa kesejahteraan bersama bagi seluruh suku dan golongan,” tegasnya, Kamis (14/5/2026) melalui saluran WhatsApp.
Namun, menjadi tuan rumah bukan berarti diam. PDKT di bawah komandonya akan menjalankan fungsi check and balance. Yulianus menyatakan kesiapannya untuk tetap kritis terhadap kebijakan yang menyimpang, terutama yang mengancam keadilan bagi masyarakat kecil dan kelestarian lingkungan. Sebagai anggota DPD RI, ia bahkan berencana merekomendasikan tindakan tegas kepada Presiden terhadap perusahaan yang terbukti merusak hutan.
Dari IKDS hingga Menjadi Pilar Kaltim
Napas perjuangan PDKT bukanlah barang baru. Sejarah mencatat organisasi ini berakar dari Ikatan Keluarga Dayak Samarinda (IKDS) yang berdiri sejak 1980. Melewati berbagai dinamika politik dan stagnasi pada era 80-an, organisasi ini lahir kembali menjadi PDKT pada tahun 1993 melalui mediasi Pastor Gabriel Bong, MSF.
Dari tangan tokoh-tokoh besar seperti Otto Liah, Rama A. Asia, Marthin Billa, hingga Syaharie Jaang, PDKT tumbuh menjadi mitra strategis pemerintah. Kini, di periode 2026–2031, Yulianus Henock didampingi Dr. Ir. Marten Apuy sebagai Sekretaris Umum dan Paulus Adam, S.H., M.Kn sebagai Bendahara Umum, membawa visi besar: “Dayak Maju, Dayak Bersatu, PDKT Jaya”.
Garda Moral Menuju Ibu Kota Politik 2028
Target PDKT ke depan sangat spesifik. Selain memperjuangkan hak pendidikan dan kesehatan bagi masyarakat Dayak yang masih tertinggal, organisasi ini bertekad menjadi garda depan untuk menjadikan IKN sebagai ibu kota politik pada tahun 2028 mendatang.
“PDKT siap mengawal IKN, bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi sebagai simbol persatuan, keadilan, dan kemajuan bangsa,” pungkas Yulianus.
Menjelang hari pelantikan, Ketua Panitia Hermanto Cigot, S.H., mengimbau seluruh pengurus untuk hadir dengan pakaian adat kebesaran. Pelantikan ini bukan sekadar seremoni jabatan, melainkan pernyataan sikap bahwa masyarakat Dayak siap bersinergi, berdiri tegak, dan berkontribusi nyata bagi masa depan Kalimantan Timur yang lebih bermartabat.(rls/mn)
![]()

