KUTAI TIMUR – Kelompok tani di Desa Bukit Harapan mengembangkan budidaya alternatif yang menjanjikan: madu kelulut dan maggot sebagai pakan ternak. Kedua komoditas ini dinilai lebih potensial dikembangkan dibanding peternakan skala besar.
Budidaya madu kelulut yang dikelola oleh kelompok di Dusun 3 mendapat dukungan dari pihak perusahaan dan dinas terkait. “Pengembangan budidayanya luar biasa, produksinya juga lumayan,” ungkap Kepala Desa Bukit Harapan Heri Wibowo dalam wawancara eksklusif belum lama ini.
Selain madu kelulut, ada pula kelompok yang mengembangkan budidaya maggot sebagai pakan ternak alternatif. Maggot dinilai lebih ekonomis dan bergizi dibanding pakan konsentrat. “Harganya murah, sekilo Rp10.000 kalau tidak salah. Potensi gizinya juga lebih besar daripada konsentrat,” jelas Heri.
Pengembangan kedua komoditas ini sejalan dengan kondisi masyarakat Desa Bukit Harapan yang 90 persen adalah petani kebun dengan kesibukan tinggi. “Yang bisa dikelola sambil sibuk mengolah lahan ya kolam ikan dan ternak-ternak seperti ini,” ujarnya.
Untuk peternakan skala besar, Desa Bukit Harapan justru mengalami penurunan drastis, terutama untuk sapi. Kendala utamanya adalah berkurangnya lahan gembala akibat banyaknya konversi lahan menjadi kebun kelapa sawit, serta maraknya kasus pencurian ternak yang belum terselesaikan hingga kini.
Sebaliknya, budidaya ikan air tawar justru berkembang pesat. Hampir semua warga memiliki kolam tanah, ditunjang dengan adanya Balai Benih Ikan (BBI) di belakang kantor desa yang menyediakan bibit nila untuk masyarakat. Pemerintah desa sendiri memiliki kolam berukuran 30×30 meter yang diisi 18.000 ekor bibit ikan.
“Masyarakat sudah tidak ada semangat lagi ternak sapi. Ini yang sulit sekali diatasi,” keluh Heri.(Q)
![]()

