Di tepian Sungai Kristal yang airnya jernih mempesona, hiduplah seekor kancil bernama Cerdik. Ia terkenal bijaksana—atau begitulah yang diklaim semua binatang, terutama oleh Cerdik sendiri.

Suatu hari, Gajah Tua yang jujur menemukan mahkota emas tergeletak di bawah pohon beringin. Dengan sederhana, ia berpikir: mahkota ini pasti milik seseorang yang kehilangan. Maka ia pun menunggu di situ, berhari-hari, berharap pemiliknya datang. Perutnya keroncongan, namun ia tak beranjak. “Inilah yang benar,” katanya pada diri sendiri dengan bangga yang sungguh mengharukan.

Cerdik si Kancil melihat ini semua. Ia mendekati Gajah Tua dengan senyum penuh kebijaksanaan—senyum yang telah ia sempurnakan di depan kolam setiap pagi.

“Wahai Gajah yang mulia,” kata Cerdik dengan suara merdu, “sungguh mengagumkan pengorbananmu. Tetapi izinkan aku, yang telah belajar dari berbagai guru dan membaca banyak daun lontar, memberimu nasihat.”

Gajah Tua mendengarkan dengan hormat.

“Mahkota ini,” Cerdik melanjutkan, “jika dibiarkan di sini, akan berkarat. Atau lebih buruk, akan diambil oleh binatang yang tidak bertanggung jawab. Bukankah lebih bijaksana jika kau titipkan padaku? Aku akan menjaganya dan mencari pemiliknya dengan caraku yang lebih… efisien.”

Gajah Tua mengangguk-angguk. Logika Cerdik terdengar begitu meyakinkan, dibungkus dengan istilah-istilah indah tentang “efektivitas” dan “optimalisasi kebaikan.”

Maka mahkota itu pun berpindah tangan—atau lebih tepatnya, kaki.

Keesokan harinya, Cerdik mengenakan mahkota itu. “Aku memakainya,” jelasnya pada siapa saja yang bertanya, “agar semua binatang tahu bahwa ini sedang dalam pengawasan. Ini strategi pencarian yang cerdas.”

Minggu berlalu. Bulan berganti. Mahkota tetap bertengger di kepala Cerdik.

Hingga suatu hari, Harimau Raja—pemilik sebenarnya yang baru pulang dari perjalanan jauh—muncul. Ia melihat mahkotanya di kepala Cerdik.

“Itu milikku,” kata Harimau dengan tenang namun menusuk.

Cerdik, tanpa kehilangan ketenangan filosofisnya, menjawab: “Tentu saja, Yang Mulia! Aku menjaganya untukmu. Aku bahkan memakainya agar tidak hilang. Bukankah ini tindakan yang bijaksana? Gajah Tua yang menemukan mahkota ini terlalu sederhana untuk memahami kompleksitas penjagaan benda berharga. Ia hanya menunggu dengan bodoh. Aku bertindak dengan kebijaksanaan.”

Harimau menatap Cerdik lama. Kemudian ia tersenyum—senyum yang membuat bulu kuduk Cerdik berdiri.

“Kebijaksanaan yang menarik,” kata Harimau. “Izinkan aku menunjukkan kebijaksanaanku: aku akan memakanmu sekarang agar dagingmu tidak membusuk terbuang percuma. Bukankah ini juga tindakan yang efisien?”

Cerdik berlari sekencang-kencangnya. Mahkota emas jatuh berguling-guling di tanah.

Harimau mengambil mahkotanya kembali, lalu berjalan menuju Gajah Tua yang masih setia menunggu di tempat yang sama—kini sudah kurus kering.

“Terima kasih telah menjaga tempatnya,” kata Harimau, menaruh sekantong makanan di hadapan Gajah. “Kejujuranmu yang sederhana ternyata lebih berharga daripada kebijaksanaan yang rumit.”

Gajah Tua tersenyum, terlalu lelah untuk berbicara.

Dan Cerdik? Ia kini menulis memoar tentang “Kesalahpahaman dalam Etika Praktis” dan masih yakin bahwa ia sebenarnya yang paling bijaksana—hanya saja dunia belum cukup cerdas untuk memahaminya.

Di rimba ini, pohon-pohon tua berbisik: kebajikan adalah tentang apa yang kau lakukan ketika tidak ada yang melihat; kebijaksanaan adalah tentang apa yang kau katakan ketika semua orang mendengar.

Loading