KUTAI TIMUR – Pagi itu, embun masih membasahi dedaunan pohon sawit di sekitar kandang kayu yang berdiri kokoh di tengah hamparan hijau Desa Bukit Permata, SP 7. Aroma khas peternakan bercampur dengan kesegaran udara perbukitan menyambut siapa saja yang melangkah ke kompleks Kelompok Tani Rimba Raya. Di sini, di antara rimbunnya pepohonan yang menjulang, puluhan ekor sapi mengunyah rumput dengan tenang—tak sekadar ternak biasa, melainkan harapan yang tumbuh dari tanah subur Kalimantan.

Keri, sang ketua kelompok tani, berdiri di pinggir kandang dengan senyum tipis penuh kebanggaan. Tangannya yang kasar—tanda seorang pekerja keras—menunjuk ke arah dua bangunan kandang yang berseberangan. “Yang ini untuk breeding, yang sebelah sana untuk penggemukan,” ujarnya sambil matanya berbinar, menatap 52 ekor sapi yang kini menjadi aset berharga kelompoknya.

Perjalanan hingga sampai di titik ini tidaklah mudah. Tiga tahun silam, tepatnya 2023, Keri dan rekan-rekannya masih melepas sapi-sapi mereka berkeliaran bebas seperti layaknya peternak tradisional di kampung-kampung sekitar. Namun angin perubahan datang ketika PT Indexim, bersama BSK dan Dinas Peternakan, mengulurkan tangan pendampingan. “Awalnya hanya delapan ekor, dilepas liar. Tapi kami disarankan untuk mengandangkan,” kenang Keri, suaranya merendah seperti mengingat masa-masa penuh ketidakpastian itu.

Kini, di bawah atap kandang yang tertata rapi, delapan ekor sapi bantuan PT Indexim berkembang biak. Ditambah 52 ekor dari program PDKT Provinsi—32 pejantan untuk penggemukan dan 20 betina untuk breeding—kelompok ini telah bertransformasi menjadi salah satu contoh sukses peternakan modern di wilayah Kaubun.

Di balik kesuksesan peternakan, ada cerita lain yang tak kalah menarik: transformasi limbah menjadi berkah. Di sudut kompleks peternakan, berdiri instalasi biogas sederhana yang telah mengubah kehidupan sehari-hari para anggota kelompok. Kotoran sapi yang dulunya mungkin hanya jadi masalah, kini menjadi sumber energi.

“Kami sudah jarang beli LPG. Untuk masak, rebus air, semua pakai biogas dari kotoran sapi ini,” ujar Keri dengan nada penuh syukur. Ia kemudian melangkah menuju gudang kompos—bangunan sederhana yang menyimpan emas hitam berupa pupuk organik.

Setiap bulan, 15 hingga 16 ton pupuk kandang dihasilkan dari kandang-kandang ini. Angka yang sebenarnya masih jauh dari target permintaan PT Indexim yang mencapai 30 ton per bulan. “Keterbatasan tenaga dan gudang yang kurang luas,” keluh Keri sembari mengangkat segenggam pupuk kompos yang teksturnya sudah halus sempurna.

Namun keterbatasan itu tak menyurutkan semangat. Justru di tengah kendala itulah, kelompok ini menorehkan prestasi membanggakan: juara dua tingkat provinsi dari Dinas Peternakan tahun lalu, juara dua lagi dari Dinas Perkebunan tahun 2024, bahkan dipanggil ke Jakarta dan meraih juara dua dalam program CSR tingkat nasional.

“Alhamdulillah, kami diakui. Ini bukan soal piala, tapi pembuktian bahwa petani bisa maju kalau dibina dengan baik,” kata Keri, kali ini suaranya bergetar—antara haru dan bangga.

Meski prestasi terus diraih, realitas di lapangan masih menyisakan sejumlah tantangan. Di tengah hijaunya padang rumput dan kokohnya kandang, Keri mengaku rindu akan kehadiran pasar hewan di wilayah Kaubun.

“Kalau ada pasar hewan, kami nggak susah jual saat butuh uang mendesak. Sekarang harus ke mana-mana dulu,” tuturnya dengan nada frustasi yang tertahan. Ketiadaan Rumah Pemotongan Hewan (RPH) juga menjadi keluhan tersendiri, membuat proses penjualan ternak tak semudah yang diharapkan.

Belum lagi soal gudang kompos yang terbatas. “Baru saya yang bisa kelola kompos di kelompok ini. Gudangnya masih kurang, jadi belum bisa maksimal penuhi kebutuhan perusahaan,” ungkapnya.

Visi Kepala Desa: Bukit Permata sebagai Agro Techno Park

Sore itu, Sutrisno—Kepala Desa Bukit Permata—duduk dengan penuh keyakinan. Matanya menatap jauh ke luar jendela, seolah membayangkan masa depan desanya yang gemilang.

“Kami punya mimpi besar. Bukit Permata akan menjadi Desa Agro Techno Park, dengan peternakan sapi sebagai salah satu pilarnya,” ujarnya tegas.

Dalam visinya, setiap RT akan memiliki kelompok ternak sendiri, menghasilkan pupuk organik dan biogas. “Bayangkan, suatu hari nanti warga kami tidak lagi bergantung pada LPG. Semua masak pakai biogas dari kandang sendiri,” tambahnya, suara penuh optimisme.

Rencana pembangunan pasar ternak dan RPH juga sudah masuk dalam daftar prioritas. “Kami akan wujudkan itu di Bukit Permata. Bukan hanya untuk Kelompok Tani Rimba Raya, tapi untuk semua peternak di sini,” janjinya.

Bahkan, pemerintah desa berencana memiliki Pendapatan Asli Desa (PADes) dari peternakan sapi dengan sistem pengelolaan serupa dengan Kelompok Tani Rimba Raya. “Kami belum punya PADes. Ini bisa jadi solusi untuk kemandirian desa,” katanya penuh harap.

Gotong Royong di Balik Kesuksesan

Kelompok Tani Rimba Raya beranggotakan 40 orang, dengan 33 aktif di bidang peternakan. Mereka menerapkan sistem kemitraan unik: 70 persen keuntungan untuk pengelola, 30 persen untuk kelompok setelah modal dikembalikan. Keri dan Pak Paino menjadi mitra pengelola utama.

“Ini bukan soal cari untung sendiri, tapi bagaimana kita sama-sama maju. Kalau kelompok untung, kita semua untung,” kata Keri dengan filosofi sederhana namun dalam.

Di ujung sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik rimbunan pohon, suara sapi-sapi yang berteriak seakan memberi isyarat: hari telah berlalu produktif, esok akan ada hari baru penuh peluang.

Di Bukit Permata, mimpi bukan lagi sekadar angan. Di antara kandang-kandang kayu dan tumpukan pupuk kompos, harapan sedang tumbuh subur—bahwa dari desa kecil ini, kemandirian dan kesejahteraan bukanlah sesuatu yang mustahil.

Asalkan ada kemauan, pendampingan yang tepat, dan semangat gotong royong yang tak pernah padam.(Q)

Loading