KUTAI TIMUR – Fenomena urbanisasi dan pergeseran minat generasi muda menjadi ancaman serius bagi sektor pertanian di Desa Bukit Makmur. Kepala Desa Adventis Echo Lenawa mengungkapkan bahwa aktivitas pertanian di desanya masih didominasi oleh generasi tua, sementara pemuda lebih memilih menjadi karyawan perusahaan.

“Di Bukit Makmur masih didominasi oleh generasi tua. Rata-rata pemudanya menjadi karyawan di beberapa perusahaan yang ada di sekitar,” terang Adventus, Kamis (22/01/2026).

Kondisi ini menjadi ironis mengingat Desa Bukit Makmur memiliki potensi pertanian yang sangat besar dengan tanah yang subur dan lahan yang luas mencapai ribuan hektar. Komoditas unggulan desa ini meliputi kelapa sawit, pisang, dan berbagai jenis sayuran.

Selain masalah regenerasi, petani di Bukit Makmur juga menghadapi kendala dalam pengadaan pupuk. “Petani merasa sangat kesusahan untuk memperoleh pupuk. Itu juga salah satu faktor kendala,” ungkap Adventus.

Pemerintah desa mengakui belum pernah melakukan sosialisasi khusus untuk menarik minat generasi muda kembali ke sektor pertanian. Namun, beberapa perusahaan seperti Indexim dan KPP pernah mengajak siswa SMK untuk melakukan penanaman dan belajar cara merawat tanaman melalui program CSR mereka.

Ke depan, pemerintah desa berencana lebih fokus pada pengembangan agroekonomi dengan memperbaiki akses jalan usaha tani dan memastikan ketersediaan pupuk. Upaya digitalisasi dan modernisasi pertanian juga mulai diwacanakan untuk membuat sektor ini lebih menarik bagi generasi muda.

“Tanpa regenerasi yang baik, masa depan pertanian Bukit Makmur dikhawatirkan akan mengalami penurunan produktivitas,” tutupnya.(Q)

Loading