LUMAJANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengimbau masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Semeru untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Imbauan tersebut disampaikan menyusul masih sering terjadinya erupsi Gunung Semeru yang disertai hujan dengan intensitas tinggi dan durasi cukup lama dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana susulan, seperti guguran awan panas maupun aliran lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak Semeru.
“Masyarakat kami minta tidak panik, namun tetap waspada dan terus mengikuti informasi resmi dari petugas. Kami juga berharap masyarakat selalu berdoa agar Gunung Semeru dalam kondisi aman dan kita semua diberikan perlindungan,” ujar Isnugroho, Minggu (18/1/2026).
Isnugroho menegaskan, BPBD Lumajang secara rutin menyampaikan imbauan kewaspadaan kepada masyarakat, baik melalui media sosial, komunikasi langsung di lapangan, maupun koordinasi dengan perangkat desa di wilayah rawan bencana.
“Kami tidak henti-hentinya mengimbau masyarakat agar selalu waspada dan mematuhi rekomendasi petugas, demi keselamatan bersama,” tegas Isnugroho.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) melalui Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Pos Pengamatan Gunungapi Semeru di Gunung Sawur mencatat erupsi pada Minggu (18/1/2026) pukul 18.31 WIB.
Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu setinggi kurang lebih 600 meter di atas puncak atau sekitar 4.276 meter di atas permukaan laut. Kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang dan condong ke arah utara. Aktivitas erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi sekitar 1 menit 28 detik.
Hingga laporan ini dibuat, aktivitas erupsi Gunung Semeru masih berlangsung. PVMBG tetap menetapkan status Gunung Semeru pada Level III atau Siaga.
Dengan status tersebut, masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan sejauh 13 km dari puncak atau pusat erupsi. Selain itu, masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
![]()

