KUTAI TIMUR – Kurangnya inovasi dan kecenderungan mengikuti tren sesaat (latah) menjadi tantangan terbesar yang dihadapi pelaku UMKM di Kabupaten Kutai Timur. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, Teguh Budi Santoso, saat mengevaluasi perkembangan UMKM di daerahnya.
“Kurang improvisasi, inovasi. Booming itu menjadi trending. Contoh nyata, dulu sempat booming roti gembong, semua berebutan. Habis itu hilang lagi. Itu hanya latah,” ungkap Teguh dalam wawancara di ruang kerjanya, Kamis (15/01/2026).
Perilaku latah ini membuat banyak pelaku UMKM tidak memiliki produk yang berkelanjutan dan khas. Mereka cenderung mengikuti produk yang sedang ramai di pasaran tanpa mempertimbangkan keberlanjutan dan keunikan produk. Akibatnya, saat tren berubah, banyak pelaku usaha yang gulung tikar.
Untuk mengatasi hal ini, dalam setiap pelatihan Teguh selalu menekankan pentingnya menciptakan produk dengan ciri khas Kutai Timur. “Saya minta tolong Bapak/Ibu pelaku, terutama ibu-ibu yang hampir 90% pelakunya, kalau bisa buatkan ciri khas yang Kutai Timur. Itu akan kita branding besar,” tegasnya.
Tantangan lain yang dihadapi adalah pemisahan keuangan usaha dan rumah tangga. Banyak pelaku UMKM yang masih mencampur uang produksi dengan uang untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga sulit mengukur perkembangan usaha secara akurat. “Uang produksi mereka dengan uang makan sehari-hari bisa tercampur. Makanya dalam pelatihan manajemen kami tekankan agar dipisahkan,” jelas Teguh.
Kendala monitoring dan evaluasi juga menjadi perhatian. Selama ini belum ada sistem yang sistematis untuk memantau dampak pelatihan terhadap peningkatan omzet dan produktivitas. Teguh berencana menerapkan sistem monetize di tahun 2026 untuk mengukur efektivitas program pembinaan.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Teguh optimis dengan dukungan yang tepat, seperti sertifikasi halal, pelatihan digitalisasi, dan pembangunan infrastruktur pendukung, UMKM Kutai Timur dapat naik kelas dan bersaing di pasar yang lebih luas. (Q)
![]()

