Oleh: Ekky Yudistira

Founder Konsorsium Media Politika

SORE itu, seorang wartawan yang mengaku senior duduk di pojok kedai kopi yang sudah sepi. Kopinya dingin, rokoknya mati setengah jalan. Matanya menatap kosong layar laptop yang menampilkan draft artikel—artikel yang ia tahu takkan pernah tayang.

“Kau tahu apa bedanya antara kayu pilar dengan jurnalis sekarang?” tanyanya pada juniornya yang baru bergabung. “Kayu pilar itu DIPAKSA dimakan rayap. Kami? Kami MEMBUKA PINTU untuk mereka.”

Juniornya terdiam, bingung.

“Dulu,” lanjut sang senior sambil menyalakan rokok keduanya, “kami disebut watchdog—anjing penjaga demokrasi. Sebutan yang jujur tidak pas sebenarnya karena kita bukan anjing. Tapi sekarang watchdog lebih mirip lapdog—anjing pangkuan yang menggonggong hanya saat majikan menunjuk target.”

Ia tertawa getir.

“Dan yang lucu, Dinda, kami mengeluh kenapa publik tak lagi menghormati pers. Kenapa berita kami diabaikan. Kenapa buzzer dan influencer lebih dipercaya. Seolah-olah kehancuran ini datang dari luar, seperti bencana alam yang tak bisa dihindari.”

Ia mengetuk-ketuk meja dengan jari telunjuknya.

“Padahal rayap tak pernah datang sendiri. Mereka datang karena kayu sudah lembap, sudah rapuh, sudah ikhlas membusuk. Dan busuknya pers bukan dimulai dari sensor pemerintah atau tekanan konglomerat—itu hanya akselerator. Busuknya dimulai dari kita yang memilih clickbait daripada investigasi. Memilih amplop daripada integritas. Memilih viral daripada verifikasi.”

Juniornya mulai gelisah. “Tapi kan, Mas, kita juga butuh makan. Media butuh iklan. Kalau kita terlalu kritis, sponsor kabur.”

“Nah!” seru sang senior sambil menunjuk. “Itulah dalih paling nyaman sepanjang sejarah jurnalisme busuk! ‘Kami butuh makan.’ Seolah-olah pilihan satu-satunya adalah menjual jiwa atau mati kelaparan. Padahal ada jalan ketiga yang memang lebih sulit: membangun kredibilitas sampai publik rela bayar untuk jurnalisme berkualitas.”

Ia menyeruput kopi dinginnya dengan wajah meringis.

“Tapi itu kerja keras, Dinda. Butuh tahun. Butuh konsistensi. Sementara amplop itu cash, hari ini juga cair. Maka pilar keempat pun memilih jadi sarang rayap, jangan heran kenapa fondasi demokrasi runtuh.”

Sang junior terdiam lama. Kemudian bertanya pelan, “Lalu kita harus bagaimana, Mas?”

Wartawan senior itu tersenyum pahit, memadamkan rokoknya.

“Mulai dengan jujur pada diri sendiri. Akui bahwa kita bagian dari masalah. Bahwa setiap kali kita menulis judul menyesatkan demi klik, kita meletakkan satu rayap di pilar. Setiap kali kita menerbitkan advertorial tanpa label jelas, kita tambah satu rayap lagi. Setiap kali kita diam saat yang berkuasa keliru karena takut kehilangan akses, kita bukan lagi wartawan—kita humas yang menyamar.”

Ia menutup laptopnya.

“Pilar keempat lapuk bukan karena diserang. Pilar keempat lapuk karena kita yang memilih jadi rayap sambil mengeluh kenapa publik menyebut kami hama.”

Malam itu, artikel sang wartawan senior tentang korupsi petinggi daerah tetap tak tayang. Terpendam dalam tumpukan draft artikel click bait.” Sang junior menulis thread Twitter tentang kucing lucu politisi—viral 10 ribu retweet.

Dan pilar keempat terus lapuk.

Dalam keheningan yang nyaman.

Loading