KUTAI TIMUR — Hanya sepuluh menit berkendara dari jantung Kota Sangatta, Pantai Kenyamukan membentang tenang di tepi timur Kalimantan. Saat matahari pagi mulai merangkak naik, deretan kapal nelayan tradisional berbagai ukuran berjejer rapi di dermaga Tempat Pelelangan Ikan. Tiang-tiang ulin yang menjulang kokoh dihiasi koloni tiram laut yang menempel, menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan gelombang yang telah melewatinya bertahun-tahun.
Destinasi wisata yang berjarak 10 menit dari pusat kota ini menyimpan potensi luar biasa namun masih menunggu perhatian lebih untuk berkembang optimal sebuah ironi mengingat Kabupaten Kutai Timur pernah memiliki APBD hingga Rp14 triliun.
Hendra, seorang pria berusia lima puluh tahun yang menjadikan memancing sebagai pelarian dari rutinitas, bercerita tentang perjalanan pantai ini. Lelaki yang mengaku memancing bukan sekadar hobi tapi juga cara menghilangkan penat setelah seharian bekerja keras ini sudah menyaksikan transformasi Pantai Kenyamukan dari sekadar dermaga biasa menjadi salah satu destinasi wisata lokal favorit di Kutai Timur.
Pantai Kenyamukan kini menjadi salah satu destinasi favorit warga Sangatta, terutama saat akhir pekan dan momentum libur akhir tahun. Situasi saat ini menunjukkan pantai dalam kondisi aman dan kondusif, menjadikannya tempat ideal bagi keluarga untuk menghabiskan waktu berkualitas.
Hamparan pasir dengan warna kehitaman membentang di sepanjang garis pantai yang cukup luas. Air muara yang berubah warna dari coklat keruh hingga biru cemerlang, tergantung pasang surut air laut, menciptakan tontonan menarik bagi setiap pengunjung yang datang. Di sisi kiri dan kanan pantai, hutan mangrove yang rimbun dan hijau menambah pesona alam yang sulit untuk diabaikan, membentuk koridor hijau yang menyejukkan mata.
Pemandangan lautan biru dengan langit cerah menjadi favorit para pengunjung, sementara ombak kecil membuat panorama laut terlihat luas. Area bibir pantai yang landai menjadikan lokasi ini cukup aman untuk bermain air, terutama bagi anak-anak yang ingin merasakan kesegaran air laut tanpa khawatir arus kuat.
Ketika cuaca cerah, langit di atas Pantai Kenyamukan berubah menjadi kanvas alami bagi para penggemar layang-layang. Berbagai macam jenis dan bentuk layangan menari-nari di udara, menciptakan pemandangan yang memukau. Saat sore tiba, pantai ini berubah menjadi spot terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam, dengan langit yang berubah warna menjadi gradasi jingga keemasan di cakrawala.
Antara Ada dan Memadai
Meski telah didandani sejumlah bangunan kios baru untuk UMKM, masih ada beberapa fasilitas yang perlu dibenahi. Salah satu isu paling mencolok adalah kondisi MCK yang belum berfungsi optimal, keluhan yang sering terdengar baik dari pengunjung maupun pelaku UMKM setempat.
Area parkir yang tersedia cukup luas untuk menampung kendaraan para wisatawan. Beberapa warung makanan tersebar di sepanjang area pantai, menawarkan berbagai menu kuliner lokal dan makanan bakar yang bisa dinikmati pengunjung sambil memandang lautan lepas. Tersedia juga persewaan ban renang dan perahu bagi pengunjung yang ingin memancing ke tengah laut atau sekadar berkeliling menikmati suasana.
Pantai ini buka 24 jam dan bebas untuk dikunjungi kapan saja. Namun, jam operasional ideal adalah pukul 07.00 hingga 22.00 untuk menikmati fasilitas yang ada secara optimal. Harga tiket masuk yang gratis hanya dikenakan biaya parkir sebesar Rp2.000 untuk kendaraan roda dua dan Rp5.000 untuk roda empat, membuat destinasi ini sangat terjangkau untuk semua kalangan.
Siti, salah seorang pengunjung yang sering menghabiskan waktu di pantai ini bersama keluarga, memberikan perspektif unik tentang kondisi pantai. Baginya, ketidaksempurnaan infrastruktur justru menambah keunikan. “Pengunjung bisa merasakan suasana pantai yang asli, bukan yang sudah terlalu modern,” tuturnya sambil menikmati kudapan ringan di tepi pantai.
Lantai gertak ulin kini mulai rapuh dan tercongkel, sementara di ujung dermaga, bagian yang miring akibat tiang dan lantai yang tak lagi menyatu menambah daftar panjang pekerjaan rumah bagi pengelola dan pemerintah daerah. Dermaga yang menjadi ikon pantai ini membutuhkan renovasi mendesak untuk memastikan keselamatan para nelayan dan pengunjung yang sering menggunakannya sebagai spot memancing.
Dani, pengunjung lain, menyuarakan harapan banyak orang. “Kami berharap fasilitas MCK segera diperbaiki. Ini tempat wisata, seharusnya semua fasilitas bisa mendukung kenyamanan pengunjung,” ungkapnya dengan nada berharap.
Di balik persoalan infrastruktur, ada cerita menarik tentang adaptasi warga setempat. Para nelayan kini mendapat sumber penghasilan tambahan dengan menyediakan jasa antar-jemput bagi pemancing yang ingin ke dermaga. Mereka bisa mendapat tambahan Rp200 ribu hingga Rp500 ribu per hari di akhir pekan, berkah tersendiri yang membantu perekonomian keluarga nelayan.
Kenyamukan tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga pengalaman autentik kehidupan pesisir. Deru suara mesin kapal ketinting dari kejauhan berpadu dengan kicauan burung yang kembali ke sarang menjelang sore, menciptakan simfoni alam yang menenangkan jiwa.
Potensi Ekowisata yang Belum Tergali
Penelitian dari STIPER Kutai Timur menunjukkan potensi ekowisata Pantai Kenyamukan sangat tinggi karena keberadaan ekosistem bakau, fauna lokal, dan keterlibatan masyarakat dalam aktivitas nelayan tradisional. Hal ini menjadikan lokasi sangat cocok untuk pengembangan wisata edukatif dan berkelanjutan.
Hutan mangrove yang rimbun di sekitar pantai bukan hanya mempercantik pemandangan, tetapi juga menyediakan ekosistem penting bagi berbagai jenis fauna laut. Area ini berpotensi dikembangkan menjadi jalur tracking mangrove atau pusat edukasi konservasi yang dapat menarik minat wisatawan edukatif dan peneliti.
Warga berharap siapa pun pemimpin terpilih bisa membangun Pantai Kenyamukan sebagai wahana wisata rakyat dengan menambah fasilitas yang lebih lengkap. Dengan perbaikan fasilitas dan pengaturan area berjualan yang lebih baik, Pantai Kenyamukan memiliki peluang besar untuk bersaing dengan destinasi wisata pantai lainnya di Kutai Timur, bahkan di Kalimantan Timur.
Retno, seorang petani sayur yang kerap berkunjung, memilih Pantai Kenyamukan karena aksesnya sangat baik. Jalan menuju pantai sudah disemenisasi hingga lokasi, sehingga tidak berdebu seperti pantai lain di kawasan tersebut. Kemudahan akses ini menjadi salah satu keunggulan kompetitif yang dimiliki Kenyamukan.
Pantai Kenyamukan adalah cerminan dari potensi wisata Indonesia yang belum sepenuhnya tergali. Dengan segala pesona dan tantangannya, pantai ini menanti sentuhan perhatian dari pemerintah dan kesadaran dari setiap pengunjung untuk menjaga keindahannya. Mungkin belum sempurna, tapi Kenyamukan memiliki jiwa autentik kehidupan pesisir Indonesia yang tidak dimiliki banyak destinasi wisata modern.(Q)
![]()

