Oleh: Ekky Yudistira
Founder Konsorsium Media Politika
ADA yang menarik dari Cemara Norfolk (Araucaria heterophylla) yang berdiri tegak di depan balai desa Kabupaten Konoha malam itu. Pohon yang tumbuhnya lambat—50 tahun baru mencapai 50 meter—namun batangnya lurus, cabangnya simetris, dan bijinya bisa dimakan. Tahan angin kencang, kata ahli botani. Bermanfaat untuk rakyat, kata common sense.
Ironis, bukan? Di Kabupaten tempat pohon ini tumbuh, para pejabatnya justru tumbuh terlalu cepat. Rakus, namun nyaris tanpa modal. APBD yang seharusnya menjadi nutrisi bagi masyarakat, malah diserap habis untuk mengenyangkan ego dan kantong yang tak pernah kenyang.
Lihatlah foto itu dengan seksama. Bulan yang redup, nyaris malu bersinar. Bendera merah putih yang tak berkibar—terkulai lemas seperti semangat rakyat yang sudah lelah berharap. Cemara Norfolk masih setia berdiri, meskipun hanya ditemani rembulan dengan sinarnya yang tertutupi pekatnya kegelapan. Malam telah menjadi metafora sempurna untuk korupsi yang sudah mengakar lebih dalam dari akar pohon manapun di Konoha.
Cemara Norfolk butuh 18 bulan untuk mematangkan buahnya. Sementara oknum-oknum itu? Cukup satu periode jabatan untuk menguras APBD hingga kering. Pohon ini bisa bertahan di angin kencang, tapi bisakah Konoha bertahan dari badai korupsi yang datang bukan dari luar, tapi dari dalam—dari mereka yang harusnya menjadi pelindung?
Yang lebih menyedihkan: pohon ini dioecious, ada jantan dan betina terpisah namun tetap produktif. Sementara di Konoha, pejabatnya bersatu padu—dalam korupsi. Kolaborasi yang indah, untuk tujuan yang busuk.
Mungkin sudah saatnya kita belajar dari Cemara Norfolk. Tumbuh lambat tapi kokoh. Bermanfaat, bukan hanya untuk diri sendiri. Dan yang terpenting: tetap berdiri tegak, bahkan ketika sinar rembulan enggan menerangi dan bendera enggan berkibar.
Karena malam di Konoha memang sudah terlalu gelap. Dan kita semua tahu, kegelapan paling berbahaya bukan yang datang dari langit, tapi yang diciptakan oleh mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Semoga pagi segera datang. Sebelum Cemara Norfolk pun menyerah berdiri.
Ditulis di bawah rembulan yang malu-malu, di kabupaten yang pejabatnya tidak tahu malu.
![]()

