“KKN/KKL Mahasiswa STAIS Kutai Timur di Dusun Wanasari, Kecamatan Muara Wahau”
Penulis
Dr. Hartono, S.H.I., M.S.I dan Siti Munfiatik, M.Pd
Dosen STAIS Kutai Timur
PELAKSANAAN Kuliah Kerja Nyata/Kuliah Kerja Lapangan (KKN/KKL) Mahasiswa STAIS Kutai Timur di Desa Wanasari, Kecamatan Muara Wahau, yang berlangsung selama 45 hari mulai 10 November, merupakan sebuah momentum penting dalam mewujudkan implementasi tridharma perguruan tinggi. Khususnya dalam wujud pengabdian kepada masyarakat.
Dengan jumlah peserta sebanyak 13 mahasiswa, kegiatan ini menjadi ajang pembelajaran langsung yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga sosial, kultural, dan spiritual. Kehadiran mahasiswa dalam kurun waktu yang cukup panjang memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengenal kondisi desa, bersinergi dengan masyarakat, serta memberikan kontribusi yang relevan dengan kebutuhan lokal.
Desa Wanasari dikenal sebagai salah satu desa dengan kondisi demografis yang relatif stabil dan berkembang sangat pesat dari tahun ke tahun. Stabilitas ekonomi dapat terlihat dari aktivitas masyarakat yang produktif, baik dalam sektor pertanian, perkebunan, maupun usaha mikro. Perkebunan sawit menjadi penopang utama kehidupan ekonomi masyarakat Desa Wanasari.
Sektor ini menyediakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan keluarga, serta mendorong pertumbuhan usaha lokal yang menunjang kesejahteraan dan stabilitas desa. Sedangkan keadaan sosial-budaya yang harmonis tercermin dari kuatnya nilai kebersamaan, gotong royong, dan toleransi antarwarga. Acapkali kita akan menemukan sikap ramah disetiap perjumpaan oleh dan pada siapapun di Desa ini.
Sementara itu, sektor pendidikan dan keagamaan berjalan dengan sangat baik, ditandai dengan tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan belajar, pengajian, dan kajian keislaman. Banyaknya lembaga pendidikan yang terus didirikan juga menunjukan bahwa Wahau khususnya Wanasari juga menyimpan perhatian yang sangat serius.
Kondisi demografis seperti ini memberikan lahan subur bagi mahasiswa dalam menjalankan program KKN/KKL secara efektif dan bermakna.
Sebab itu, mahasiswa KKN/KKL diharapkan mampu menjalankan peran sebagai mitra masyarakat.
Mereka bukan hadir sebagai pihak luar yang hanya menjalankan tugas, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang ikut terlibat dalam dinamika desa. Dengan 13 mahasiswa yang saling melengkapi kemampuan dan kompetensinya, program yang dijalankan dapat lebih terarah, terstruktur, dan berdampak.
Mahasiswa dituntut untuk membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, melakukan observasi, identifikasi masalah, serta menyusun rencana kegiatan yang tidak hanya sesuai teori, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Selama 45 hari pelaksanaan, mahasiswa belajar memahami langsung realitas sosial masyarakat. Pengalaman hidup bersama warga, mengikuti kegiatan desa, mengabdi di sekolah, membatu mendidik anak2 TPA dan berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari memberi pembelajaran nyata mengenai pentingnya sensitivitas sosial, empati, kepedulian, pengabdian dan dedikasi yang tinggi.
Mereka mempelajari etika sosial, kebiasaan lokal, dan perbedaan kultur yang mungkin tidak ditemukan dalam lingkungan kampus. Pengalaman seperti ini menjadi bekal penting dalam membentuk karakter mahasiswa sebagai calon intelektual muslim yang matang secara emosional, sosial, dan spiritual.
Kemudian, secara akademik, kegiatan ini memperkuat kemampuan mahasiswa dalam mengaplikasikan teori di lapangan.
Program-program seperti pendampingan pendidikan, penyuluhan kesehatan, inovasi keagamaan, pemberdayaan ekonomi rumah tangga, pelatihan administrasi desa, atau kegiatan bersifat edukatif dan sosial lainnya merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa. Kehadiran mereka diharapkan mampu memberikan tambahan pemahaman bagi masyarakat, membuka wawasan baru, dan memberikan informasi yang bermanfaat untuk penguatan kapasitas warga desa. Program-program yang bersifat praktis maupun edukatif tersebut tidak hanya memecahkan persoalan jangka pendek, tetapi juga memberikan dampak keberlanjutan.
Kegiatan KKN/KKL di Desa Wanasari juga menjadi sarana memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat. STAIS Kutai Timur melalui program ini menunjukkan komitmennya untuk menghadirkan mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Dengan membangun interaksi yang harmonis, mahasiswa dapat meninggalkan kesan baik serta membangun jembatan komunikasi antara kampus dan desa.
Pesan moral, peningkatan kapasitas masyarakat, serta program yang berhasil dijalankan diharapkan menjadi kontribusi yang mampu diteruskan meskipun kegiatan KKN/KKL telah berakhir. Pada akhirnya, implementasi pengabdian mahasiswa KKN/KKL di Desa Wanasari bukanlah sekadar agenda tahunan, tetapi sebuah proses transformasi yang menyatukan ilmu, praktik, dan nilai kemasyarakatan.
Dengan kondisi desa yang mendukung, partisipasi aktif masyarakat, serta kesiapan mahasiswa untuk belajar dan berkontribusi, kegiatan ini menjadi model ideal dari kerja kolaboratif antara perguruan tinggi dan masyarakat. Semoga kehadiran 13 mahasiswa STAIS Kutai Timur di Desa Wanasari dapat meninggalkan program yang bermanfaat, pengalaman yang membekas, serta kontribusi yang memberi arti bagi pembangunan desa dan pengembangan karakter mahasiswa.
![]()

