Setiap pagi, ketika kabut tipis masih menyelimuti Jalan Poros Kabo, Sangatta Utara, Paino sudah terbangun. Tangannya yang kasar bekas pegangan kemudi dump truk selama bertahun-tahun kini lembut menyentuh permukaan air kolam, merasakan suhu yang tepat untuk ikan-ikannya. Di balik keriput di sudut matanya, terpancar cahaya yang sama dengan dua dekade lalu, mimpi sederhana seorang perantau yang ingin punya kolam sendiri.

 

Terik mentari siang itu menjadi saksi cerita seorang lelaki yang telah berumur lebih dari separuh abad. Paino, salah satu warga Kecamatan Sangatta Utara, menuturkan kisah perjuangannya yang dimulai pada tahun 2002. Di sela-sela shift sebagai operator dump truk PT Kaltim Prima Coal, Paino sering melamun. Bukan tentang gaji atau bonus, melainkan tentang ikan.

“Kenapa harus beli ikan terus ya? Kalau punya kolam sendiri kan enak,” pikirnya suatu hari sambil menunggu truk dimuat.

Yang dimulai sebagai iseng belaka berubah menjadi tekad bulat. Paino mulai belajar dari sang mertua di Tenggarong, mengelola pembibitan ikan mas. Pengalaman ini membuka matanya bahwa perikanan bukan sekadar hobi—ini bisnis yang menjanjikan. Apalagi melihat fakta bahwa sebagian besar orang Indonesia mengonsumsi ikan sebagai lauk utama. Itu artinya, potensi pasarnya sangat besar.

Namun takdir berkata lain. Setelah sang mertua wafat, Paino kembali ke Sangatta dengan bekal pengalaman dan keyakinan baru. Ia akan membangun usaha perikanan sendiri.

Tahun 2008, di usia yang tak lagi muda, Paino mengambil keputusan yang membuat istrinya bergadang berpikir: pensiun dini dari KPC. Gaji tetap yang selama ini jadi andalan ia lepaskan demi mimpi yang masih samar-samar bentuknya.

Keputusan itu mengubah segalanya. Ia mulai menggali kolam-kolam kecil, membangun tempat pemancingan sederhana. Tetangga awalnya heran melihat pria paruh baya itu kotor-kotoran menggali tanah setiap hari.

“Pak Paino lagi apa sih? Capek-capek habis kerja malah ngegali,” bisik tetangga.

Tapi ketika kolam mulai berisi ikan dan teman-teman mulai berdatangan untuk mancing, komentar berubah: “Wah, ini bagus, Pak. Bisa jadi usaha lho!”

Awalnya, banyak pemancing dan warga antusias datang memancing dan membawa pulang hasil tangkapan mereka. Tapi perlahan, pola berubah. Para pemancing mulai memancing hanya sebagai hobi. Ikan yang ditangkap dikembalikan lagi ke kolam.

“Ikan yang dikembalikan ke kolam sudah tidak sehat dan banyak yang mati. Kerugian terus-menerus. Rasanya seperti usaha sia-sia,” kenang Paino.

Cobaan lain datang ketika hujan asam turun di Sangatta. Paino terbangun tengah malam karena khawatir, berlari ke kolam dengan sandal jepit dan kekhawatiran yang menyelubungi relung hatinya. Yang dilihatnya membuat hatinya hancur—ratusan ikan mengambang, tak bernyawa.

“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?” bisiknya sambil berlutut di tepi kolam.

Tak lama kemudian, usaha pemancingannya harus ditutup karena kerugian yang bertubi-tubi. Malam-malam berikutnya, ia sering terbangun dalam keringat dingin, bertanya-tanya apakah keputusannya meninggalkan pekerjaan tetap adalah kesalahan besar.

 

Bangkit dari Keterpurukan

Dari kegagalan itulah lahir ide cemerlang. Titik balik yang menghantarkannya menuju pembaruan yang bakal terkenang selama hidupnya.

“Tidak hilang akal, saya mencoba bisnis baru lagi yang masih terkait dengan perikanan. Tahun 2010 saya membuka rumah makan sederhana berbentuk lesehan. Menu utamanya ikan bakar,” kata Paino.

Yang membuat berbeda, ikan yang disajikan bisa langsung diambil dari kolam. “Dengan cara ini, risiko kerugiannya lebih kecil. Ikan yang saya sajikan antara lain lele, gurami, dan patin bakar. Dibantu istri saya yang mahir meracik bumbu, jadilah ikan bakar tersebut menu andalan rumah makan kami.”tuturnya

Pelanggan pertama adalah tetangga yang kebetulan lewat. “Pak, ikannya masih hidup tadi?” tanyanya sambil mengunyah.

“Iya, Pak. Langsung dari kolam ke piring,” jawab Paino bangga.

“Pantas segar banget. Besok saya bawa keluarga ya!”ujar tetangganya tersebut dengan antusias.

Satu pelanggan menjadi dua, dua menjadi empat. Konsep “ikan segar langsung dari kolam” ternyata menjadi daya tarik tersendiri di Sangatta. Semakin hari rumah makan lesehan Paino semakin ramai dikunjungi.

Yang membuat tempat Paino istimewa bukan hanya ikannya, melainkan atmosfernya. Kolam-kolam yang rapi dikelilingi tanaman merambat yang tumbuh alami. Pohon-pohon rindang memberikan teduh tanpa perlu AC. Angin sepoi-sepoi membawa aroma segar air dan tanah.

“Saya nggak mau tempat ini cuma buat orang dewasa. Anak-anak, remaja, orangtua, semuanya harus nyaman di sini.”kata Paino sambil melihat seorang anak kecil yang asyik memberi makan ikan

Ada meja untuk keluarga yang ingin makan bersama, gazebo untuk yang ingin duduk santai, dan area khusus untuk anak-anak bermain. Paino sering berkeliling, mengobrol dengan pengunjung, menanyakan keluhan, atau sekadar bertanya kabar.

“Pak Paino tuh kayak orang tua sendiri. Selalu perhatian, ramah. Nggak cuma jualan, tapi genuinely care sama pengunjungnya,” kata salah satu pelanggan setia.

Tahun 2015, melihat permintaan yang terus bertambah, Paino mulai menambah luasan kolam. Di usia 50-an, ketika banyak orang mulai memperlambat langkah, ia justru mempercepat. Ia aktif mengikuti program pembinaan di Dinas Perikanan Kabupaten Kutai Timur, berinvestasi membeli mesin pelet untuk pakan ikan, dan punya cita-cita memproduksi pakan ikan sendiri.

“Komponen biaya terbesar untuk pembesaran ikan adalah pada pakan,” jelasnya. “Kalau bisa bikin sendiri, keuntungan pasti lebih besar.”

Duduk di antara peserta yang jauh lebih muda, ia tak pernah malu bertanya. “Pak, kalau bibit ikan mati semua kenapa ya?” tanyanya pada instruktur suatu hari.

“Bapak sudah coba aklimatisasi belum? Ikan dari luar harus disesuaikan dulu dengan suhu dan kualitas air di sini.”

Paino mengangguk-angguk, mencatat setiap kata. Pulang ke rumah, ia langsung praktik.

 

Kesempatan Emas dari PAMA

Pertemuan dengan PT PAMA Persadanusantara melalui Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) Banua Etam menjadi titik balik baru dalam hidup Paino. Ia melihat potensi besar untuk bisnis pembibitan lele dan nila di Sangatta, mengingat selama ini kedua jenis ikan tersebut masih didatangkan dari luar kota dengan harga tinggi.

Kesempatan emas datang ketika PAMA mengundangnya mengikuti pelatihan dan studi banding pembenihan ikan air tawar di Sukabumi, Jawa Barat. Pertama kali naik pesawat di usia 52 tahun, Paino duduk di jendela sambil memegang erat tas ransel yang menjadi saksi perjuangannya selama ini.

“Aku nggak nyangka bisa sampai sini,” bisiknya pada diri sendiri sambil melihat awan di bawah.

Selama lima hari di Sukabumi, Paino begitu antusias belajar teori dan praktik langsung dari para ahli. Tiap harinya ia rela belajar hingga larut malam, mempelajari teknik pembibitan lele dan nila serta perhitungan kelayakan bisnisnya.

“Saya belajar secara khusus untuk melakukan pembibitan lele dan nila. Hal ini semakin membuka wawasan saya akan masa depan bisnis perikanan,” kenangnya.

Sekembalinya dari Sukabumi, didampingi tim LPB dan PAMA, Paino mulai praktik dengan indukan lele dan nila bersertifikat. Hasilnya luar biasa.

“Saat ini saya sudah mulai bisa melakukan pembibitan baik alami, semi buatan, dan buatan. Ini berkat pelatihan dan studi banding yang diberikan oleh LPB dan PAMA,” katanya bangga.

Kini, setiap pagi Paino tak lagi bergantung pada pemasok dari luar kota. “Saya sudah mampu memasarkan rata-rata 3.300 benih lele per hari dan memasok 20 kg lele per hari untuk kebutuhan konsumsi,” ungkapnya.

Tangannya yang dulu hanya bisa mengemudikan dump truk, kini mahir memilah bibit berkualitas. “Lihat nih,” katanya sambil menunjukkan ember berisi benih-benih kecil yang bergerak lincah. “Ini semua dari kolam sendiri. Nggak usah beli dari Samarinda lagi.”

 

Filosofi Berbagi

Yang paling mengharukan dari Paino adalah semangatnya berbagi. Ketika ada tetangga yang ingin belajar budidaya ikan, ia tak pernah pelit ilmu. “Rezeki itu nggak akan habis kalau dibagi. Dulu saya diajari orang, sekarang giliran saya ngajari orang lain,” katanya sambil tersenyum.

Filosofi ini ia tiru dari PAMA yang konsisten berbagi ilmu. “Saya mencontoh PAMA yang konsisten untuk terus berbagi ilmu. Karena justru dengan berbagi, saya tidak lagi khawatir akan datangnya rezeki.”

Paino tak berhenti berinovasi. Saat ini ia sedang mengembangkan bisnis berikutnya: memproduksi pakan ikan dan menjualnya di area Sangatta. “Saya difasilitasi untuk membuat pakan dan melakukan uji laboratorium di Samarinda untuk mengetahui kandungan gizi pakan tersebut,” jelasnya.

Matanya berbinar ketika bercerita tentang rencana ini. “Kalau jadi, dari bibit sampai pakan, semua dari sini. Mandiri total!”

Ketika ditanya tentang rahasia suksesnya, Paino selalu menjawab dengan sederhana: “Nggak ada rahasia khusus. Cuma jangan takut gagal, jangan malu belajar, dan selalu ingat kenapa kita mulai.”

Ia sering bercerita pada pengunjung muda tentang masa-masanya sebagai operator tambang. “Dulu saya cuma bisa nyetir truk, sekarang bisa bikin kolam, masak ikan, bahkan bikin pakan sendiri. Siapa sangka?”


Sore itu, sambil duduk di tepi kolam menunggu maghrib, Paino menatap ikan-ikan yang berenang tenang. Di kejauhan, terdengar suara tawa keluarga yang sedang makan bersama. Anaknya yang dulu masih dalam kandungan kini sudah remaja, membantu melayani pelanggan dengan ramah.

“Alhamdulillah,” gumamnya. “Mimpi sederhana ternyata bisa jadi kebahagiaan besar.”

Di tengah debu Jalan Poros Kabo Sangatta yang masih beterbangan, tempat Paino tetap berdiri tegak. Bukan sekadar tempat mancing atau makan, melainkan rumah kedua bagi siapa saja yang butuh ketenangan, inspirasi, atau sekadar ingin merasakan kehangatan keluarga sederhana yang telah membuktikan bahwa mimpi, sekecil apapun, layak diperjuangkan.

“Kalau saya bisa, saya yakin kalian semua juga bisa. Yang penting jangan pernah berhenti bermimpi, dan jangan takut memulai dari yang kecil,” pesan Paino dengan mata yang masih berbinar, sama seperti dua dekade yang lalu ketika ia pertama kali memutuskan meninggalkan kemapanan demi sebuah mimpi di tepi kolam. (Ron/Q)

Loading