KUTAI TIMUR – Rumah berdinding kayu, dengan dominasi warna biru laut di Gang Melati, Gang yang menghubungkan antara Jalan Inpres dengan Jalan Pendidikan, Sangatta utara, menjadi saksi kisah inspiratif seorang ibu yang membuktikan bahwa mimpi besar bisa dimulai dari modal kecil. Nur Endang Mujiati, kelahiran Malang 27 Agustus 1976, kini menjadi salah satu pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang patut diperhitungkan di Kutai Timur.
Siapa sangka, perempuan yang kini dikenal sebagai “Ratu Bolu Tape Sangatta” ini memulai perjalanan bisnisnya hanya dengan modal Rp10 ribu pada tahun 2017. Dari uang receh yang hampir tak berarti, kini ia mampu meraih omzet hingga Rp1 juta per hari.
Cerita Endang dimulai dari kejenuhan sebagai ibu rumah tangga. Suaminya, seorang pensiunan TNI AD, memberikan dukungan penuh ketika ia memutuskan mencoba peruntungan dengan membuat keripik singkong.
Dimulai sebagai pengisi waktu luang, perlahan berubah menjadi peluang bisnis serius. Media sosial menjadi jembatan pertama untuk menjangkau pelanggan lebih luas. Facebook-nya mulai ramai dengan pesanan, dan dari situlah ia menyadari potensi besar yang dimilikinya.
“Waktu itu saya iseng-iseng aja bikin keripik singkong, terus saya bagikan ke tetangga. Ternyata responnya bagus banget,” kenang Endang dengan senyum hangat.
Kokohnya kayu ulin penyusun rumah yang sangat sederhana dengan hiasan berbagai tanaman yang tertata apik dalam pot yang berjajar menjadi saksi perjalanan bisnis Endang yang tidaklah mulus. Tahun 2022 menjadi ujian terberat ketika banjir besar melanda Sangatta. Bahan baku langka, harga meroket, dan usaha keripiknya terpaksa vakum.
“Saat banjir itu, saya sempat down. Tapi saya ingat pesan dari pelatihan PT PAMA, jangan pernah menyerah, cari jalan keluar, itu yang selalu terngiang saat dihantui oleh kekhawatiran, ” ujarnya dengan mata berbinar.
Dari keterpurukan itu lahir inovasi cemerlang. Endang beralih membuat bolu tape dan aneka kue basah. Keputusan ini ternyata menjadi turning point yang mengubah nasibnya. Bolu tape buatannya tidak hanya digemari warga lokal, tapi juga diminati hingga Jakarta, Bontang, dan Sulawesi.
Ketika pandemi COVID-19 melanda dan banyak pelaku usaha terpuruk, Endang justru merasakan berkah. Sebagai anggota kelompok UMKM Okusa (Olahan Kuliner Sangatta) binaan PT PAMA, ia mendapat kesempatan emas berjualan di area mess karyawan.
“Karyawan waktu itu tidak bisa keluar karena protokol kesehatan. Kami diizinkan berjualan di halte PAMA. Alhamdulillah, omzet malah naik drastis,” ceritanya dengan rasa syukur.
Transformasi Melalui Pembinaan PT PAMA
Keikutsertaan Endang dalam program LPB PAMA Banua Etam yang didukung PT Pamapersada Nusantara dan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) menjadi titik balik. Pelatihan Basic Mentality tahun 2018 membuka matanya tentang potensi besar yang dimilikinya.
“Kami diajarkan mental dasar entrepreneur, cara menghitung HPP (Harga Pokok Penjualan), mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan benar. Ini sangat berguna untuk sustainability bisnis,” jelasnya.
PT PAMA tidak hanya memberikan ruang berjualan, tetapi juga pelatihan komprehensif mulai dari manajemen keuangan, pembinaan mental usaha, hingga strategi pemasaran. Pendampingan ini terbukti ampuh membantu Endang mempertahankan konsistensi dan daya juang di tengah berbagai tantangan.
Kini, dari dapur sederhana di rumahnya, Endang memproduksi beragam varian bolu dengan cita rasa khas rumahan: bolu pandan, brownies, pisang, gula merah, keju, caramel, hingga kelapa. Namun, bolu tape tetap menjadi primadona yang paling diburu pelanggan.
Setiap kemasan bolu dijual dengan harga Rp35 ribu per mika. Dengan harga terjangkau namun kualitas premium, produknya bahkan sudah merambah ke bandara-bandara besar seperti Bandara Sepinggan dan Bandara Banjarmasin sebagai oleh-oleh khas Kalimantan Timur.
“Dari semua varian, bolu tape adalah best seller. Rasanya unik, tidak ada yang bisa meniru,” katanya bangga.
Lebih dari Sekadar Bisnis
Rumah Endang di Gang Melati kini telah bertransformasi menjadi galeri olahan kuliner Sangatta. Sebagai bendahara komunitas OKUSA, ia tidak hanya fokus pada bisnisnya sendiri, tetapi juga membantu mengembangkan pelaku UMKM lainnya.
“UMKM itu bukan cuma mata pencaharian, tapi ruang perjuangan yang butuh mental baja. Kita harus saling support,” tegas perempuan yang juga aktif di Persatuan Istri TNI AD (PERSIT) Kutai Timur ini.
Dengan omzet yang kini mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta per hari, terutama di akhir pekan, Endang tidak lupa berbagi motivasi untuk para pelaku UMKM pemula.
“Pesan saya untuk yang baru merintis, jangan patah semangat. Kalau hari ini jualan tidak laku, jangan berhenti untuk besok. Tetap berusaha karena semua yang menentukan itu Allah. Yang penting kita ikhtiar maksimal,” pesannya dengan penuh semangat.
Refleksi Kesuksesan
Perjalanan Nur Endang Mujiati dari modal Rp10 ribu hingga omzet jutaan per hari bukan sekadar kisah sukses biasa. Ini adalah testimoni nyata bahwa dengan tekad kuat, kerja keras, dan bimbingan yang tepat, tidak ada impian yang terlalu besar untuk diwujudkan.
Kehadirannya sebagai role model UMKM di Kutai Timur membuktikan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui program korporasi seperti yang dilakukan PT PAMA dapat menciptakan dampak multiplier yang luar biasa. Dari satu orang yang dibina, lahir inspirasi untuk ribuan pelaku UMKM lainnya.
Kini, ketika nama Sangatta disebut, bolu tape Endang telah menjadi salah satu ikon kuliner yang membanggakan. Dari dapur sederhana, ia telah mengukir prestasi yang menginspirasi banyak orang bahwa kesuksesan sejati dimulai dari keberanian melangkah, meskipun dengan modal yang sangat terbatas.
Hingga saat ini, Nur Endang Mujiati terus membuktikan bahwa di balik kesederhanaan ibu rumah tangga, tersimpan kekuatan luar biasa untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan. Kisahnya menjadi bukti bahwa tidak ada yang tidak mungkin ketika tekad dan kerja keras bersatu dalam satu tujuan.(Ron/Q)
![]()

