Oleh: Ekky Yudistira
INI adalah arogansi dari “Pena Kosong” yang lebih doyan ceremonial. Over claim pribadi hanya untuk membentuk stigma positif di mata mereka yang disebutnya “pembaca” yang sebenarnya adalah para hamba penjilat. Mereka yang dulunya hanya copy-paste coretan korporat, kini bermetamorfosis menjadi dalang opini publik dengan kedok ahli komunikasi.
Betapa mudahnya mereka mengubah wajah dari seorang plagiat menjadi “penggiat” yang sok bijaksana. Dengan bangga melabelling diri setinggi Gunung Semeru di bio media sosial, padahal track record mereka hanya sebatas gundukan tanah bekas galian rumah jangkrik.
Pena kosong ini memiliki mata pena tapi tumpul, tidak berisi warna, menyatu dengan buzzer produk-produk korporat yang kini telah bertransformasi menjadi pahlawan lingkungan, juru bicara bagi masyarakat. Alangkah indahnya realitas itu, mungkin bisa dibuat suatu sinetron seperti yang sering beredar di layar kaca ataupun channel youtube. Namun faktanya justru sebaliknya— itu hanya sebuah sandiwara murahan yang dibalut kemasan mewah yang tak layak jadi tontonan.
Mereka yang kemarin masih sibuk mem-buzzing “Program Baik” Nahkoda yang baru naik tahta, hari ini tiba-tiba menjadi pegiat mangrove. Yang semalam masih mempromosikan plester penyerap racun, pagi ini berubah menjadi edukator kesehatan lingkungan. Transformasi instan yang lebih cepat dari sulap pesulap jalanan.
Yang lebih memprihatinkan, mereka melakukannya dengan penuh keyakinan, seolah-olah lupa dengan jejak digital yang telah mereka tinggalkan. Screenshot postingan lama menjadi bukti bisu betapa rapuhnya integritas yang mereka banggakan.
Lakon Baru dalam Pewayangan Modern
Pepesan kosong coretan pena tumpul ini menjadi ikonik baru dalam dunia pewayangan, memainkan lakon layaknya paman dari pihak Kurawa yang terkenal dengan perilakunya yang sangat manusiawi. Seperti Sangkuni yang licik namun pandai bersilat lidah, para pena kosong modern ini menguasai seni memanipulasi narasi dengan dalih kepentingan rakyat.
Mereka adalah Durna masa kini—guru yang mengajarkan ilmu palsu kepada murid-muridnya yang polos. Dengan kedok pendidikan dan pencerahan, mereka menyebarkan bias dan agenda tersembunyi yang menguntungkan kepentingan segelintir pihak.
Dalam lakon pewayangan, kita tahu bahwa tokoh-tokoh Kurawa pada akhirnya akan kalah karena kebatilan yang mereka lakukan. Namun dalam dunia nyata, para “Pena Kosong” ini justru sering kali meraih pujian dan penghargaan dari mereka yang tidak paham akan permainan kotor di balik layar.
Yang lebih ironis, ekosistem ini didukung oleh para “hamba penjilat” yang dengan bangga menyebut diri mereka sebagai pembaca setia. Mereka adalah audiens yang mudah terpesona oleh retorika kosong dan gimmick sensasional, tanpa pernah mempertanyakan kredibilitas sumber informasi yang mereka konsumsi.
Para penjilat ini menjadi validasi bagi eksistensi pemain kosong. Setiap like, share, dan komentar pujian menjadi suntikan dopamin yang memperkuat delusi kebesaran mereka. Simbiosis mutualisme antara yang haus pujian dan yang butuh hiburan murahan.
Fenomena ini bukan sekadar masalah individual, tetapi telah menjadi kanker dalam tubuh ekosistem informasi kita. Ketika pena kosong bersuara lebih keras dari ahli sesungguhnya, ketika buzzer berlagak menjadi pemikir, masyarakat kehilangan kompas untuk membedakan yang otentik dari yang artifisial.
Generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan ini akan menganggap bahwa kredibilitas bisa dibeli dengan followers dan engagement rate. Mereka akan berpikir bahwa keahlian bisa diperoleh dalam semalam, cukup dengan menonton video tutorial dan membaca artikel Wikipedia.
Kembali ke Hakikat Keilmuan
Dalam pewayangan, setiap lakon selalu berakhir dengan kemenangan kebenaran atas kebatilan. Arjuna yang konsisten berlatih akan mengalahkan Karna yang hanya mengandalkan kesaktian instan. Bima yang jujur akan menang atas Duryudana yang licik.
Begitu pula dalam dunia literasi dan jurnalisme, mereka yang membangun kredibilitas dengan konsistensi, riset mendalam, dan integritas moral akan bertahan lebih lama dibanding para pena kosong yang hanya mengandalkan sensasi sesaat.
Mari kita menjadi pembaca yang cerdas, yang tidak mudah terpesona oleh kemasan mewah tanpa substansi. Mari kita dukung mereka yang benar-benar berkarya dengan dedikasi, bukan mereka yang hanya pandai bersilat lidah di media sosial.
Karena pada akhirnya, mata pena yang benar-benar tajam, berisi warna akan meninggalkan jejak yang bermakna, sementara pena kosong hanya akan menghasilkan coretan yang mudah pudar ditelan waktu.
![]()

