Oleh: Ekky
Wartawan – berandaindonesia.id
Seekor sapi menutupi goresan pena dan puluhan fakta tentang bagaimana tambang-tambang legal ataupun ilegal yang beroperasi di balik eforia Idul Adha tahun ini. Pertiwi masih menangis dengan luka-luka yang menganga dan menguar menyebarkan debu aktivitas pertambangan.
KEMARIN siang ponsel saya berdering. Pesan WhatsApp grup dari rekan di organisasi: ada sapi qurban untuk organisasi. Datang saat penyembelihan nanti ya, hari lebaran kedua.”
Saya menatap layar ponsel dalam diam. Saya paham betul asal sapi ini dari mana. Belum lama ini, saya baru saja melakukan riset tentang pencemaran Sungai Sangatta yang diduga akibat aktivitas pertambangan batu bara. PT CCC adalah salah satu nama yang muncul dalam catatan investigasi saya. Kini, seekor sapi dari mereka akan dipotong atas nama “kepedulian sosial” untuk kami, para jurnalis.
Ironi macam apa ini?
Sebagai wartawan yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia jurnalistik, saya paham betul kompleksitas profesi ini. Kami bukan malaikat yang hidup tanpa kebutuhan material. Gaji wartawan—terutama di media daerah—tidak selalu cukup untuk hidup layak. Ketika ada “bantuan” dari perusahaan, termasuk dalam bentuk hewan qurban, perasaan syukur bercampur dengan kegelisahan menggelitik profesionalisme.
Saya ingat betul wajah istri saya tahun lalu ketika saya pulang membawa daging qurban dari organisasi. “Alhamdulillah, rejeki anak-anak,” katanya sambil tersenyum. Anak-anak kami yang masih SD dan berumur hampir 4 tahun bersorak gembira. Mereka tidak tahu bahwa daging itu berasal dari perusahaan yang sedang saya investigasi karena dugaan pelanggaran lingkungan.
Malam itu saya tidak bisa tidur. Setiap gigitan daging yang kami santap terasa seperti mengunyah dilema moral yang pahit.
Perusahaan tahu persis apa yang mereka lakukan. Mereka tidak perlu menyuap wartawan dengan amplop berisi uang. Cukup dengan menyentuh sisi kemanusiaan kami—memberikan bantuan saat momen religius, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, atau sekadar menunjukkan “perhatian” kepada pers lokal.
Saya pernah diundang ke acara Corporate Social Responsibility (CSR) sebuah perusahaan, acaranya meriah, CEO-nya ramah, dan narasumbernya fasih berbicara tentang komitmen lingkungan. Namun seminggu kemudian, saya menerima laporan dari warga bahwa diduga limbah pabrik mereka mencemari sungai.
Ketika saya menulis artikel tentang pencemaran itu, rekan seprofesi saya bertanya, “Ky, kamu yakin dengan sumber ini? Kan kita baru saja dapat bantuan dari mereka.” Bukan rekan saya orang jahat. Dia hanya manusia biasa yang tidak ingin konflik dengan pihak yang “sudah baik” kepada kami.
Dalam perjalanan jurnalistik saya, saya sering bertemu dengan korban-korban aktivitas tambang yang tidak pernah terdengar suaranya. Ada Mbah Sari, nenek berusia 65 tahun, yang menangis karena suaminya di vonis penjara akibat berkebun di lahan yang di klaim konsesi perusahaan tambang dan kawasan hutan produksi. Ada Pak Salam, warga kota ini yang hingga saya menulis sekarang ini masih harus terjebak dibalik jeruji besi setelah putusan vonisnya terus menerus dibanding akibat ketidakpuasan perusahaan pelapor atas hukuman yang dijatuhkan.
“Mas wartawan, tolong ceritakan nasib kami,” kata Mbah Sari sambil berlinang air mata saat menunggui suaminya yang tak kalah tua darinya menunggu disidangkan di pengadilan negeri. “Kami sudah tidak punya suara.”
Namun ketika saya kembali ke organisasi, saya dihadapkan pada realitas bahwa organisasi kami juga menerima “bantuan” dari industri pertambangan. Tidak mudah menulis kritik terhadap tangan yang (seolah-olah) memberi makan.
Era digital membuat jejak setiap tulisan kami terekam abadi. Suatu hari, anak saya yang baru masuk kelas dua sekolah dasar bertanya, atas tumpukan kliping artikel saya “Bapak, kenapa artikel bapak tentang tambang tidak sebanyak artikel tentang prestasi CSR perusahaan tambang yang bapak koleksi?”
Pertanyaan polos anak saya itu seperti tamparan. Saya sadar bahwa tanpa disadari, narasi positif tentang perusahaan tambang mendominasi tulisan-tulisan saya. Bukan karena saya sengaja bias, tetapi karena akses informasi positif jauh lebih mudah didapat daripada data pelanggaran lingkungan yang seringkali ditutupi rapat.
Ketika Pena Terasa Berat
Pagi ini, sambil menyesap kopi dan membaca catatan yang saya buat tentang PT CCC, saya merasakan beban yang luar biasa berat di pundak. Di hadapan saya tersebar data-data mencengangkan: Tingkat kekeruhan air sungai yang melampaui batas normal, keluhan warga tentang dugaan polusi udara, dan foto-foto kerusakan hutan yang mengenaskan.
Namun di sisi lain, saya juga memikirkan rekan-rekan seprofesi yang mungkin sudah menanti-nanti daging qurban itu. Mereka juga punya keluarga, punya kebutuhan, dan tidak semua dari mereka memiliki akses untuk melakukan riset mendalam tentang dampak negatif perusahaan tambang.
Dilema ini bukan hanya tentang saya sebagai individu, tetapi tentang sistem yang telah menciptakan ketergantungan halus antara media dan korporasi.
Saat itu juga saya memutuskan. Sapi qurban dari PT CCC tidak akan menghalangi saya menulis kebenaran. Daging itu mungkin akan mengenyangkan perut kami sehari dua hari, tetapi kebisuan saya akan membuat ratusan keluarga menderita bertahun-tahun.
Mungkin keputusan saya ini akan membuat saya dikucilkan. Mungkin akan ada tekanan dari berbagai pihak. Tapi saya sudah memilih. Saya akan terus menulis artikel tentang PT CCC dengan segenap data yang berhasil saya kumpulkan dan tidak akan menghadiri acara penyembelihan ataupun menerima hasilnya.
Catatan untuk Diri Sendiri
Profesi wartawan bukan tentang menerima atau menolak bantuan. Profesi ini tentang menjadi suara bagi yang tidak bersuara, mata bagi yang tidak bisa melihat, dan telinga bagi yang tidak bisa mendengar. Ketika seekor sapi qurban bisa membungkam pena saya, maka saat itulah saya kehilangan jati diri sebagai jurnalis.
Malam ini, saya mulai menulis artikel itu. Judul sementaranya: “Ketika Air Sungai Sangatta Berubah Warna: Jejak Pencemaran di Balik Gemerlap Batu bara.” Artikel ini akan saya dedikasikan untuk Mbah Sari, Pak Salam, warga di bantaran Sungai Sangatta, dan semua korban yang tidak pernah mendapat kesempatan bersuara.
Suatu hari nanti, ketika anak-anak saya sudah dewasa dan bertanya tentang pilihan-pilihan yang saya buat sebagai wartawan, saya ingin bisa menjawab dengan bangga: “Bapak memilih untuk menjadi suara kalian dan generasi mendatang, meskipun harus mengorbankan kenyamanan sesaat.”
Pertiwi masih menangis dengan luka-luka yang menganga. Seekor sapi qurban tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka itu. Yang bisa menyembuhkannya adalah keberanian untuk mengatakan kebenaran, meskipun kebenaran itu pahit dan mahal harganya.
Dan kebenaran itu akan saya tulis, dengan pena yang tidak akan pernah terbeli oleh seekor sapi manapun.
Wallahu a’lam bishawab.
![]()

