Dr. Hartono
(Alumni Ponpes Tebuireng Jombang & Dosen STAI Sangatta Kutai Timur)
SETIAP tanggal 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Momentum ini bukan sekadar perayaan, melainkan refleksi atas peran vital santri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Dari perjuangan kemerdekaan hingga era digital saat ini, kontribusi santri terus mengalir, membuktikan relevansi pendidikan pesantren di tengah arus modernisasi.
Sejarah mencatat, pesantren telah ada di Nusantara sejak abad ke-14. Bermula dari masa Sunan Ampel, lembaga pendidikan Islam ini tumbuh menjadi pilar penting dalam membentuk karakter bangsa. Ciri khasnya – adanya pondok, kiai, masjid, dan pengajian kitab klasik – menjadi benteng nilai-nilai luhur di tengah gempuran globalisasi.
Namun, pesantren bukan institusi yang statis. Ia terus bermetamorfosis, beradaptasi dengan tuntutan zaman tanpa kehilangan esensinya. Jika dulu fokus pada ilmu-ilmu agama, kini banyak pesantren yang mengintegrasikan pendidikan umum dan keterampilan praktis. Hasilnya, lahir generasi santri yang tidak hanya mendalam ilmu agamanya, tetapi juga mampu bersaing di kancah global.
Bukti nyata keberhasilan pendidikan pesantren terlihat dari banyaknya alumni yang berkiprah di berbagai sektor. Dari ilmuwan, birokrat, pengusaha, hingga tokoh agama, para santri membuktikan diri sebagai aset berharga bangsa. Mereka tidak hanya cakap dalam bidangnya, tetapi juga membawa nilai-nilai pesantren – kejujuran, kemandirian, dan tanggung jawab – ke dalam setiap aspek kehidupan.
Penetapan Hari Santri melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015 menjadi pengakuan resmi atas peran historis dan kontemporer santri. Keputusan ini didasari tiga pertimbangan utama: peran besar santri dalam perjuangan kemerdekaan, pentingnya meneladani semangat juang mereka, dan peringatan atas Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menunjukkan patriotisme santri.
Di era disrupsi teknologi dan krisis moral, pesantren menawarkan solusi unik. Pendidikan holistik yang menggabungkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual menjadi kunci dalam membentuk generasi yang tangguh dan berintegritas. Santri disiapkan bukan hanya untuk menghadapi tantangan zaman, tetapi juga untuk menjadi agen perubahan yang berlandaskan nilai-nilai luhur.
Tantangan ke depan adalah bagaimana santri dapat terus berkontribusi secara signifikan tanpa kehilangan jati dirinya. Inovasi harus terus digalakkan, namun tetap dalam bingkai nilai-nilai keislaman. Santri harus menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, menjaga warisan leluhur sembari menghadirkan solusi bagi problematika kontemporer.
Pada akhirnya, perayaan Hari Santri bukan sekadar nostalgia, melainkan momentum untuk meneguhkan komitmen. Komitmen untuk terus berkontribusi bagi negeri, berinovasi tanpa batas, namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur. Dengan demikian, santri akan selalu menjadi aset berharga bangsa, penjaga tradisi sekaligus pelopor inovasi. Selamat Hari Santri Nasional!.
![]()

