Opini by: Penjaga Portal
Berpikir dan bertindak berdasarkan rasa ke’AKU’an, untuk penghormatan, jabatan, uang ataupun kekuasaan. Hitam dan putih tak lagi jelas garis batas pemisah. Loyalitas, integritas, pengabdian, tanggung jawab, moral dan kesusilaan, hanya sebatas kosakata tertulis yang dapat dilafalkan namun tak dapat diwujudkan secara nyata.
Mimpi akan kekuasaan, ketenaran, dan kekayaan menjadi hantu yang menguasai jiwa dan pikiran, merasuk dalam hingga ke tiap mili sumsum, mengalir ke setiap organ melalui pembuluh darah. Menghalalkan segala cara, menumbalkan sesama manusia atas dasar kemanusiaan, menjadi pemandangan dan rutinitas yang terlihat dalam setiap strata masyarakat.
Semua kefanaan tersebut merupakan hal yang paling menonjol sebagai motif bagi manusia dalam melakukan segala tindakan yang dilakukan. Ini adalah jenis perilaku ‘NORMAL’ manusia ditengah carut marutnya tatanan dan jual beli kepercayaan saat ini. Kamuflase serta topeng menjadi penghias wajib setiap manusia yang kehilangan jati diri dan larut dalam kefanaan dunia.
Ajaran agama, pendidikan tentang moral dan etika, yang ditanamkan mulai dari kecil hingga dewasa, baik di keluarga maupun sekolah. Saat terjun ke masyarakat yang begitu kompleks hanya menjadi sebatas retorika belaka. Miris memang, namun itulah nyatanya kenormalan manusia.
Pernahkah terfikirkan dalam kenormalan tersebut ada sisi yang menjungkirbalikkan tatanan moral, sudut pandang dan cara pikir yang selama ini dihindari oleh kenormalan manusia meskipun lebih jujur, terbuka, dan tanpa tendensi. Mungkin singkatnya sebut saja sisi abnormal.
Dalam konteks abnormal, secara umum manusia jenis ini akan dipandang aneh bahkan mungkin gila oleh manusia lainnya. Namun sejatinya sisi abnormal manusia tersebut merupakan sisi terjujur manusia, dimana semuanya masih dipertimbangkan dengan baik dan seksama, akal dan nurani saling menopang.
Hal tersebut terjadi karena dalam keabnormalan, manusia tidak perlu untuk berpura pura, menabrak aturan yang ditetapkan oleh manusia. Hanya konteks keimanan lah yang menjadi dasar perbuatan yang dilakukan. Sehingga manusia tersebut dapat menjadi jati dirinya sendiri dan hidup dengan normal.
Salah seorang tokoh agama pernah menyampaikan bahwa manusia itu takut dan mengakui akan adanya makanan haram, tapi tidak takut dan bahkan mencari secara rakus uang haram untuk kepentingannya. Dari hal ini pun secara pribadi dapat disimpulkan bahwa manusia secara normal akan jadi munafik, penuh kepura-puraan dan memiliki niat jahat terselubung yang besar. Sebaik apapun orangnya, perilakunya, ketaatannya. Jika dibandingkan dengan manusia abnormal yang mungkin notabene aneh, nyata tidak taat aturan, penuh pelanggaran, namun masih memiliki akal dan nurani yang sehat, memahami dengan baik konsep kemanusiaan tentu kenormalan yang ditunjukkan oleh para manusia bertopeng tersebut tidaklah sebanding.
Dari berbagai kata dan kalimat yang mungkin membingungkan diatas poinnya adalah ajakan untuk berlomba menjadi seutuhnya manusia sesuai fitrah yang diberikan. Bukan berlomba mengejar kenormalan ataupun keabnormalan yang disebutkan dalam berbagai paragraf sebelumnya. Mungkin menjadi manusia sesuai fitrah yang diberikan akan terlihat tidak normal dalam era saat ini yang notabene karakter dan sifat palsu lebih dominan ditonjolkan akibat pengaruh dari tontonan, dan didukung dengan tekhnologi modern yang memunculkan berbagai aplikasi penunjang kepalsuan tersebut.
Menjadi lebih baik itu sangat diperlukan, namun bukan dengan menggunakan topeng tapi melalui keikhlasan, kebulatan tekad, dan ketegasan untuk berani jujur menjadi diri sendiri. Keyakinan dan keimanan sesuai pemahaman yang dimiliki mungkin juga akan lebih berarti ketimbang menjadi seperti kemauan manusia lainnya tapi membuat nurani dan otak menjerit karena tak sejalan.
Perlu dipahami, apapun alasannya, menggunakan topeng tak membuat manusia menjadi Ultraman, Satria Baja Hitam, ataupun komplotan Power Rangers yang selalu menjadi tokoh pembasmi kejahatan. Malah dapat terjadi akibat topeng yang dipakai hilanglah pikiran dan budi pekerti yang dimiliki akibat terhapusnya jati diri.Jika hal itu terjadi maka posisi manusia lebih rendah dari hewan.
![]()

