SAMARINDA — Kondisi ekosistem Bendungan Benanga di Lempake, Samarinda Utara, berada dalam tingkat yang memprihatinkan. Sepekan terakhir, aliran air di ikon penampungan air Kota Samarinda ini menghitam, stagnan, dan menebarkan aroma bau busuk menyengat hingga radius sepuluh meter.
Pantauan di lapangan pada Rabu (16/9/2026) menunjukkan debit air bendungan menyusut drastis akibat musim kemarau. Tidak adanya arus air membuat tumpukan sampah domestik dan endapan limbah pekat terperangkap di dasar dan permukaan sungai Karang Mumus area bendungan.
Resah dengan bau tak sedap yang memicu mual, warga sekitar bahkan memasang papan peringatan darurat berunsur kardus bertuliskan “Jangan Buang Sampah di Sungai” di dekat jembatan bendungan.
“Sudah sekitar seminggu ini air di aliran Sungai Karang Mumus hitam. Apalagi kalau cuaca panas begini, campur antara sampah dan limbah, bikin warga jadi menghirup bau tak sedap,” keluh Asep (35), warga yang bermukim di sekitar bendungan.
Menanggapi pencemaran parah di bendungan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda menerjunkan tim ke lokasi pada Kamis (17/9/2026). Dari penelusuran di sepanjang aliran, petugas menemukan penyumbang utama pencemaran air bendungan berasal dari limbah cair industri tahu lokal yang telah dibuang langsung ke sungai sejak 1994.
DLH Samarinda langsung menjatuhkan sanksi administratif berupa larangan pembuangan limbah ke sungai serta menginstruksikan penyedotan bak penampungan bekerja sama dengan Dinas PUPR. Langkah ini diambil guna memutus rantai pencemaran agar kualitas air dan ekosistem Bendungan Benanga dapat segera dipulihkan.(*/mn)
![]()

