KUTAI TIMUR — Tinggal satu tarikan napas lagi. Begitu kira-kira gambaran capaian Dinas Pendidikan Kabupaten Kutai Timur (Disdik Kutim) dalam mengejar status Kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG) untuk 32 sekolah dasar di wilayahnya. Dari empat syarat yang ditetapkan Google for Education Indonesia, 30 dari 32 sekolah sasaran telah menuntaskan tiga syarat sekaligus. Yang tersisa hanya satu namun bukan perkara kecil: pengadaan minimal 60 unit Chromebook per sekolah

“Kita sudah hampir bisa menjadi 32 KSRG. Tiga syarat sudah kita laksanakan semuanya. Tinggal satu yang belum terpenuhi,” ujar Kepala Disdik Kutim, Mulyono, saat ditemui awak media baru-baru ini.

Tiga syarat yang telah dipenuhi meliputi seluruh guru mengikuti bimbingan teknis (bimtek) level zero dari Google, minimal 30 persen guru meraih sertifikasi Google minimal Level 1 (L1), serta seluruh warga belajar baik guru maupun siswa telah memiliki akun belajar resmi (akun belajar.id).

Ketentuan ini sejalan dengan kerangka persyaratan KSRG yang berlaku secara nasional. Program yang diinisiasi Google for Education Indonesia ini memang mensyaratkan sekolah calon rujukan untuk memiliki minimal 60 unit Chromebook aktif — idealnya mencakup dua kelas atau rombongan belajar — di samping capaian sertifikasi guru dan komitmen inovasi pembelajaran berbasis teknologi. Sekolah yang lolos akan mendapat pengakuan resmi dari Google for Education Indonesia, hak penggunaan logo Google, pendampingan berkelanjutan, hingga peluang kolaborasi lintas negara sebagaimana pernah dijalankan sejumlah sekolah KSRG dengan mitra di Malaysia.

Ketersediaan 60 unit Chromebook itulah yang kini menjadi pekerjaan rumah terakhir Disdik Kutim. Untuk mengatasinya, Mulyono telah mengajukan proposal dukungan kepada PT Kaltim Prima Coal (KPC), perusahaan tambang batu bara yang wilayah konsesinya bersinggungan langsung dengan sebagian besar sekolah sasaran program.

“Saya sudah buat proposal ke KPC dan sudah di posisi berproses sekarang. Kalau ini bisa terpenuhi, insyaallah langsung kita launching,” kata Mulyono.

Penjajakan kerja sama dengan KPC bukan tanpa preseden. Perusahaan yang mengoperasikan salah satu tambang terbuka terbesar di dunia ini dikenal memiliki program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyasar sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat di wilayah lingkar tambang. Sejumlah kajian akademik bahkan mencatat kemitraan pemerintah daerah dan KPC dalam program CSR pendidikan di Kecamatan Bengalon sebagai salah satu model public-private partnership yang berjalan konsisten dari sisi akuntabilitas, transparansi, dan keberlanjutan program.

Dari 32 sekolah yang ditargetkan menjadi KSRG, 30 di antaranya memang berada dalam lingkar operasional KPC, tersebar di empat kecamatan: Sangatta Utara, Sangatta Selatan, Rantau Pulung, dan Bengalon. Kedekatan geografis ini yang mendasari pertimbangan Disdik Kutim untuk menjadikan KPC sebagai mitra strategis penggenap syarat Chromebook, sekaligus melanjutkan pola kolaborasi CSR pendidikan yang sudah terbangun di kawasan tersebut.

Mulyono menambahkan, program KSRG sengaja dimulai dari jenjang sekolah dasar mengingat jumlahnya paling besar di antara total 702 satuan pendidikan di Kutim yang mencakup jenjang PAUD, SD, dan SMP.

Langkah Kutim ini sejalan dengan geliat serupa di berbagai daerah lain. Pemkab Kutim sendiri sebelumnya telah menegaskan ambisi menjadikan program KSRG sebagai lokomotif digitalisasi pendidikan, dengan harapan Kutim tidak hanya menjadi rujukan di tingkat Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional. Sebagai perbandingan, Pemkot Balikpapan tengah mengembangkan 11 sekolah KSRG dengan skema bertahap per kecamatan, sementara program serupa telah menjangkau puluhan kabupaten/kota di lebih dari 20 provinsi di Indonesia.

Fondasi digital di Kutim juga terus diperkuat dari sisi infrastruktur jaringan. Pada 2024, Pemkab Kutim telah memasang jaringan internet di 191 sekolah, dan pada 2025 Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo Staper) Kutim menambah 36 unit perangkat Starlink baru untuk memperluas jangkauan internet ke sekolah-sekolah di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau jaringan terestrial sebuah langkah yang didasarkan pada evaluasi lonjakan kebutuhan bandwidth akibat penggunaan Smart TV dan aplikasi pembelajaran daring di sekolah.

Program KSRG ini berjalan paralel dengan pemanfaatan jaringan Starlink yang pengelolaan pulsanya resmi dipindahkan ke Disdik Kutim mulai 2026. Mulyono menyebut infrastruktur konektivitas ini menjadi tulang punggung pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) berbasis digital, yang kini telah menjangkau jenjang SD dan SMP — sejalan dengan pelaksanaan TKA nasional tahun ajaran 2026/2027 yang mulai diterapkan serentak di berbagai daerah sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan berbasis komputer.

“Starlink sudah jalan untuk TKA. Tahun ini pulsanya ada di dinas pendidikan supaya pemanfaatannya lebih maksimal,” pungkas Mulyono.

Dengan tiga dari empat syarat sudah di tangan dan satu syarat tersisa yang tengah diupayakan lewat sinergi bersama KPC, Disdik Kutim optimistis peluncuran status KSRG untuk 32 sekolah dasar di Bumi Sangkulirang-Mangkaliat ini tinggal menunggu waktu. (Adv-kominfo/Ad)

Loading