SAMARINDA – Di balik riuh rendah mobilitas Kota Samarinda yang kian padat, ada ancaman yang sering kali datang tanpa suara, Tuberkulosis (TBC) dan HIV/AIDS. Penyakit-penyakit ini tidak hanya menyerang raga, tetapi juga sering kali mengisolasi jiwa penderitanya dalam stigma dan keterlambatan penanganan.

Menyadari hal tersebut, Pemerintah Kota Samarinda melalui tangan dingin para tenaga medis terus bergerak ke akar rumput. Di Aula Kecamatan Samarinda Ulu, Selasa (14/4/2026), suasana hangat menyelimuti sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) pencegahan penyakit menular. Di sana, dr. Yanti Evi Arlini Gultom, seorang spesialis paru, berbicara bukan sekadar sebagai ahli, melainkan sebagai penyambung nyawa bagi mereka yang mungkin sedang ragu untuk memeriksakan diri.

Dengan nada bicara yang penuh empati, dr. Yanti mengisahkan realita pahit di ruang praktik. Banyak pasien yang datang ketika napas mereka sudah tersengal dan tubuh telah melemah.

“Banyak pasien datang dalam kondisi sudah cukup berat karena menganggap batuk biasa, padahal itu bisa jadi gejala awal TBC,” ujarnya dengan raut wajah prihatin.

Bagi dr. Yanti, setiap batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, penurunan berat badan yang drastis, atau sesak napas yang mulai mengganggu, bukanlah hal sepele. Itu adalah sinyal dari tubuh yang meminta pertolongan. Ia menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu menunggu semua gejala itu berkumpul. Cukup satu tanda saja sudah menjadi alasan kuat untuk melangkah ke puskesmas terdekat.

Narasi dr. Yanti kian menyentuh saat membahas keterkaitan TBC dengan HIV. Ia menjelaskan betapa rentannya mereka yang hidup dengan penurunan sistem imun. Di mata medis, mereka adalah kelompok yang paling membutuhkan perlindungan lebih.

“Pasien dengan HIV harus lebih waspada karena sistem imunnya menurun, sehingga TBC lebih mudah menyerang,” jelasnya.

Namun, dr. Yanti memberikan secercah harapan. Koinfeksi—kondisi di mana seseorang mengidap keduanya—bukanlah akhir dari segalanya. Dengan pengaturan terapi yang tepat dan kedisiplinan, pengobatan TBC dan HIV tetap bisa berjalan beriringan. Pesan ini menjadi penguat bagi mereka yang selama ini merasa terhimpit oleh beban ganda penyakit tersebut.

Sosialisasi Raperda ini bukan sekadar urusan birokrasi dan tumpukan kertas. Ini adalah upaya memanusiakan warga Samarinda melalui kebijakan yang melindungi melalui deteksi dini, rantai penularan di lingkup keluarga yang paling dicintai bisa terputus. dr. Yanti mengingatkan bahwa sinergi adalah kunci. Kesadaran seorang ibu untuk memeriksakan anaknya yang batuk, atau keberanian seorang ayah untuk memeriksakan dirinya, adalah bentuk cinta tertinggi bagi keluarga.

Dengan regulasi yang lebih terintegrasi dan edukasi yang menyentuh hati, Samarinda tengah membangun benteng pertahanan. Tujuannya satu, memastikan setiap warganya bisa bernapas dengan lega, tanpa bayang-bayang ketakutan akan penyakit menular, demi masa depan kota yang lebih sehat dan berdaya.(*/mn)

Loading