SAMARINDA – Ada yang berbeda dari riuhnya persiapan menyambut bulan suci Ramadan di Kota Tepian tahun ini. Tradisi tahunan Sahur On The Road (SOTR) yang biasanya identik dengan konvoi kendaraan, kini bersiap bersalin rupa menjadi sebuah festival budaya dan sosial yang lebih tertib dan terpusat.
Sabtu, 7 Maret 2026 mendatang, kawasan Eks Bandara Temindung—yang kini populer dengan sebutan Kampung Ramadan Temindung (KRT)—akan menjadi saksi bisu transformasi tersebut. Lokasi ini dipilih menggantikan titik kumpul tahun-tahun sebelumnya di GOR Kadrie Oening Sempaja.
Bukan Sekadar Bagi-Bagi Makanan
Ketua Info Taruna Samarinda (ITS), Joko Iswanto, mengungkapkan bahwa SOTR kali ini dirancang untuk menyatukan semangat kemanusiaan dengan pelestarian budaya. Tak tanggung-tanggung, hentakan musik tradisional dan liukan bulu merak Reog Ponorogo akan menggema di landasan pacu tua tersebut.
“Pelaksanaan tahun ini lain dari sebelumnya. Kami menghadirkan grup kesenian tradisional Reog Ponorogo dari empat daerah sekaligus; Samarinda, Tenggarong, Bontang, hingga Sangatta,” tutur pria yang akrab disapa Jokis tersebut di sela rapat persiapan, Rabu (25/2/2026) malam.

Nuansa keberagaman semakin kental dengan hadirnya Tarian Dayak, denting magis Musik Sappe, hingga area permainan tradisional yang akan membawa pengunjung bernostalgia. Sambil menunggu waktu sahur, warga juga bisa menikmati bazar UMKM, melakukan cek kesehatan gratis, hingga mengikuti edukasi safety riding.
Seribu Lima Ratus Paket untuk “Pahlawan” Malam Meski kemasan acara berubah menjadi lebih meriah, misi utama SOTR sebagai aksi sosial tetap terjaga. Ketua Panitia, Sutrisno atau yang akrab disapa Dinata, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan sedikitnya 1.500 paket makanan siap santap.
Namun, berbeda dengan konvoi liar yang sering dikeluhkan masyarakat, pembagian makanan kali ini dilakukan dengan sistem regu yang terorganisir.
“Sebagian besar peserta akan mengikuti rangkaian kegiatan di Temindung, sementara tim khusus yang ditunjuk akan bergerak menyalurkan santap sahur ke pos-pos penjagaan yang sudah ditentukan,” jelas Dinata.
Rencananya, kegiatan akan diawali dengan apel singkat yang dipimpin langsung oleh Kapolresta Samarinda, Kombes Pol. Hendri Umar. Sebagai bentuk kepedulian, panitia juga akan menyerahkan santunan kepada 30 anak yatim piatu di wilayah Sungai Pinang sebelum tim bergerak menyisir rute.
Menghapus Stigma Negatif
Langkah memusatkan kegiatan di Eks Bandara Temindung bukan tanpa alasan. Panitia ingin memutus stigma negatif SOTR yang selama ini kerap berkelindan dengan balapan liar atau aksi bagarakan sahur yang gaduh dan memicu konflik.
“Kami ingin kegiatan ini menjadi contoh bagaimana sahur bersama bisa dilakukan dengan tertib, aman, dan justru menciptakan kondisi kondusif di Kota Samarinda,” tambah Dinata.
Menyisir Penjuru Kota
Sebanyak lima regu telah dibentuk untuk memastikan bantuan sampai ke tangan petugas di garda terdepan, mulai dari Koramil, Polsek, pos pemadam kebakaran (Damkar), hingga panti-panti kesehatan.
Regu 1 akan menyisir jalur protokol pusat kota (Samarinda Ulu dan Samarinda Kota).
Regu 2 fokus pada area Samarinda Ulu hingga Sungai Kunjang.
Regu 3 melintasi Jembatan Mahakam menuju Samarinda Seberang dan Palaran.
Regu 4 menjangkau wilayah Loa Janan Ilir hingga perbatasan Kutai Kartanegara.
Regu 5 bergerak ke utara menuju jalur Poros Samarinda-Bontang.

“Setelah seluruh paket tersalurkan, semua armada dijadwalkan kembali ke titik finis di Eks Lapangan Temindung untuk menutup rangkaian acara dengan doa bersama, menandai dimulainya babak baru SOTR yang lebih bermartabat di Kota Tepian.” pungkas Sutrisno.(mn)
![]()

