Oleh:Ekky Yudistira

Founder Konsorsium Media Politika

KETIKA kita bertarung dengan hitam dan putih dalam kelamnya cakrawala malam, entah apa yang didapat. Redupnya sinar rembulan ditambah sayunya pandangan bintang mengikis kepercayaan diri dan persentase kemenangan. Dalam berbagai jalur profesi, tekanan akan kebutuhan dan kemunafikan serta berbagai kecurangan layaknya warna hitam yang terus menggerus putih yang penuh dengan perjuangan untuk meraih kesuksesan.

Namun ada hal yang lebih menyakitkan daripada kehilangan, yakni kehilangan diri sendiri di tengah perjalanan meraih impian. Setiap kali kita membiarkan garis abu-abu menjadi lanskap permanen dalam hidup, kita telah menyerahkan sebagian jiwa kepada kegelapan yang seharusnya hanya singgah, bukan menginap.

Perjalanan menuju puncak kesuksesan sering kali menyajikan persimpangan yang menggugah. Di satu sisi, langit berbisik janji kemudahan, ambil jalan pintas, gunakan cara yang terharam, abaikan suara hati yang merepotkan. Di sisi lain, bintang-bintang membisikkan kebenaran yang pahit, kejujuran memerlukan pengorbanan, integritas membutuhkan pengulangan, dan nilai sejati bukan diukur dari kemenangan sekejap, melainkan dari warisan karakter yang bertahan.

Mereka yang terjebak dalam gelap sering kali adalah mereka yang bermula dengan mimpi paling cemerlang. Mahasiswa berprestasi yang mulai menyontek karena takut kehilangan ranking. Profesional muda yang pertama kali berbohong kecil, kemudian menemukan bohong yang lebih besar terasa lebih mudah. Pengusaha yang bermula dari idealisme, lalu menemukan kompetitor tidak bermain adil, sehingga dia pun memilih mengikuti.

Inilah tragedi paling senyap dalam masyarakat kita. Bukan hanya mereka yang gelap sejak awal, melainkan mereka yang cerah memucat perlahan-lahan, seperti lilin yang terbakar dari kedua ujungnya tanpa sadar bahwa cahayanya semakin berkurang.

Tekanan finansial, kekhawatiran akan masa depan, ambisi yang tak tertahankan, semuanya adalah tipu daya yang masuk lewat celah-celah keraguan. Kebutuhan menjadi alasan, alasan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan akhirnya menjadi karakter. Ketika itu terjadi, tidak ada lagi pembelaan. Hanya ada penyesalan yang datang terlambat.

Namun untuk mereka yang telah menginap terlalu lama di kegelapan, saya ingin berbisik sesuatu yang mungkin telah dilupakan: cahaya masih bisa dirayakan kembali. Pertobatan bukanlah mimpi yang mahal. Integritas bukanlah barang langka yang hanya dimiliki orang-orang pilihan. Keduanya adalah pilihan yang dapat dimulai hari ini, jam ini, detik ini.

Setiap langkah kecil menuju kejujuran adalah sebuah kemenangan. Mengakui kesalahan kepada rekan kerja. Mengembalikan keuntungan yang diraih dengan cara yang tidak sah. Memilih kerugian material daripada hilangnya harga diri. Ini bukan kelemahan—ini adalah kekuatan sejati yang dikaitkan dengan akar.

Mereka yang pernah jatuh dan kemudian bangkit sering kali menjadi advokat paling kuat bagi perubahan. Karena mereka tahu, benar-benar tahu apa harga dari setiap pilihan.

Perjuangan yang Bermakna Dimulai dari Dalam

Kesuksesan yang dibangun di atas fondasi kepalsuan adalah istana kartu yang menunggu angin pertama. Sebaliknya, kesuksesan yang dibangun perlahan melalui kerja keras dan integritas adalah benteng yang tahan terhadap segala cuaca kehidupan.
Dalam setiap profesi, ada orang-orang yang membuktikan hal ini setiap hari. Mereka adalah paramedis yang tetap berkomitmen meski gaji rendah. Guru yang mendidik dengan sepenuh hati meski dihargai murah. Pengusaha yang bangkrut demi membayar utang yang sempat diragukan keabsahannya. Mereka ini adalah bukti nyata bahwa putih masih bisa mengalahkan hitam, bukan dengan cara hitam, tetapi dengan ketangguhan putih itu sendiri.

Perjuangan hidup yang sesungguhnya bukan tentang menghilangkan tekanan eksternal. Musuh terbesar selalu tinggal di dalam, di ruang antara niat dan tindakan, antara keinginan dan keputusan. Kemenangan sejati adalah ketika kita memilih sulit namun bermakna, daripada mudah namun kosong.

Kepada mereka yang masih berdiri di garis abu-abu, atau bahkan telah berlari jauh ke dalam kegelapan: jalur putih tidak pernah ditutup. Tidak ada kesalahan yang terlalu besar untuk dimaafkan diri sendiri, asalkan ada tekad untuk berubah.

Bayangkan diri Anda di akhir kehidupan. Apakah Anda ingin dikenang sebagai orang yang meraih segalanya dengan cara apapun? Atau sebagai orang yang berjuang dengan apa adanya, dan justru menemukan kepuasan yang tidak pernah diberikan oleh kesuksesan yang terbeli dengan dusta?

Cahaya rembulan mungkin redup, dan bintang mungkin jauh. Tetapi malam juga akan berlalu. Fajar datang bagi mereka yang tetap berjaga dengan integritas di dalam hatinya.

Giliranmu untuk memilih. Hitam dan putih bukanlah takdir. Mereka adalah pilihan yang dibuat setiap hari, setiap jam, setiap menit.

Kembalilah ke putih. Dunia membutuhkan keberanianmu untuk percaya bahwa kebenaran masih ada harga—bahkan ketika harganya mahal.

Perlu diingat, perjalanan menuju kegelapan tidak pernah sepi. Ada suara-suara yang membujuk, ada tangan-tangan yang menarik, ada sistem yang dirancang untuk membuat kejahatan terasa sebagai kelaziman.

Ketika seorang pemuda ditawarkan jalan pintas pertama kalinya, ia tidak datang sendiri. Ada yang menawarkan, ada yang memfasilitasi, ada yang berjanji bahwa “semua orang melakukannya.” Ekosistem kegelapan adalah komunitas yang aktif merekrut. Mereka membutuhkan anggota baru karena mereka tahu bahwa kesendirian dalam dosa adalah penderitaan tersendiri. Semakin banyak yang melakukan, semakin ringan beban hati mereka masing-masing. Inilah logika setan: berbagi dosa hingga tidak terasa seperti dosa lagi.

Sistem korupsi tidak hidup sendiri. Ia hidup dalam jaringan. Pengusaha yang menyuap pejabat membutuhkan pejabat yang menerima. Mahasiswa yang menyontek membutuhkan senior yang menyediakan. Karyawan yang mencuri data membutuhkan atasan yang memberi kesempatan. Setiap lapisan adalah pendamping dalam kejahatan, dan pendampingan ini menciptakan ikatan yang menyerupai loyalitas, padahal hanyalah komplisitas bersama.

Inilah mengapa kegelapan begitu mudah menyebar di masyarakat kita. Karena ia mengubah dosa menjadi ekonomi, dan ekonomi menjadi normal. Ketika semua orang menerima uang suap, menerima soal ujian bocoran, menerima komisi illegal, tidak ada yang merasa bersalah lagi. Rasa bersalah diganti dengan rasa praktis.

Namun, ada mekanisme dalam diri manusia yang seharusnya melindungi dari kegelapan, rasa malu. Namun rasa malu modern telah digerus habis oleh rasionalisasi.

“Saya melakukannya karena terpaksa.” Terpaksa oleh apa? Oleh kehidupan yang mahal, oleh standar hidup yang meningkat, oleh keinginan untuk terlihat sukses. Terpaksa adalah alasan yang paling sering digunakan, padahal terpaksa bukanlah takdir melainkan pilihan dalam keterbatasan.

“Saya tidak sendirian dalam hal ini.” Benar. Dan itulah sebabnya mengapa kegelapan terus berkembang, karena banyak orang lain juga melakukannya. Tetapi realitas sosial tidak mengubah realitas moral. Jika semua orang mencuri, pencurian tetap pencurian. Jika semua orang berbohong, kebohongan tetap kebohongan.

“Mereka yang tidak melakukannya adalah naif atau tidak praktis.” Pernyataan ini adalah kemenangan final dari kegelapan. Ketika ia berhasil membuat mereka yang tetap putih terlihat bodoh. Tetapi ada perbedaan antara naif dan integritas. Orang naif tidak tahu risiko. Orang berintegritas tahu risiko, dan memilih kesulitan sekalipun.

Rasa malu yang sebenarnya adalah perasaan yang tertanam dalam kesadaran moral kita. Ia berbisik ketika kita berbohong, ia membangunkan kita di tengah malam, ia membuat kita ingin menyembunyikan diri dari mereka yang kita hormati. Rasa malu adalah tanda bahwa masih ada yang putih di dalam kita. Ketika rasa malu itu menghilang—ketika kita dapat melakukan kejahatan dengan tenang—itulah saat kita telah menyerah.

Mereka yang Memilih Sulit

Untuk membangkitkan kembali rasa malu yang sudah terpendam, kita perlu mendengarkan cerita-cerita. Cerita dari mereka yang menolak.

Ada dokter muda di tengah krisis finansial keluarga yang menolak tawaran praktik ilegal, meski tahu itu bisa membuat hidupnya lebih mudah. Ia memilih bekerja shift malam sambil mendengarkan jeritan hati orang tuanya yang sedang berjuang. Tetapi setiap kali ia menutup matanya di fasilitas kesehatan, ia tahu bahwa keputusannya murni.

Ada pendidik yang tidak pernah memberikan kunci jawaban ujian kepada siswa beruang, meski orang tua mereka datang dengan amplop berisi uang. Ia tetap mengajar dengan sepenuh hati, menjelaskan konsep berkali-kali sampai cahaya pemahaman menyala di mata murid. Ketika siswa itu akhirnya lulus dengan usaha sendiri, tangisan bahagia mereka adalah upah yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Ada pengusaha kecil yang bangkrut demi melunasi hutang kepada pemasok, meski secara hukum dia bisa mengeklaim pailit dan terbebaskan. Ia memilih jalan yang lebih panjang, bekerja dari nol lagi, mengumpulkan rupiah demi rupiah, sampai setiap utang terbayar. Tahun-tahun berlalu, dan bisnis barunya mulai tumbuh. Ketika dia akhirnya berhasil, kesuksesan itu terasa lebih manis karena tidak ada beban di pundaknya.

Cerita-cerita ini bukan cerita pemenang seperti yang sering kita dengar di media. Mereka tidak kaya raya, tidak terkenal, tidak mendapat penghargaan dari negara. Tetapi mereka adalah pemenang sejati dalam pertarungan terdalam dalam hidup: pertarungan melawan diri sendiri.

Namun kita juga harus jujur, tidak semua orang yang jatuh ke kegelapan adalah karena kelemahan moral. Kadang, sistem menciptakan pilihan-pilihan yang palsu. Pilihan antara kelaparan dengan integritas, atau kehidupan layak dengan kebohongan.

Tidak semua orang memiliki keberuntungan mendapat beasiswa. Tidak semua orang punya orang tua yang mampu membayar pendidikan. Tidak semua orang bisa memilih pekerjaan ideal ketika keluarga menunggu makan malam. Ketika seseorang memilih cara yang tidak sah karena itu satu-satunya cara dia bisa memberi makan anak-anaknya, adalah adil untuk mengatakan bahwa sistem telah memaksanya, bahwa masyarakat telah menggagalnya.

Ini bukan pembenaran untuk kegelapan, melainkan pengakuan bahwa kegelapan tidak pernah tercipta hanya dari niat jahat. Ia tercipta dari ketidakadilan struktural yang mengompresi manusia sampai mereka merasa tidak memiliki pilihan.

Oleh karena itu, tanggung jawab tidak hanya kepada individu yang memilih gelap, tetapi juga kepada masyarakat yang menciptakan kondisi di mana keputusan itu terasa tidak dapat dihindari. Kita harus membangun sistem yang memberikan jalan keluar yang bermartabat, kesempatan yang adil, dan perlindungan bagi mereka yang memilih untuk tetap putih meskipun itu berarti menderita.

 

Pertobatan Sebagai Proses, Bukan Momen

Bagi mereka yang ingin kembali ke putih, penting untuk memahami bahwa pertobatan bukanlah momen tunggal tetapi sebuah proses yang panjang dan menyakitkan.

Pertama adalah pengakuan. Mengakui bahwa apa yang dilakukan adalah salah, bukan karena tertangkap atau ketahuan, melainkan karena hati nurani menyapa kembali. Pengakuan ini adalah langkah paling sulit karena ia merusak identitas palsu yang telah dibangun. Orang yang selama ini merasa dirinya pragmatis, cerdas, dan berhasil harus mengakui bahwa ia juga pengkhianat, pencuri, pembohong.

Kedua adalah restorasi. Sejauh mungkin, mengembalikan apa yang telah diambil. Mungkin tidak semua bisa dikembalikan, trauma yang telah diberikan kepada orang lain tidak bisa dihapus, reputasi yang telah dihancurkan tidak bisa dipulihkan sepenuhnya. Tetapi apa yang bisa dikembalikan harus dikembalikan. Ada kekuatan dalam restorasi, bahkan jika hanya sebagian kecil.

Ketiga adalah perubahan perilaku. Ini adalah bagian yang paling memakan waktu. Kebiasaan korupsi telah mengakar dalam, kebiasaan berbohong telah menjadi refleks, kebiasaan mengambil keuntungan telah menjadi cara berpikir. Untuk berubah, orang harus membangun kebiasaan baru dari nol, dan melakukannya tanpa jaminan bahwa dunia akan memberikan reward. Bahkan, dunia sering kali memberikan punishment, kehilangan teman yang dulu berbagi dosa, kehilangan keuntungan yang dulu dinikmati, kehilangan status yang dulu dimiliki.

Keempat adalah penerimaannya diri. Bukan penerimaan diri dalam arti memaafkan diri sendiri, itu datang nanti, jika datang. Melainkan penerimaan bahwa masa lalu tidak bisa diubah, bahwa kepribadian telah berubah, bahwa orang tidak akan pernah menjadi apa yang mereka semula. Tetapi dari penerimaan ini, ada kebebasan untuk membangun masa depan yang berbeda.

Terakhir, ajakan ini bukan hanya untuk individu tetapi untuk masyarakat luas. Kita perlu menciptakan ekosistem di mana putih bisa hidup, berkembang, dan bahkan unggul.

Ini berarti menghargai integritas, bukan hanya kesuksesan. Ketika media kita hanya menampilkan pengusaha sukses tanpa mempersoalkan bagaimana kesuksesan itu didapat, kita sedang mengirim pesan bahwa hasil itu penting, proses itu tidak. Kita perlu mengubah narasi itu.

Ini berarti melindungi whistleblower, bukan menghukum mereka. Ketika seseorang berani mengungkapkan korupsi dan pada akhirnya dihukum oleh sistem, kita sedang mengatakan bahwa integritas adalah pengkhianatan.

Ini berarti membangun institusi yang adil. Ketika hukum itu sendiri korup, ketika sistem peradilan bisa dibeli dengan uang, kita sedang menghancurkan fondasi tempat putih berdiri. Orang tidak akan memilih jalan yang sulit jika jalan yang gelap ternyata lebih menguntungkan.

Ini berarti memberikan kesempatan kedua kepada mereka yang tulus ingin berubah. Jika mereka yang pernah jatuh selamanya disingkirkan dari masyarakat, maka tidak ada insentif untuk berubah. Tetapi jika ada kesempatan untuk direhabilitasi, untuk dibebaskan dari cap mantan koruptor, untuk memulai lagi, maka ada alasan untuk menolak kegelapan.

 

Cahaya Tidak Pernah Mati

Di tengah kegelapan yang semakin tebal, di tengah sistem yang sering kali memaksa kita untuk memilih hitam atau abu-abu, ada cahaya yang masih bersinar. Ia mungkin redup, ia mungkin jauh, tetapi ia masih ada.

Cahaya itu adalah dalam diri Anda. Di dalam setiap manusia ada kapasitas untuk memilih yang benar, untuk melakukan yang sulit, untuk percaya bahwa integritas memiliki nilai yang tidak bisa diukur dengan uang.

Cahaya itu juga dalam kisah-kisah orang-orang yang tetap putih. Mereka adalah bukti hidup bahwa sistem kegelapan tidak sepenuhnya menguasai masyarakat kita. Ada yang masih berdiri tegak. Ada yang masih percaya. Ada yang masih berani.

Cahaya itu juga dalam masyarakat yang mulai bangun. Gerakan-gerakan sosial yang menolak korupsi, yang menuntut transparansi, yang memperjuangkan keadilan, semuanya adalah manifestasi cahaya yang menolak dipadamkan.

Jadi, untuk mereka yang masih ragu-ragu di garis abu-abu, kembali. Kembali ke cahaya, kembali ke kesederhanaan yang murni, kembali ke kemampuan untuk menatap diri sendiri tanpa rasa jijik. Untuk mereka yang sudah terlalu jauh di kegelapan, mulai. Mulai kecil, mulai dari sini, mulai hari ini. Tidak terlambat untuk kembali. Tidak terlambat untuk menjadi putih lagi.

Untuk mereka yang masih setia pada cahaya, tetaplah berdiri. Jangan menyerah meskipun dunia sering kali memberikan harga yang mahal untuk integritas. Anda adalah jembatan antara kegelapan dan cahaya, dan kehadiran Anda adalah harapan bagi mereka yang ingin kembali.

Ketika fajar tiba, ia datang tidak untuk mereka yang paling cerdas, paling kuat, atau paling kaya. Tetapi untuk mereka yang berani tetap terjaga dengan cahaya di dalam hati mereka.

Giliranmu untuk memilih, apakah kau akan menjadi bagian dari kegelapan yang terus meluas, ataukah bagian dari cahaya yang perlahan, tetapi pasti, akan mengalahkan malam?

Pilihan itu ada di tanganmu. Selalu ada. Setiap hari. Setiap saat.

Loading