Dr. Hartono
Warga Ds.Margamulya & Dosen STAIS Kutai Timur
Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai penjuru negeri menyambutnya dengan beragam tradisi yang sarat makna. Salah satu tradisi yang terus hidup dan mengakar kuat dalam masyarakat adalah ziarah kubur. Tradisi ini bukan sekadar ritual turun-temurun, melainkan memiliki landasan teologis dan nilai spiritual yang mendalam. Dalam konteks keislaman, ziarah kubur menjadi momentum refleksi diri, penguatan iman, serta sarana merawat hubungan batin antara yang hidup dan yang telah wafat.
Dalam sejarahnya, Nabi Muhammad SAW pernah melarang umatnya untuk berziarah kubur. Larangan itu bukan tanpa alasan. Pada masa awal Islam, kondisi keimanan umat belum kokoh, dan dikhawatirkan praktik ziarah akan bercampur dengan tradisi jahiliyah yang berpotensi mengarah pada kemusyrikan. Namun, ketika fondasi tauhid telah kuat tertanam, Rasulullah kemudian memperbolehkan bahkan menganjurkan ziarah kubur dengan sabdanya, “Fazuruha” (berziarahlah kalian). Anjuran ini menunjukkan bahwa ziarah kubur memiliki hikmah besar, yakni sebagai pengingat kematian dan kehidupan akhirat.
Kesadaran akan kematian merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter spiritual seorang muslim. Ziarah kubur mengajarkan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Di hadapan pusara orang tua, keluarga, dan para leluhur, kita diingatkan bahwa suatu saat nanti kita pun akan menyusul mereka. Tanah yang kini kita pijak, kelak akan menjadi tempat peristirahatan terakhir kita. Kesadaran inilah yang melunakkan hati, menumbuhkan kerendahan diri, serta mengikis kesombongan.
Lebih dari itu, ziarah kubur juga merupakan bagian dari birrul walidain—bakti kepada orang tua. Dalam Islam, bakti tidak berhenti ketika orang tua wafat. Doa seorang anak yang saleh menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi mereka di alam kubur. Ziarah menjadi sarana menyambung doa, menghadiahkan bacaan Al-Qur’an, serta memohonkan ampunan kepada Allah bagi para pendahulu kita.
Di sinilah terjalin hubungan spiritual yang tidak terputus oleh kematian. Anak mendoakan orang tuanya, cucu mendoakan kakek-neneknya, dan generasi berikutnya terus merawat ingatan kolektif terhadap asal-usulnya.
Di berbagai daerah di Indonesia, tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan telah menjadi budaya religius yang diwariskan lintas generasi. Tak terkecuali di Desa Margamulya, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur. Wilayah yang didominasi oleh masyarakat Jawa ini menjaga tradisi ziarah dengan penuh kekhidmatan, terutama menjelang datangnya bulan suci. Tradisi tersebut bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan bagian dari identitas kultural dan spiritual masyarakat setempat.
Biasanya, menjelang Ramadhan, keluarga-keluarga berbondong-bondong menuju pemakaman umum. Mereka membersihkan makam, menabur bunga, membaca tahlil, dan memanjatkan doa bersama. Suasana haru sering kali menyelimuti prosesi ini. Ada rasa rindu, ada air mata, namun juga ada ketenangan karena telah menunaikan kewajiban moral dan spiritual kepada mereka yang telah mendahului.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya menjadi aktivitas individual, tetapi juga kolektif. Tokoh agama dan pemerintah desa saling bergandengan tangan untuk menjaga kelangsungan dan ketertiban kegiatan tersebut. Sinergi antara ulama dan umara menjadi cermin bahwa tradisi ini dipahami sebagai bagian dari nilai-nilai sosial yang perlu dirawat bersama. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ziarah di Margamulya dipimpin oleh seorang tokoh agama kharismatik, Kiyai Mustofa Kamal Al Hafidz. Di bawah bimbingan beliau, prosesi ziarah berjalan dengan tertib, sesuai tuntunan syariat, serta terhindar dari praktik-praktik yang menyimpang.
Kehadiran tokoh agama dalam memimpin ziarah memberikan legitimasi keagamaan sekaligus edukasi kepada masyarakat. Ziarah tidak dipahami sebagai sarana meminta kepada yang telah wafat, melainkan mendoakan dan mengambil pelajaran dari kematian. Penegasan ini penting agar tradisi tetap berada dalam koridor akidah yang benar. Dengan demikian, nilai budaya dan ajaran agama berjalan seiring tanpa saling bertentangan.
Ziarah kubur menjelang Ramadhan juga memiliki dimensi persiapan batin. Ramadhan bukan hanya bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga bulan penyucian jiwa. Mengawali Ramadhan dengan mengingat kematian adalah cara efektif untuk menata niat dan memperbaiki diri. Hati yang sebelumnya lalai menjadi lebih peka, kesalahan masa lalu disadari, dan tekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik pun tumbuh. Seolah-olah, para leluhur yang telah wafat menjadi saksi bisu komitmen kita menyambut bulan penuh ampunan.
Secara sosial, tradisi ini mempererat tali silaturahmi. Anggota keluarga yang jarang bertemu karena kesibukan, berkumpul di satu tempat dengan tujuan yang sama. Mereka berbagi cerita tentang orang-orang yang telah tiada, mengenang jasa dan kebaikannya, serta menanamkan nilai-nilai tersebut kepada generasi muda. Di sinilah ziarah menjadi ruang pendidikan karakter. Anak-anak belajar menghormati leluhur, memahami arti kematian, dan menyadari pentingnya doa.
Dalam perspektif yang lebih luas, tradisi ziarah kubur menunjukkan bahwa Islam mampu berakulturasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan esensi ajarannya. Selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid, tradisi dapat menjadi sarana dakwah dan penguatan iman. Justru dengan pendekatan kultural seperti ini, ajaran Islam terasa lebih membumi dan menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Tentu, tantangan tetap ada. Di tengah arus modernisasi dan gaya hidup serba praktis, sebagian generasi muda mungkin mulai memandang tradisi ini sebagai sesuatu yang kuno. Karena itu, diperlukan peran aktif tokoh agama, pendidik, dan orang tua untuk menjelaskan makna filosofis dan teologis di baliknya. Tradisi tidak boleh sekadar diwariskan, tetapi juga dipahami.
Pada akhirnya, tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan bukan hanya tentang mengunjungi makam, melainkan tentang perjalanan batin menuju kesadaran spiritual. Ia mengajarkan bahwa hidup adalah amanah, waktu adalah kesempatan, dan kematian adalah kepastian. Dengan berziarah, kita seakan berdialog dengan diri sendiri: sudahkah hidup ini kita isi dengan kebaikan?
Semoga tradisi yang terjaga dengan baik di Desa Margamulya, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur, ini terus lestari. Semoga ia menjadi jalan kebaikan, mempererat persaudaraan, serta menghadirkan keberkahan bagi yang hidup dan yang telah mendahului kita. Dan semoga, ketika kelak giliran kita tiba untuk kembali kepada-Nya, ada anak-cucu yang mendoakan dengan penuh cinta, sebagaimana hari ini kita mendoakan para leluhur kita.
![]()

