SAMARINDA — Setiap tahun, energi publik seringkali habis terkuras dalam perdebatan mengenai perbedaan awal puasa atau penentuan hari Idul Fitri. Sidang Isbat ditunggu, hilal dipantau, dan metode hisab diadu. Namun, di balik keriuhan astronomis tersebut, ada satu kenyataan yang jarang dibahas secara serius oleh para pemangku kebijakan maupun tokoh agama: Ke mana arus uang umat Islam mengalir selama 30 hari penuh keberkahan ini?

Artha Mulya, Ketua Perkumpulan Pengusaha Pangan Dan Kuliner Nusantara (PPKN) Provinsi Kalimantan Timur, memberikan sebuah simulasi angka yang mencengangkan. Berdasarkan data kependudukan terbaru, jumlah penduduk Muslim di Indonesia sangat besar, menjadikannya negara dengan populasi Muslim terbanyak di dunia.

“Jika kita merujuk pada jumlah Penduduk Muslim (2025) Per Semester I 2025, jumlah pemeluk agama Islam di Indonesia mencapai 249,82 juta jiwa. Jika di persentase penduduk Muslim sekitar 86,98% hingga 87,13% dari total penduduk Indonesia,” paparnya Artha yang ditemui di Kantor Gubernur, Rabu (18/2/2026).

Jumlah Rumah Tangga, lanjutnya meskipun data spesifik “jumlah rumah tangga Muslim” (Kepala Keluarga Muslim) jarang dipublikasikan secara eksplisit oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dalam satu angka tunggal, mengingat total Kepala Keluarga (KK) di Indonesia mencapai 88,93 juta (data 2022)

“Dari jumlah 249 juta jiwa ÷ 4 (bapak, ibu dan dua anak ), maka terdapat 62,250 juta jumlah rumah tangga muslim di Indonesia. Jika dilihat dari perkiraan penghasilan berdasarkan UMR Rp3,5 juta, maka pengeluaran rumah tangga di Indonesia, secara moderat, pengeluaran rata-rata belanja kebutuhan pangan, sandang, dan transportasi selama bulan Ramadan adalah Rp3 juta saja per KK (Ro3.000.000 x 62.250.000 jiwa = Rp186.750.000.000.000,-). Artinya perputaran uang sebesar 186,750 Triliun Rupiah dari umat Islam berputar dalam satu bulan Ramadan,” ucapnya.

Pasar Ramadan yang digelar setiap Bulan Puasa.

Artha mempertanyakan uang sebesar itu Apakah uang ini kembali menjadi penguat ekonomi umat, atau justru sekadar mampir untuk memperkaya pihak lain?

“Jika Rp186,750 triliun itu setidaknya 50% saja berputar di ekosistem ekonomi Islam, maka masalah kemiskinan dan ketercukupan pangan di setiap rumah umat niscaya akan teratasi tanpa perlu bergantung pada bantuan sosial,” pungkasnya.

Yang kita dapat sekarang, dari analisis Ekonomi, mengapa umat Islam seringkali hanya menjadi konsumen? “Fenomena ini menunjukkan adanya hambatan dalam ekosistem hilirisasi ekonomi umat,” jelas Artha Mulya yang juga aktif di medsos ini.

Dari analisa yang dilakukannya, beberapa poin analisis yang harus mendapat perhatian besar dari para pakar ekonomi ummat :

1. Lemahnya Mata Rantai Distribusi (Supply Chain)
Umat Islam di Indonesia adalah pasar (market) terbesar, namun belum menguasai rantai pasok secara utuh. Ketika seorang Muslim berbelanja bahan pokok di pasar, seringkali distributor besar di balik produk tersebut bukan dari kalangan umat. Analis ekonomi menilai, tanpa adanya grosir atau distributor skala besar yang dimiliki oleh ormas atau konsorsium umat, uang 141 Triliun itu akan langsung keluar dari kantong umat menuju korporasi raksasa.

2. Fenomena “Warung Tetangga” vs Ritel Modern
Ada kecenderungan gaya hidup yang berubah. Alih-alih berbelanja di warung tetangga atau sesama umat, masyarakat lebih memilih ritel modern (minimarket) demi kenyamanan. Padahal, uang yang dibelanjakan di warung tetangga akan langsung berputar di ekonomi lokal (multiplier effect), sementara uang di ritel modern cenderung ditarik ke pusat atau luar negeri.

3. Kurangnya Kesadaran “Belanja Ke Teman”
Secara psikologis, solidaritas ekonomi umat belum sekuat solidaritas ibadah. Belum ada gerakan masif yang mewajibkan atau setidaknya menghimbau agar 186 Triliun ini diputar di antara unit usaha milik warga Muslim sendiri.

Salah satu pusat perbelanjaan di Samarinda dipenuhi pengunjung saat menjelang Idul Fitri.(foto: ist)

MEMBANGUN KEMANDIRIAN MEMPERBAIKI ARAH ALIRAN UANG

Artha mengingatkan jangan sampai di bulan yang penuh maghfirah ini, umat Islam justru secara tidak sadar memperkuat dominasi ekonomi pihak lain yang tidak memiliki kontribusi langsung pada kesejahteraan pesantren, masjid, atau madrasah.

LANGKAH STRATEGIS KE DEPAN

Artha menyampaikan umat harus bangkitkan geraka Optimalisasi Warung Umat, mendorong umat untuk membelanjakan Rp3 juta tadi ke pedagang kecil di lingkungan sekitar.

Selain itu harus sudah memulai memberdayakan Koperasi Syariah Skala Besar. “Penggerak ekonomi umat segera membangun wadah yang mampu memotong jalur distribusi agar harga di tingkat umat bisa lebih bersaing dengan ritel raksasa,” tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa sertifikasi Halal dan Branding yang dapat memperkuat produk-produk UMKM lokal agar memiliki daya saing yang setara dengan produk industri.

“Sehingga ramadan yang penuh maghfirah ini seharusnya tidak hanya menjadi bulan peningkatan spiritual, tetapi juga momentum Kebangkitan Ekonomi Ummat,” pungkasnya.(mn)

Loading