Oleh: Ekky Yudistira

Founder Konsorsium Media Politika

ADA sebuah paradoks yang menggantung di langit negeri ini seperti awan yang tak pernah benar-benar hujan. Menyiratkan kesuburan, namun menyimpan kekeringan.

Di bumi yang sama ini, lahir pikiran-pikiran tajam yang mampu membedah dunia dengan ketepatan seorang ahli bedah. Pemuda-pemudi yang hafal Tocqueville sebelum tidur, yang berdebat tentang Rawls di warung kopi, yang menulis esai tentang keadilan struktural di sela-sela shift kerja mereka. Mereka ada. Mereka nyata. Mereka bukan dongeng.

Namun lihatlah, negeri ini masih berjalan dengan cara yang sama. Seperti jam tua yang sekrupnya sudah longgar, tetapi tidak ada yang menggantinya karena semua orang terlalu sibuk mengagumi ukiran pada permukaannya.

Demokrasi. Kata itu diucapkan dengan begitu merdu oleh mereka yang berdiri di podium berlampu sorot. Diukir di prasasti, dicetak di spanduk, dijahit di pidato-pidato yang bertaburan tepuk tangan. Demokrasi, kata yang terdengar seperti simfoni, namun dimainkan di atas panggung yang tiketnya hanya bisa dibeli oleh kalangan tertentu.

Faktanya? Banyak pemuda kritis yang mati suri bukan karena keracunan apatis, melainkan karena kelelahan. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya yang kerap disalahpahami oleh mereka yang berkuasa, yang apatis tidak peduli, yang lelah justru terlalu peduli hingga tubuhnya tidak sanggup lagi menanggung beratnya kepedulian itu.

Yang tersisa di panggung utama adalah para beo dan buzzer, makhluk-makhluk politik yang menguasai seni tepuk tangan terprogram, yang suaranya menggema bukan karena kedalaman argumen, melainkan karena kekuatan pengeras suara yang menempel di punggung kekuasaan.

Pemuda-pemudi kritis itu kini menyerupai Giant Clam (kerang raksasa) yang menutup cangkangnya rapat-rapat di dasar laut. Dunia di atas permukaan mungkin mengira mereka mati. Padahal di dalam sana, mutiara terus terbentuk dalam keheningan.

Mereka bukan tidak peduli. Mereka telah terluka oleh pengalaman berbicara ke tembok yang tersenyum, tembok yang mengangguk, mencatat, lalu melanjutkan apa yang sedang dilakukannya seolah tidak ada yang bersuara. Suara mereka, kata seorang kawan yang pernah duduk di ruang sidang itu, “tidak lebih berarti dari dentuman angin yang terjepit dari pantat kekuasaan yang tuli.”

Dan di sinilah paradoks paling menyakitkan itu bermain. Semakin cerdas seseorang memahami sistem, semakin besar kemungkinan ia memilih untuk tidak ikut bermain di dalamnya.

Ini bukan kekalahan intelektual. Ini adalah rasionalitas yang menyedihkan.

Kita bicara tentang regenerasi kepemimpinan, namun ruang-ruang pengambilan keputusan masih dijaga oleh wajah-wajah yang sama dengan rambut yang kini beruban. Kita bicara tentang inovasi, namun sistem yang ada menghukum mereka yang keluar dari pakem. Kita bicara tentang demokrasi, namun kritik yang jujur lebih sering disambut dengan investigasi daripada introspeksi.

Organisasi-organisasi pemuda pun tak luput dari ironi ini. Didirikan untuk melahirkan pemimpin, namun tak jarang berubah menjadi inkubator loyalitas buta — tempat di mana pertanyaan kritis ditertawakan, dan kepatuhan dihargai lebih tinggi daripada kecerdasan. Sekolah-sekolah kita mengajarkan berpikir kritis di kelas, lalu menghukumnya di halaman.

Maka jadilah generasi yang tumbuh dengan kecerdasan yang dikandangkan.

Di sinilah kisah ini harus berbelok — bukan karena keharusan optimisme yang palsu, melainkan karena kejujuran yang lebih dalam.

Giant Clam tidak menutup diri selamanya. Ia menutup diri untuk bertahan, bukan untuk menyerah. Dan ada perbedaan kosmis di antara keduanya.

Sejarah tidak pernah berubah oleh mereka yang paling keras berteriak di panggung. Sejarah berubah oleh mereka yang bekerja dalam diam, membangun dalam sunyi, dan muncul ketika waktunya tepat. Soekarno membaca di penjara. Mandela menyusun strategi di sel. Para pendiri gerakan bawah tanah mencetak selebaran di ruang sempit yang berbau tinta dan ketakutan.

Maka izinkan saya menawarkan bukan sebuah solusi instan. Karena solusi instan adalah kemewahan yang dijual oleh politisi musiman. melainkan sebuah cara pandang yang berbeda

Pertama, diam yang bermakna lebih kuat dari suara yang hampa. Jika ruang-ruang formal menutup diri dari kritik, bangunlah ruang-ruang informal yang lebih jujur, komunitas, diskusi, gerakan akar rumput, karya seni, literasi digital. Mutiara tumbuh bukan di panggung, melainkan di kedalaman.

Kedua, demokrasi bukan hanya soal memilih setiap lima tahun, ia adalah otot yang harus dilatih setiap hari dalam percakapan, dalam organisasi, dalam cara kita memperlakukan perbedaan pendapat di lingkaran terkecil kita. Mulailah dari sana.

Ketiga, kepada mereka yang masih di dalam sistem, yang masih duduk di ruang-ruang pengambilan keputusan dengan nurani yang belum sepenuhnya tergadai, jadilah retakan pada tembok itu. Satu retakan tidak merobohkan tembok, tetapi air dan waktu akan menyelesaikan sisanya.

Jika kamu adalah Giant Clam yang sedang menutup diri di dasar laut itu tidak apa-apa. Istirahatlah. Kumpulkan tenagamu. Biarkan mutiaramu tumbuh sedikit lebih besar.

Tapi ingatlah satu hal,Kerang yang tidak pernah membuka diri tidak pernah mengubah apa pun.

Negeri ini tidak membutuhkan ribuan pahlawan yang sempurna. Ia membutuhkan cukup banyak manusia biasa yang mau membuka cangkangnya pada saat yang tepat dan berkata dengan tenang, namun jelas. “Aku ada di sini. Aku melihat. Dan aku tidak akan pura-pura tidak tahu.”

Karena demokrasi yang sesungguhnya tidak lahir dari podium. Ia lahir dari keberanian seorang manusia biasa yang memilih untuk tidak diam ketika diam adalah pilihan yang lebih mudah.

Dan selama masih ada satu orang yang memilih demikian — harapan itu belum mati. Ia hanya sedang tumbuh. Dalam sunyi. Seperti mutiara.

Loading