Oleh: Ekky Yudistira
Founder Konsorsium Media Politika
ADA semacam ironi yang mengapung di permukaan air banjir Sangatta—ironi yang bahkan lebih tinggi dari genangan yang merendam dapur-dapur ibu rumah tangga di awal Februari 2026 ini. Ironi itu berbuntulan dari narasi manis yang disebarkan pemerintah daerah: *”Pemkab Kutim Tak Menjauh.”*
Sungguh kalimat yang menyentuh. Hampir setinggi air yang merendam rumah-rumah warga.
Mari kita hitung dengan jari-jari kita yang—untungnya—masih kering. Di Sangatta Utara, 1.682 kepala keluarga tenggelam dalam ketidakpastian. Negara yang “tidak menjauh” itu hadir dengan 800 paket sembako. Aritmétika sederhana memberi tahu kita: satu paket untuk setiap 2,1 keluarga. Mungkin pemerintah mengharapkan warga berbagi dengan jiwa gotong-royong yang luhur—atau mungkin, dalam perhitungan mereka, setengah keluarga tidak terlalu lapar.
Di Sangatta Selatan, matematika belas kasih ini semakin presisi: 700 paket untuk lebih dari 1.700 kepala keluarga. Kurang dari separuh yang terjangkau. Sisanya? Mungkin diharapkan bertahan dengan semangat patriotisme dan doa.
Namun yang lebih memukau adalah bagaimana pemerintah daerah merayakan ketidakcukupan ini dengan tiga artikel kehumasan yang penuh kehangatan. Tiga judul berita yang saling bersahutan, seolah kuantitas publikasi dapat mengompensasi kekurangan paket sembako. *”Bantuan Menjangkau Seluruh RT,”* bunyi salah satu judul—sebuah klaim yang secara teknis benar jika yang dimaksud “menjangkau” adalah sekadar singgah sebentar, bukan benar-benar mencukupi.
Kita patut mengapresiasi kecepatan respons pemerintah. Dua hari setelah air mulai surut, bantuan tiba. Timing yang sempurna—tidak terlalu cepat hingga merepotkan, tidak terlalu lambat hingga terlihat acuh. Cukup pas untuk foto dokumentasi yang bagus dengan latar belakang lumpur yang masih segar.
Yang menarik, banjir 2022 meninggalkan trauma mendalam—trauma yang nyatanya tidak cukup mendalam untuk mendorong investasi serius pada infrastruktur drainase atau sistem peringatan dini yang memadai. Empat tahun adalah waktu yang cukup untuk melupakan, rupanya. Atau mungkin, dalam filosofi pemerintahan kita, trauma adalah guru terbaik yang harus diulang-ulang untuk pembelajaran optimal.
Anak-anak yang tak bisa sekolah, ibu-ibu yang kelabakan di dapur terendam, aktivitas rutin yang terganggu—semua ini adalah bagian dari kurikulum kehidupan yang diberikan alam, dengan anugerah ketidaksiapan pemerintah sebagai nilai tambahannya.

Baznas dan BPBD datang dengan bantuan tambahan, menambal kekurangan yang sejatinya tidak seharusnya ada jika perencanaan awal dilakukan dengan benar. Namun dalam narasi resmi, ini adalah bukti kolaborasi multi-pihak yang baik—bukan pengakuan implisit bahwa pemerintah sendirian tidak cukup mampu.
“Negara tidak menjauh ketika musibah datang mengetuk,” begitu klaim yang dikumandangkan. Mungkin benar. Negara memang tidak menjauh. Ia berdiri di sana, di tepian air, dengan 1.500 paket sembako untuk lebih dari 3.400 keluarga, dengan kamera dokumentasi dan tiga rilis pers yang siap diunggah.
Negara hadir—dengan perhitungan yang cermat tentang berapa minimal bantuan yang bisa diberikan sambil tetap bisa mengklaim telah berbuat sesuatu.
Dan kita, warga yang basah kuyup, diharapkan berterima kasih. Karena bagaimanapun, setengah paket sembako lebih baik daripada tidak sama sekali. Bukankah ini pelajaran tentang bersyukur?
Sangatta akan kering kembali. Air akan surut seperti biasanya. Dan kita akan menunggu—dengan penuh pengertian—hingga hujan berikutnya, banjir berikutnya, dan paket sembako yang “tidak menjauh” berikutnya.
Karena dalam siklus ini, kita telah menemukan ritme yang sempurna: alam membanjiri, rakyat menderita, pemerintah “hadir,” dan narasi tercipta.
*Sampai jumpa di genangan berikutnya.*
![]()

