Catatan Rizal Effendi

ADA yang menarik pada Rapat Paripurna Istimewa DPRD Balikpapan dalam rangka Hari Jadi Ke-129 Kota Balikpapan di Ballroom Hotel Gran Senyiur, Senin (9/2) pagi kemarin. Wali Kota Rahmad Mas’ud (RM) dan Ketua DPRD Alwi Al Qadri sama-sama menyebut Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Sultan Drs H Adji Muhammad Arifin, SE, M.Si.

Mereka memprioritaskan penyebutan nama Sultan. “Yang Terhormat Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura,” kata mereka di awal sambutan masing-masing. Sayangnya Sultan sendiri tak dapat hadir, sebab pada waktu yang bersamaan Sultan tengah merayakan Kaseh Selamat atau HUT kelahirannya yang ke-75 di Kedaton Kutai Kartanegara, Tenggarong.

Soal Sultan ini menjadi peka setelah Presiden Prabowo Subianto terkesan menegur petugas protokol pada peresmian Proyek Perluasan Kilang Minyak (RDMP) Pertamina Balikpapan, Senin (12/1) lalu. Ini berkaitan dengan posisi duduk Sultan yang berada di belakang. “Sultan kok ditaruh di belakang, taruh di depan,” kata Presiden.

Gara-gara itu Gubernur Kaltim H Rudy Mas’ud secara khusus meminta maaf. Sultan sendiri termasuk orang yang bersahaja. Dia tak terlalu mempersoalkan masalah ini secara berlebihan. Pada waktu peringatan HUT Ke-79 Kemerdekaan RI 2024 di Istana Ibu Kota Nusantara (IKN), undangan Sultan malah tidak sampai. Padahal waktu itu Presiden Jokowi mengenakan baju adat Kesultanan Kutai.

Sultan teman seangkatan saya waktu kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Tempo hari saya sempat berbincang dengan Sultan dan ada keinginan Sultan memiliki rumah singgah atau Kedaton Kecil Kesultanan di Balikpapan.

Kabarnya hal itu sudah disampaikan kepada Wali Kota. RM sendiri menyambut baik dan tengah memproses penyiapan lahannya. “Mudah-mudahan rencana ini bisa kita wujudkan,” kata Sultan Arifin penuh harap.

Dalam sejarah Kalimantan Timur, wilayah Balikpapan dulunya termasuk wilayah Kesultanan Kutai. Kesultanan Kutai sendiri berdiri sejak abad ke-13 dan memiliki wilayah yang luas, termasuk Balikpapan, Samarinda dan sekitarnya. Itulah sebabnya nama Bandara Sepinggan pada era Gubernur Awang Faroek Ishak diubah menjadi Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan. Sultan Sulaiman adalah sultan Kutai ke-19, yang memerintah dari tahun 1845 hingga 1899.

Acara Kaseh Selamat Sultan Arifin berlangsung khidmat. Ditandai dengan penampilan tari khas Kesultanan, Tari Topeng Panah Buana dan Tari Kanjar Ganjur dari Kesenian Cahaya Kedaton di bawah binaan Hj Adji Putri Indera Praboeningrat.

Sajian Tari Topeng pada acara HUT ke-75 Sultan Kutai Adji Muhammad Arifin, Senin (9/2/2026).(foto: ist)

Lalu ada sambutan dari Kerabat Kesultanan dilanjutkan sambutan Bupati Kutai Kartanegara. Kemudian ada hikmah milad dan puncaknya pemotongan tumpeng oleh Sultan Arifin didampingi sang permaisuri, Hj Sulastri dengan gelar Adji Raden Puspa Kencana.

Salah satu penerima potongan nasi tumpeng dari Sultan adalah Isran Noor, Gubernur Kaltim 2018-2023. Dia datang bersama Hadi Mulyadi. “Sultan adalah warisan budaya, yang wajib dijaga dan dipelihara. Pahamlah ikam,” kata Isran dengan gaya khasnya.

PERTAMA KALI HADIR

Meski berlangsung di hotel, suasana Rapat Paripurna Istimewa DPRD Kota Balikpapan dalam rangka hut kota berlangsung sederhana. “Acara hut kita memang berlangsung sederhana dan terbatas, karena itu saya mohon maaf bila ada warga kota yang tidak mendapat undangan,” kata Alwi dan Rahmad.

Saya hadir bersama mantan ketua DPRD Balikpapan Andi Burhanuddin Solong yang akrab dipanggil ABS. Ini adalah kehadiran kami yang pertama pada era kepemimpinan Alwi Al Qadri sebagai ketua Dewan. Di samping saya duduk Wakil Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Abdul Waris Muin dan Ketua KADIN Balikpapan Noval Asfihani.

Ketua KADIN Balikpapan Noval Asfihani, mantan ketua DPRD Andi Burhanuddin Solong (ABS), saya, anggota DPRD Kaltim dapil Balikpapan Sabaruddin Panrecalle dan Wakil Bupati PPU Abdul Waris Muin.(foto: ist)

Tak lama kemudian anggota DPRD Kaltim dapil Balikpapan dari Partai Gerindra, Sabaruddin Panrecalle yang sempat duduk di depan, ikut bergabung ke belakang. “Ketulahan saya dengan para senior yang ada di belakang,” katanya setengah bercanda. Di depan saya juga ada anggota DPRD Kaltim, Sigit Wibowo dari Fraksi PAN.

Saya juga sempat berbincang dengan Rektor Universitas Mulia (UM) Prof Dr Ir Muhammad Ahsin Rifa’i, M.Si dan Wakil Rektor Bidang Non-Akademik Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Ir Khakim Ghozali, M.MT. Mereka berdua tampak bersemangat menghadiri Rapat Paripurna HUT Kota. Keduanya berkepentingan ikut memajukan Kota Balikpapan.

Rahmad sempat menyapa saya dan ABS. “Kehadiran mantan wali kota dan ketua DPRD tentu menambah semangat kita dalam membangun Balikpapan dengan visi Balikpapan Kota Global, Nyaman untuk semua dalam bingkai Madinatul Iman,” katanya. Hadir juga mantan wakil wali kota Heru Bambang, yang disebut RM sebagai “tenaga ahli” Pemkot.

Di sela pidatonya, Wali Kota sempat menayangkan wajah wali kota Balikpapan mulai ARS Mohammad, Bambang Sutikno, Imat Saili, Zainal Arifin, Asnawi Arbain, Syarifuddin Yoes, Hermain Okol (Plt), Tjutjup Suparna, Imdaad Hamid, saya (Rizal Effendi) sampai RM sendiri bersama wakilnya, Bagus Susetyo.

Ketika saya akan meninggalkan tempat acara, RM bersama Bagus sempat memanggil saya dan ABS. Mereka penuh semangat mengajak kami foto bersama. Seorang undangan sempat berkomentar. “Wah ini bentuk harmoni yang kita rindukan,” katanya tersenyum.

Asisten III Sekdakot dr Andi Sri Juliarty selaku ketua panitia juga sempat menyapa saya. Demikian juga sejumlah pejabat pemkot. “Terima kasih atas kehadiran Bapak,” kata Andi Sri Juliarty yang akrab dipanggil dr Dio. Acara puncak HUT Kota berlangsung di halaman Pemkot, Selasa (10/2) ini ditandai dengan upacara dan pemberian penghargaan kepada warga prestasi.

Ketika akan menuruni tangga hotel Gran Senyiur saya sempat bertemu Asisten I Sekdakot Drs Zulkifli, M.Si serta Ibu Kisnawati didampingi putranya yang mendapat penghargaan atas keikhlasannya menghibahkan tanah miliknya seluas 1.500 meter persegi, yang dijadikan lokasi SD Negeri 024 Balikpapan Tengah.

Wali Kota Balikpapan menyerahkan penghargaan kepada Ibu Kisnawati, yang menghibahkan tanah untuk sekolah.(foto: ist)

“Mulia betul hati Ibu,” kata saya menyapa. Sebab pada zaman sekarang sangat langka ada warga yang mau menyumbang tanah secara sukarela untuk kepentingan umum.

Yang membuat saya terkejut ternyata dia adalah istri almarhum Robert Effendi, mantan wartawan olahraga Kaltim Post ketika saya menjadi pemimpin redaksi di sana. Masyaallah, Tuhan pasti memberkahi dia dan keluarga atas dedikasinya itu. Aamiin.(*)

Loading