KUTAI TIMUR – Camat Sangatta Selatan, Dewi, memecah 700 paket sembako bantuan dari Baznas dan Dinas Sosial menjadi 2.100 paket agar dapat menjangkau seluruh warga terdampak banjir di wilayahnya. Langkah ini diambil karena jumlah korban yang terdampak jauh lebih banyak dari paket bantuan yang tersedia.

“Dari Baznas 300 paket, dari Dinas Sosial 400 paket. Sementara jumlah data kita itu di angka 1.500-an, ini berkembang masih nambah 200-an lagi, jadi kurang lebih 1.700-an kepala keluarga,” ujar Dewi saat diwawancarai wartawan, Selasa (9/2/2026).

Menurut Dewi, paket bantuan dari Dinas Sosial berisi beras, gula, teh, minyak goreng, kopi, dan sarden. Sementara paket dari Baznas memiliki isi yang hampir sama dengan penggantian sarden menjadi telur, ditambah Indomie.

Untuk mencukupi kebutuhan seluruh warga terdampak, Dewi menjelaskan bahwa pihak kecamatan memecah 700 paket menjadi tiga jenis paket dengan nilai yang setara.

“Paket itu kita pecah menjadi tiga. Yang satu paketnya harusnya isinya beras, telur, minyak goreng dan gula, itu kita pecah. Jadi yang dapat paket minyak goreng dan gula itu tidak dapat beras. Telur kita bagi dua, kita jadikan satu dengan paket Indomie,” jelas Dewi.

Ia merinci, paket pertama berisi 15 butir telur dan 15 bungkus Indomie. Paket kedua terdiri dari kopi, gula, sarden atau teh, plus lima bungkus Indomie tanpa telur. Pembagian ini disesuaikan berdasarkan nilai ekonomis agar tetap adil.

“Kita hanya menyesuaikan nilai beras dengan nilai paket ini harus setara,” tambah Dewi.
Desa Sangatta Selatan Paling Terdampak
Dewi mengungkapkan, wilayah yang paling banyak terdampak banjir adalah Desa Sangatta Selatan, Desa Persiapan Pinang Raya, daerah Lomali, dan sekitarnya.

Meskipun paket bantuan telah didistribusikan, Camat menyatakan masih ada stok cadangan untuk mengantisipasi penambahan jumlah korban.

“Alhamdulillah mencukupi untuk saat ini. Memang ada tambahan untuk Desa Sangatta Selatan, tapi kita sudah antisipasi itu. Kita masih ada stok yang memang nanti akan kita distribusikan setelah Musrembang,” ujarnya.

Terkait kriteria penerima bantuan, Dewi menjelaskan bahwa pihak kecamatan tidak hanya memberikan bantuan kepada warga yang rumahnya terendam air, tetapi juga kepada mereka yang aksesnya terputus karena banjir.

“Standar menurut regulasi yang mengatur terkait bencana itu ketika memang betul murni terendam. Umumnya dari hasil identifikasi kita, memang masyarakat kita itu hanya beberapa rumah dalam satu RT yang betul-betul terendam,” jelas Dewi.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa warga yang tidak dapat keluar rumah karena akses jalan tertutup air juga berhak mendapat bantuan.

“Distribusinya kita tidak mungkin hanya memberikan kepada yang terendam saja. Menurut kami dari kecamatan, yang tidak memiliki akses keluar yang agak sulit pun wajib mendapatkan bantuan,” tegasnya.

Dewi juga menyatakan tidak menyalahkan pemerintah kabupaten karena mereka telah terjun langsung melakukan identifikasi di lapangan. Pihak kecamatan berupaya melakukan penyesuaian distribusi agar bantuan dapat menjangkau seluruh warga yang membutuhkan.(Q)

Loading