DEMAK – Di sebuah sudut Pondok Pesantren Futuhiyyah, di Jalan Suburan Barat Jl. Suburan Timur No.KM 12, Brumbung, Barat, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, sebuah rak kayu berdiri kokoh. Di atasnya, jajaran kitab-kitab tua dengan kertas yang mulai menguning tersusun rapi. Bagi mata awam, itu mungkin hanya tumpukan kertas usang. Namun bagi Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, rak itu adalah saksi bisu dari sebuah jejak panjang tradisi keilmuan yang tak pernah benar-benar padam.

Jumat siang (6/2/2026), Menag sejenak berhenti di hadapan rak tersebut. Tatapannya dalam, menyisir deretan literatur yang selama lebih dari satu abad menjadi penyangga peradaban di pesantren ini. Di sini, di tanah Mranggen, kitab kuning tidak hanya dibaca dan dihafal, tetapi dipertautkan dengan detak jantung realitas sosial yang terus berubah.

Menag Nasaruddin Umar, tampak memperhatikan buku-buku yang sudah dimakan waktu, namun jejak peradaban Pondok Pesantren Futuhiyyah terurai disana.(foto: hms kemenag)

“Pesantren memiliki modal kultural yang kuat, bukan hanya benteng moral, pesantren berpotensi menjadi episentrum peradaban—pusat pembentukan cara berpikir umat.” ujar Nasaruddin Umar di sela-sela Safari Pesantrennya.

Jejak Pembaru dari Balik-Bilik Futuhiyyah bukanlah nama baru dalam peta intelektual Islam di Jawa Tengah. Pengasuh pesantren, KH. Ahmad Faizurrahman Hanif, menceritakan bahwa pondasi pertama diletakkan oleh KH. Abdurrahman bin Qashidul Haq pada tahun 1901. Estafet kepemimpinan kemudian diteruskan oleh sang putra, KH. Muslih bin Abdurrahman.

Kiai Muslih bukanlah sosok yang menutup mata dari kemajuan. Sejarah mencatat, pada tahun 1963, ia mengambil langkah berani dengan mendirikan lembaga pendidikan formal. Saat itu, ia ingin memastikan masyarakat desa tidak perlu menempuh jarak jauh ke kota hanya untuk mengenyam pendidikan n umum.

“Pesantren harus berada di tengah umat tanpa sekat,” tegas KH. Faizurrahman.

Semangat keterbukaan Kiai Muslih disinyalir berakar dari jejaring intelektualnya yang luas. Semasa menimba ilmu di Pesantren Tremas, Pacitan, ia menjalin kedekatan historis dengan Prof. Dr. KH. Mukti Ali, sosok yang kelak menjadi Menteri Agama era Orde Baru. Persahabatan dua tokoh besar ini menjadi bukti bahwa sejak dahulu, bilik pesantren adalah ruang temu bagi gagasan-gagasan besar tentang Islam, kebangsaan, dan masa depan.

Merawat Akar, Menjemput Masa Depan Kini, di bawah langit Mranggen yang tenang, semangat itu tidak luntur. Futuhiyyah bertransformasi menjadi institusi pendidikan lengkap, mulai dari jenjang PAUD hingga Ma’had Aly. Di ruang-ruang kelasnya, metode pengajian kitab klasik tetap berjalan khidmat, namun berdampingan dengan diskusi tematik yang tajam, penguatan literasi digital, hingga wawasan kebangsaan.

Kemandirian santri ditempa melalui nafas al-qawiyyul amîn—sosok yang kuat sekaligus dapat dipercaya. Di pesantren ini, karakter ditumbuhkan sebelum kapasitas diasah; etika dijunjung tinggi sebelum logika diperdebatkan.

Menariknya, Menag Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa menjadi “episentrum peradaban” tidak selalu identik dengan kemegahan fisik atau fasilitas mewah. Peradaban justru menyala perlahan dari hal-hal sederhana yang kerap luput dari sorotan: rak kitab yang dirawat dengan cinta, tradisi belajar yang terjaga, dan ruang dialog yang selalu terbuka lebar.

Di Futuhiyyah, peradaban tidak dirayakan dengan gegap gempita. Ia tumbuh dalam ketekunan santri yang mengaji di bawah lampu temaram, kesetiaan guru yang membimbing tanpa lelah, dan keyakinan kolektif bahwa ilmu adalah jalan pengabdian paling tulus.

Ketika tradisi lama dan pembaruan zaman saling merangkul, Futuhiyyah telah menemukan peran hakikinya. Ia adalah jantung peradaban yang terus memompa ilmu, nilai, dan harapan ke dalam nadi generasi masa depan Indonesia.(rls/mn)

Loading