SAMARINDA – Di sudut Jalan Untung Suropati, tepatnya di area Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Samarinda, sebuah perubahan besar sedang dirajut. Di sana, anak-anak dari keluarga paling prasejahtera kini tak lagi sekadar bermimpi tentang sekolah. Melalui Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 57, negara hadir memberikan segalanya: asrama, seragam, konsumsi, hingga laptop, demi satu tujuan mulia—memutus mata rantai kemiskinan.

Namun, fasilitas fisik yang megah saja tidak cukup. Pendidikan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin ekstrem membutuhkan pendekatan yang lebih dalam daripada sekadar papan tulis dan buku teks. Menyadari hal tersebut, Ikatan Penata Persona Indonesia (IPPRISIA) Kalimantan Timur hadir membawa kesegaran melalui kunjungan kasih pada Rabu (4/2/2026).

Ketua IPPRISIA Kaltim, Marliana Wahyuningrum, melangkah masuk ke aula sekolah dengan satu misi: mengenalkan Program SAPA (Sahabat Aksi Peduli Anak). Program ini bukan hadir untuk menggurui, melainkan untuk menjadi “kakak” bagi para siswa.

“Program SAPA tidak menggantikan peran guru, tetapi hadir sebagai penguat. Kami ingin mendampingi mereka belajar, membantu tugas, sekaligus membangun karakter anak dengan pendekatan yang sangat ramah dan humanis,” tutur Marliana.

Pendidikan di SRT 57 memang bukan pendidikan biasa. Ini adalah program nasional gagasan Presiden Prabowo Subianto yang baru saja diresmikan secara serentak pada Januari 2026 lalu. Sebagai sekolah berasrama, tantangan terbesar bukan hanya pada kurikulum, melainkan pada ketahanan mental para penghuninya—baik siswa maupun gurunya.

Menjawab tantangan itu, Master Trainer IPPRISIA, Endro S. Efendi, turut hadir menawarkan “suplemen” mental. Melalui metode yang menggabungkan pelatihan dan permainan edukatif, Endro menekankan pentingnya resiliensi atau ketangguhan mental. Baginya, seorang pendidik harus memiliki kesadaran penuh dan mental yang sehat agar bisa melahirkan generasi yang kuat pula.

Sisi kemandirian pun tak luput dari perhatian. IPPRISIA juga menyiapkan program pendampingan kewirausahaan. Taufiq, pendamping UMKM dari organisasi tersebut, menyatakan siap membekali siswa dan guru dengan keterampilan usaha yang aplikatif. Tujuannya jelas: agar saat lulus nanti, anak-anak ini memiliki jiwa mandiri dan siap bertarung di dunia luar.

Dukungan ini disambut hangat oleh Kepala SRT 57 Samarinda, Pahrijal. Baginya, kolaborasi lintas sektor adalah kunci kesuksesan sekolah yang baru beroperasi sejak September 2025 ini. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari DP2PA hingga Unit PPA Polresta Samarinda yang turut hadir, menjadi sinyal kuat bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama.

“Kami sangat menyambut baik inisiatif ini. Kami akan menindaklanjutinya dalam kerja sama yang berkelanjutan, terutama untuk penguatan kapasitas guru dan pembentukan karakter murid kami,” ungkap Pahrijal optimistis.

Kini, di bawah atap SRT 57, anak-anak desil 1 dan desil 2 Samarinda tidak lagi merasa ditinggalkan. Dengan dukungan teknologi dan pendampingan hati dari IPPRISIA, mereka sedang dipersiapkan untuk menjadi bukti nyata bahwa kemiskinan bisa dikalahkan oleh pendidikan yang berkualitas dan penuh kasih sayang.(*/mn)

Loading