KUTAI TIMUR – Persoalan pengelolaan sampah di desa-desa Kutai Timur khususnya Dapil 2 menjadi perhatian serius anggota DPRD dr. Novel Tyty Paembonan. Keluhan dari berbagai kepala desa terkait minimnya fasilitas pengelolaan sampah mendorong legislator ini untuk mendesak pemerintah daerah memberikan dukungan lebih serius.

“Saya kemarin berkomunikasi dengan beberapa kepala desa di Dapil 2. Mereka mengeluhkan masalah kebersihan, sampah. Yang dibutuhkan adalah support untuk lokasi TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) dan unit kendaraan,” ungkap dr. Novel. Rabu (04/02/2026).

Menurutnya, permasalahan utama yang dihadapi desa-desa adalah keterbatasan lahan untuk TPST dan minimnya armada pengangkut sampah. Meski beberapa desa telah memiliki roda tiga, kapasitasnya sangat terbatas untuk mengangkut volume sampah yang ada.

“Yang mereka butuhkan sekarang adalah unit truk sampah di tiap desa untuk mempercepat mobilisasi sampah. Sistem open dumping sudah dilarang, sampah harus dipilah,” jelasnya.

Dr. Novel menegaskan bahwa penanganan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah kota, tetapi harus menjangkau seluruh wilayah. “Kutai Timur bukan hanya Kota Sangatta, tapi keseluruhan 140 desa kelurahan. Pemerintah melalui SKPD terkait harus punya tanggung jawab ke kecamatan sampai ke desa,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya pendekatan promotif melalui sosialisasi pengelolaan sampah hingga tingkat RT. “Sampah ini sebenarnya sahabat kita, bukan musuh kita. Dari rumah sudah harus diajarkan memilah, yang plastik, organik, non-organik,” ujarnya.

Program bank sampah di tingkat RT juga dianggap penting untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Dr. Novel mendesak agar pengelolaan sampah dilakukan secara terintegrasi dan komprehensif, melibatkan semua pihak dengan koordinasi yang baik antara program desa dan Dinas Lingkungan Hidup, sehingga tidak terjadi pemborosan anggaran.(Q)

Loading