KUTAI TIMUR – Meski secara keseluruhan infrastruktur dasar di Desa Bukit Makmur sudah memadai, masih ada dua RT yang belum menikmati air bersih dan salah satunya juga belum teraliri listrik. Kepala Desa Bukit Makmur Adventus Echo Lenawa mengungkapkan bahwa kendala utama adalah kondisi geografis dan keterbatasan regulasi.

RT 14 menjadi wilayah yang paling terkendala. Warga di RT ini tinggal tersebar di area perkebunan dengan jarak antar rumah yang sangat berjauhan, mencapai 1-2 hektar per rumah. Kondisi ini membuat biaya operasional untuk menyalurkan listrik dan air menjadi sangat tinggi.

“Jarak antara rumah dengan rumah itu berjauhan, sangat-sangat berjauhan. Satu di sini, nanti satu di sana, menyebar karena mereka di kebun-kebun,” jelas Adventus. Rabu (04/02/2026).

Pemerintah desa pernah menawarkan solusi dengan membeli genset menggunakan dana RT, namun warga keberatan karena biaya operasional yang tinggi. Alternatif lain adalah membeli tandon air untuk dibagikan, namun terbentur regulasi yang mengharuskan pembuatan tandon komunal dengan sistem pipa distribusi.

“Dengan kondisi real di lapangan, operasional untuk itu pasti kita beli pipa yang sangat panjang dan banyak. Perawatannya lagi nanti mau seperti apa,” ungkap Adventus.

Untuk RT Air Putih, solusinya lebih optimis. Pembangunan embung sudah progres dan di tahun 2026 akan dilanjutkan dengan pembelian instalasi pipa menggunakan Bankeudes.

“Kalau listriknya sudah masuk, mungkin besok sudah on juga,” kata Adventus penuh harap.(Q)

Loading