TANGERANG SELATAN – Di balik dinding-dinding kelas Raudhatul Athfal (RA), jemari para guru dengan sabar menuntun generasi mungil mengenal huruf dan karakter. Pengabdian sunyi ini mendapat sorotan khusus dari Wakil Menteri Agama, Romo Syafii, yang menegaskan bahwa negara tidak boleh membiarkan perjuangan para pendidik anak usia dini ini berjalan sendirian.

Hadir dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal (PD IGRA) Tangerang Raya pada Sabtu (31/1/2026), Romo Syafii, membawa kabar segar mengenai masa depan profesionalisme guru RA. Ia memasang target ambisius: pada tahun 2028, seluruh guru RA di Indonesia harus sudah menyandang status tersertifikasi.

“Kami telah menggagas agar seluruh guru RA, ditargetkan pada 2028 semuanya sudah tersertifikasi melalui program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dalam jabatan,” ujar Romo di hadapan ratusan pengurus IGRA se-Tangerang Raya.

Perjuangan untuk Kesejahteraan Bagi Romo, sertifikasi bukan sekadar urusan administratif, melainkan jembatan menuju pengakuan negara atas profesionalisme guru. Ia mengakui bahwa selama ini banyak guru RA, terutama non-ASN, yang mengabdi dengan keikhlasan luar biasa meski di tengah keterbatasan honor dan fasilitas.

“Pengabdian guru RA tidak boleh berjalan sendiri tanpa kehadiran negara. Karena itu, kesejahteraan dan insentif akan terus kami perjuangkan,” tegasnya. Ia pun meminta pengurus IGRA di tingkat daerah untuk proaktif memvalidasi data guru agar tak ada lagi pendidik yang terlewat dalam usulan PPG setiap tahunnya.

Pilar Menuju Indonesia Emas 2045 Narasi besar yang dibawa Wamenag dalam pertemuan ini adalah kaitan erat antara ruang kelas RA dengan visi “Indonesia Emas 2045”. Menurutnya, mimpi Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia mustahil terwujud tanpa pondasi SDM yang kuat sejak dini.

Ia mendorong agar RA bertransformasi menjadi pusat pendidikan holistik-integratif, di mana anak-anak tidak hanya belajar secara formal, tetapi juga ditempa karakter, nilai sosial, hingga spiritualnya.

“Dasar dari kemajuan bangsa itu adalah gizi, pendidikan, dan karakter anak-anak kita hari ini. Dan penentu utamanya adalah para guru RA,” imbuhnya.

Penghargaan untuk Dedikasi yang Sunyi Menutup arahannya, Romo Syafii memberikan apresiasi mendalam bagi para guru yang seringkali bekerja di luar jangkauan sorot kamera publik. Ia menyebut dedikasi mereka sebagai kerja-kerja peradaban yang sangat vital.

“Mungkin apa yang Bapak dan Ibu lakukan tidak selalu terlihat dan tidak selalu terdengar. Tetapi sejatinya, masa depan bangsa sedang dirajut di ruang-ruang kelas RA,” tutupnya dengan nada haru.

Acara yang berlangsung khidmat di Tangerang Selatan ini turut dihadiri oleh Kepala Kankemenag Kota Tangerang Selatan serta jajaran pengurus IGRA dari Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang, yang berkomitmen menyelaraskan langkah demi kualitas pendidikan anak bangsa.(rls/mn)

Loading