KUTAI TIMUR – Sektor peternakan di Desa Bukit Makmur masih dikelola secara tradisional, meskipun memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Kepala Desa Adventus Echo Lenawa mengungkapkan bahwa di desanya terdapat berbagai jenis ternak seperti sapi, kambing, babi, dan ikan air tawar.
“Ternak di sini banyak. Ada ternak sapi, ternak babi, ada juga ternak kambing. Kalau ternak ikan tawar juga ada, tapi kelompok-kelompok kecil saja,” ungkap Adventus, Rabu (28/01/2026).
Sistem pengelolaan yang masih tradisional terlihat dari budidaya ikan air tawar yang masih mengandalkan cara manual. Para peternak ikan menggali kolam sendiri dan mengisi bibit tanpa menggunakan sistem modern seperti bioflok ataupun sistem kincir air untuk budidaya skala besar.
Meski demikian, ada terobosan menarik dalam pengolahan limbah ternak. Salah satu kelompok tani di Bukit Makmur telah berhasil mengolah kotoran kambing menjadi pupuk kompos dengan bimbingan CSR dari PT KPP.
“Sudah berhasil juga boleh dibilang, karena beberapa ton pupuknya sudah sempat dijual,” kata Adventus dengan bangga.
Program ini menjadi solusi alternatif bagi petani yang kesulitan memperoleh pupuk. Selain mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, pengolahan kotoran kambing juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi peternak.
Berbeda dengan beberapa desa tetangga yang telah mengembangkan biogas dari kotoran sapi untuk mengurangi ketergantungan pada LPG, Bukit Makmur lebih fokus pada produksi pupuk kompos dari kambing.
“Ke depan, pemerintah desa merencanakan program penggemukan sapi sebagai bagian dari upaya menghasilkan Pendapatan Asli Desa. Program ini diharapkan dapat mengangkat sektor peternakan menjadi salah satu pilar ekonomi desa yang lebih modern dan produktif,” tutupnya.(Q)
![]()

