Catatan Rizal Effendi

JANGAN lupa dua hari lagi. Yaitu, Kamis, 29 Januari 2026. Ada pemutaran film menarik di seluruh bioskop di Indonesia terutama di Kalimantan. Mau tahu? Judulnya “Kuyank” yang disutradarai anak Banjar yang mempunyai ngaran Johansyah Jumberan.

Johan asli urang Banjar. Kalau bapander R-nya “betagar.” Tapi dia hebat. Mengawali kariernya dari penulis skenario. Film pertamanya meledak dan heboh. Judulnya “Saranjana” kota gaib di kawasan Pulau Laut, Kota Baru, Kalsel. Jumlah yang menonton di atas satu juta orang.

“Kuyank” dibaca kuyang sepertinya bakal menyamai “Saranjana”. Bahkan bisa lebih. Karena sudah viral di jagat media sosial. Ini cerita yang memang menarik dan penuh mistis. Hampir semua orang tahu, kuyang adalah sejenis hantu yang melegenda terutama di Kalimantan Selatan. Dia suka menghisap darah wanita hamil, orang yang tengah melahirkan atau anak-anak balita.

Dalam film “Kuyank” Rusmiati yang diperankan Putri Intan Kasela terpaksa mempelajari ajian kuyang demi kecantikan dan keabadian. Ini gara-gara mertuanya mendorong sang suami, Badri (diperankan Rio Dewanto) disuruh poligami alias babini dua untuk mendapatkan keturunan. Rusmiati gaer kehilangan Badri, sehingga dia nekat menjadi kuyang. Ceritanya menjadi seru karena Rusmiati “Kuyank” akhirnya diburu masyarakat, sementara Badri berusaha melindungi istrinya yang sangat dia cintai.

Meski bergenre film horor, tapi “Kuyank” juga menghibur. Banyak adegan dan dialog yang mengundang tawa khususnya bagi mereka yang mengerti bahasa Banjar. Ada istilah bungas, yang menggambarkan wanita cantik. Ada lelaki baung yang menggambarkan lelaki mata keranjang atau lanji.

Sutradara “Kuyank”, Johansyah Jumberan, Senin kemarin ada di Balikpapan. Dia datang bersama dua pemain yaitu Jolene Marie dan Dayu Wijanto. “Tadinya Rio Dewanto mau datang. Tapi teralang jadwal syuting sinetron yang padat,” ujarnya.

Jolene Marie adalah ratu kecantikan, penyanyi dan runner-up kontes Puteri Indonesia 2019. Dia dilahirkan di Santa Ana, California. Dalam “Kuyank”, dia berperan sebagai Husnah, yang mengantarkan Rusmiati menjadi kuyang. Dia juga kuyang. Sedang Dayu Wijanto adalah orang Jawa yang menyukai bidang seni dan olahraga. Pernah tinggal di New York dan pernah bekerja dengan BJ Habibie. Dia banyak ikut membintangi film nasional. Dalam “Kuyank” dia berperan sebagai Hajjah Saidah, ibunda Badri. Tampil norak dengan tangan dan leher penuh perhiasan emas. Maklum, ceritanya mereka itu keluarga pedagang emas.

Johan sempat singgah di rumah tokoh senior Banjar Balikpapan, pengusaha H Redy Asmara di Balikpapan Baru. Di situ ada juga saya dan beberapa tokoh Banjar lainnya. Ada Bu Titis, Bu Erna, Rudi, H Syukur, Yatim, dan lainnya. Sambil menikmati beberapa wadai banjar, Johan bekesah sekitar film “Kuyank” yang segera tayang di seluruh bioskop di Tanah Air.

Johan sempat membagi kaus dan pin “Kuyank” kepada H Redy. Ada juga parfum “Kuyank”. “Biar taingat terus dengan film ‘Kuyank’ dan semua mau menonton,” ajaknya.
Menurut Johan, penggarapan film “Kuyank” benar-benar penuh perjuangan. Para pemain dia angkut dari Jakarta dan berdiam sebulan di Banjar. Biar mengerti budaya dan bahasa Banjar. Propertinya tidak tanggung-tanggung. Beratnya sekitar satu setengah ton. “Semua kita bawa agar film ‘Kuyank’ benar-benar bisa ditonton dan menarik,” ujarnya.

H Redy meyakini film “Kuyank” bakal sukses. Tidak saja disukai orang Banjar, tapi juga masyarakat Indonesia lain. Kuyang itu mirip parakang di Sulawesi Selatan atau leak di Bali.

Untuk memberikan dukungan, H Redy memborong seribu tiket Kuyank. Nanti akan dia bagi gratis kepada semua anak buah dan pekerjanya. “Biar semua bisa menonton dan film ‘Kuyank’ sukses di Tanah Air terutama Kalimantan,” katanya bersemangat.

H Redy Asmara bersama sutradara Johansyah Jumberan dan Jolene Marie serta bubuhan Banua Balikpapan setelah nonton bareng film “Kuyank” malam tadi.

Tadi malam Johansyah mengajak H Redy dan bubuhan Banua Balikpapan menonton pemutaran perdana film “Kuyank” di XXI Balcony. Ratusan orang datang dan memuji film “Kuyank” memang menarik dan menunjukkan ada anak Banjar yang jago maulah film berlatar belakang kisah budaya daerah.

Dari Balikpapan, hari ini Johan bersama dua artisnya meneruskan kunjungan promosinya ke Samarinda. Dia tahu orang Samarinda juga tak sabar untuk menonton “Kuyank”. “Ajak bubuhan kita semua menonton Kuyank. Sudah waktunya film Kalimantan juga berjaya di layar nasional,” kata Johan bahimat.

Sutradara Johan dan dua pemain “Kuyank” mendapat cenderamata selempang manik-manik dari H Redy.

USUL FILM “BUAYA KUNING”

Sebagai urang Kalua, H Redy tertarik mengajak Johansyah menggarap film Buaya Kuning. Dia siap bekerjasama karena cerita buaya kuning juga melegenda di Kalimantan Selatan termasuk di wilayah Kalimantan lainnya.
Kabarnya masih ada masyarakat tradisional Banjar yang maharagu buaya kuning. Adat ini masih dilestarikan di sepanjang Sungai Tabalong oleh masyarakat Kalua dan Amuntai. Sebagian orang percaya bahwa buaya kuning adalah jelmaan para datu yang telah hidup sejak zaman Putri Junjung Buih. Ada juga yang mendapatkan buaya kuning melalui kembaran saat lahir.

Bagi orang Banjar, buaya kuning dipercaya sebagai makhluk gaib yang melakukan perjanjian dengan manusia berkaitan dengan ilmu kesaktian, kemakmuran atau kekayaan hingga panjang umur. Sebagai gantinya manusia dan anak cucunya kelak harus merawat dan memelihara buaya kuning tersebut melalui ritual Malabuh.
Upacara Malabuh itu ditandai dengan melarungkan sejumlah makanan di antaranya lakatan (ketan), hintalu bejarang (telur rebus), pisang, bubur habang dan bubur putih serta sejumlah makanan lainnya. Kalau ini tidak dilakukan, maka bakal ada anggota keluarga yang mengalami sakit atau bahkan kematian.

Menurut H Redy, jika legenda buaya kuning difilmkan, dia optimistis juga meledak di pasaran. Karena ceritanya sangat menarik dan penuh aroma mistis.

Johan sendiri mengaku tertarik memfilmkan buaya kuning, apalagi mendapatkan dukungan dari pengusaha H Redy. “Kita perlu mengangkat berbagai cerita dan budaya Banjar, biar orang tahu bahwa suku Banjar di Kalimantan juga kaya dengan budayanya termasuk cerita mistisnya,” kata Johansyah dengan wajah bahagia.

Sepulang nonton film “Kuyank” malam tadi, saya tidur dengan lampu yang terang. Saya takut tengah malam kuyang masuk ke kamar saya. Soalnya sejak dulu saya takut hantu. Ada kawal begayaan. “Kada usah takut, kuyang kada mau mahisap darah orang tuha. Darahnya pahit, kuyangnya bisa keracunan” katanya tertawa.(*)

Loading