KUTAI TIMUR – Desa Bukit Permata, Kecamatan Kaubun, Kabupaten Kutai Timur berhasil keluar dari jerat kemiskinan ekstrem berkat komoditas perkebunan kelapa sawit yang menjadi andalan mayoritas warganya.

Kepala Desa Sutrisno menyampaikan, taraf ekonomi masyarakat Bukit Permata saat ini sudah bervariasi dengan tidak ada lagi tingkat kemiskinan, apalagi kategori miskin ekstrem. “Untuk tingkat kemiskinan secara sudah tidak ada lagi. Apalagi yang kemarin ada miskin ekstrem, itu kami sudah tidak ada lagi,” tegas Sutrisno.

Penghasilan petani kelapa sawit di desa ini bahkan sebagian besar telah melampaui Upah Minimum Regional (UMR) yang saat ini mencapai Rp4 juta lebih. “Penghasilan warga sini yang mempunyai kebun sawit itu mungkin lebih dari itu. Tapi saya rasa untuk standar upah minimum saja itu sudah tercapai,” ungkapnya.

Mayoritas warga Desa Bukit Permata adalah petani kelapa sawit rakyat dengan luas lahan produktif mencapai 100-150 hektar. Selain petani mandiri, sebagian masyarakat juga memiliki kebun plasma yang bermitra dengan perusahaan melalui MOU.

Meski kondisi ekonomi membaik, pemerintah desa tetap selektif dalam menentukan penerima bantuan sosial. Sutrisno menjelaskan, untuk program seperti Bantuan Langsung Tunai, pemerintah desa tidak pernah menentukan sendiri penerimanya.

“Kami undang semua ketua RT untuk mengadakan musyawarah desa bersama DPD. Jadi semua itu atas usulan ketua RT yang sudah menyeleksi bahwa si A ini memang layak,” jelasnya.

Proses verifikasi dilakukan secara berkala setiap tahun untuk memastikan bantuan tepat sasaran. “Di tahun berikutnya, itu pun tidak serta-merta ditetapkan selamanya. Kita verifikasi lagi,” tambah Sutrisno.(Q)

Loading