KUTAI TIMUR – Desa Bukit Makmur memiliki beragam produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berkualitas, namun terkendala dalam hal pemasaran. Kepala Desa Adventus Echo Lenawa mengungkapkan bahwa produk-produk lokal desanya masih kesulitan menembus pasar yang lebih luas.
Beberapa produk unggulan UMKM Bukit Makmur antara lain keripik jamur, keripik tahu, produk olahan pisang, dan kain tenun. Produk-produk ini telah mendapat pendampingan dari perusahaan melalui program CSR, namun pemasarannya masih terbatas di sekitar desa dan wilayah Kutai Timur.
“Masih di sekitar sini saja. Kendalanya, pertama kami belum punya pasar yang luas,” jelas Adventus belum lama ini.
Akibat keterbatasan pasar, para pelaku UMKM menjadi kurang termotivasi untuk terus produktif. Mereka tidak berani memproduksi dalam jumlah besar karena khawatir tidak laku terjual. Kondisi ini membuat potensi UMKM di Bukit Makmur tidak berkembang optimal.
Untuk produk kain tenun, pemerintah desa memiliki visi menjadikannya sebagai produk ikonik Desa Bukit Makmur. “Saya mengarahkan kepada pelaku UMKM untuk menenun ala Flores tapi dengan motif Kutai Timur yang baru, sehingga pasarnya bisa lebih luas,” ungkapnya.
Pemerintah desa berencana melakukan pembinaan melalui RT-RT dan menyediakan peralatan tenun dari anggaran dana RT. Selain itu, upaya digitalisasi juga mulai diwacanakan untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Desa Bukit Makmur telah memiliki website dan grup Facebook yang cukup aktif. Adventus berharap platform digital ini dapat dimanfaatkan para pelaku UMKM untuk memasarkan produk mereka ke pasar yang lebih luas, bahkan hingga keluar provinsi dan mancanegara.
“Kami berharap melalui platform sosmed ini UMKM di Desa Bukit Makmur dapat dikenal secara luas hingga mancanegara,” tutupnya. (Q)
![]()

